Scroll untuk baca artikel
BeritaBogor

SEKOLAH BAYI

5
×

SEKOLAH BAYI

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Bogor

SEKOLAH BAYI

Oleh: Nurul Jannah

“Anak kecil belajar menggenggam dunia. Orang dewasa belajar merelakan waktu berlalu. Di antara keduanya, cinta tumbuh menjadi kenangan yang tak pernah menua.”

Baru delapan bulan, Alhamdulillah, Rhealine, cucu kesayangan, sudah sekolah!

Sabtu siang, pukul 12.00, aku ikut mengantar Rhea bersama ayah dan ibunya ke Kiddie Land Bogor.

Sekolahnya hanya dua kali seminggu, setiap pertemuan kurang dari satu jam. Cukup 45 menit. Tetapi keseruannya? Wah, luar biasa! Empat bayi, dua guru, aneka mainan warna-warni, dan lagu-lagu ceria khas anak-anak. Tidak ada PR, ujian, apalagi revisi tugas. Benar-benar sekolah impian!

Rupanya, yang bersemangat berangkat sekolah bukan hanya bayinya. Orang-orang dewasa, sang pengantar, pun tak kalah antusias!

Sebelum masuk kelas, kami wajib mengenakan kaus kaki. Empat bayi berkumpul dengan ekspresi berbeda. Ada yang antusias, ada yang sibuk mengamati teman, dan ada pula yang lebih tertarik pada mainan. Belum pandai bicara, tetapi wajah mereka sudah punya seribu cerita!

Ada satu bayi yang hampir setengah jam menangis, padahal kelasnya hanya 45 menit! Guru dan pendamping bergantian menenangkannya.

Namanya juga bayi. Ada yang langsung menikmati suasana baru, ada pula yang perlu waktu dan pelukan untuk merasa aman.

Dua ibu guru memandu kegiatan dengan sabar dan ceria. Lagu-lagu dinyanyikan, gerakan diperagakan, dan tangan-tangan mungil diajak meraih, menggenggam, serta menyentuh berbagai benda. Ada yang langsung beraksi, ada pula yang menatap alat peraga dengan wajah serius, seolah sedang menimbang-nimbang tugas dari Bu Guru.

Puncak keseruan datang saat permainan es dimulai. Bayi-bayi diajak mengenal sensasi dingin dengan pendampingan guru. Ekspresi mereka sungguh menggemaskan. Seolah sedang rapat penting, “Ini benda apa, sih? Kok dingin? Bisa dimakan, nggak?”

Aku tersenyum membayangkan isi kepala mereka. Rupanya, sebongkah es pun bisa menjadi bahan penelitian yang sangat serius bagi para bayi!

Di tengah keriuhan itu, mataku terus mengikuti Rhea. Ia melihat mainan, mencoba mengulurkan tangan, lalu berusaha menggenggam benda di hadapannya. Sesekali wajahnya tampak begitu serius, seolah sedang memecahkan persoalan besar. Duhai, Rhea! Baru juga delapan bulan, seperti sudah sangat sibuk menjelajahi dunianya sendiri.

Aku bahagia menikmati tingkah polahnya. Namun, ketika menyaksikan jemari mungil itu meraih mainan, kehangatan tetiba memenuhi seluruh rongga dada. Rasanya baru kemarin Rhea tertidur dalam pelukan. Kini, ia sudah punya sekolah, guru, dan teman-teman kecilnya sendiri.

Keriuhan kelas perlahan membawaku pada kenangan tentang perjalanan waktu. Melihat Rhea belajar meraih dan menggenggam, aku teringat saat dahulu mendampingi Afnan dan Jihan mengenal dunia, menuntun langkah mereka, dan menyaksikan mereka tumbuh.

Kini, saat melihat Afnan mendampingi gadis kecilnya, aku merasakan déjà vu, seperti melihat kembali anak kecil yang dulu aku gendong.

Anak kecil itu sekarang telah menjadi ayah, yang menggendong gadis kecilnya. Waktu ternyata tidak pernah memutus kasih; ia meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dulu aku belajar menjadi ibu; kini aku belajar menjadi eyang putri (Uti) sembari menyaksikan Rhea tumbuh dalam kasih sayang ayah ibunya.

Aku memandang kelas kecil itu sekali lagi. Ada yang sibuk bermain, ada yang serius mengamati, dan ada pula yang masih menangis dalam pelukan.

Para bayi belajar motorik, sementara kami belajar tentang kesabaran, rasa syukur, dan kebahagiaan yang hadir melalui hal-hal kecil dan sederhana.

Di tengah kegiatan yang singkat itu, aku menyadari betapa berharga setiap tahap pertumbuhan Rhea.

Maka, izinkan Uti menikmati lembutnya jemari kecilmu yang mencari pegangan, mata beningmu yang penuh rasa ingin tahu, dan tawa kecilmu yang membuat hari ini terasa begitu indah. Masa kecilmu terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Dan kelak, ketika kakimu sudah lincah berlari dan duniamu semakin luas, Uti akan merindukan Sabtu sederhana ini. Kaus kaki mungilmu, permainan es, lagu-lagu ceria, wajah seriusmu saat menggenggam mainan, serta ayah dan ibumu yang bahagia mendampingimu akan menjadi kenangan yang menghangatkan hati.

Hari ini Rhea belajar menggenggam dunia, sementara Uti belajar menikmati setiap langkah pertumbuhanmu.

Dan jika kelak kamu membaca tulisan ini, ketahuilah, jauh sebelum kamu pandai memanggil “Uti”, namamu sudah memenuhi doa-doa Uti.

Dahulu Uti menggenggam tangan ayahmu. Hari ini, Uti menyaksikan ayahmu menggenggam tanganmu. Kelak, ketika tangan kecilmu tak lagi membutuhkan pegangan, semoga doa-doa Uti tetap menemanimu ke mana pun langkahmu menuju.

Terima kasih, Rhea. Kamu memberi Uti kesempatan untuk menikmati keajaiban masa kecil dan mensyukuri setiap detik kebersamaan.

Bogor, 25 Oktober 2026