Scroll untuk baca artikel
Cerita BersambungCERPENSerba SerbiSerial cerita viral DBN

SERI 5 : BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

23
×

SERI 5 : BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

Sebarkan artikel ini

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

Seri 5 — TAMAT

Oleh: Kibagus Arfan H

Malam telah turun ketika Rafan dan Kirana masih berdiri di bawah pohon trembesi.

Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Dua puluh tahun telah berlalu.

Dua puluh tahun pula cinta itu bertahan dalam diam.

Rafan menatap Kirana.

“Jadi… siapa sebenarnya orang itu?”

Kirana menggenggam tangannya semakin erat.

“Namanya Adrian.”

“Dan dia?”

“Orang yang dulu terlibat dalam kecelakaan itu.”

Rafan terdiam.

“Bukankah dia sudah meninggal?”

Ayah Kirana menggeleng.

“Tidak.”

Suara itu terdengar berat.

“Dia selamat. Tetapi sejak malam itu, dia menghilang.”

“Kenapa?”

“Karena dia tahu dirinya telah melakukan kesalahan.”

Rafan menatap Kirana.

“Kesalahan apa?”

Kirana mengusap air matanya.

“Malam itu, Adrian sebenarnya ingin mencelakakan ayahku. Tetapi kendaraan yang digunakan justru kehilangan kendali.”

Rafan membeku.

“Dan aku?”

“Kau berada di tempat yang salah… pada waktu yang salah.”

Kirana menunduk.

“Aku melihat semuanya.”

“Lalu kenapa kau pergi?”

Air mata Kirana kembali mengalir.

“Karena Adrian mengancam akan menyalahkanmu jika aku tidak meninggalkanmu.”

Rafan terdiam lama.

Tiba-tiba semua potongan masa lalu terasa menemukan tempatnya.

Perpisahan yang selama ini ia anggap sebagai pengkhianatan…

ternyata adalah pengorbanan.

“Kirana…”

“Hmm?”

“Kenapa kau masih memakai cincin itu?”

Kirana tersenyum di antara air matanya.

“Karena aku tidak pernah menganggap janji kita selesai.”

Rafan menatap cincin tersebut.

“Dua puluh tahun…”

“Ya.”

“Dan selama itu kau menungguku?”

Kirana mengangguk.

“Bukan menunggu kau datang.”

Ia tersenyum lirih.

“Aku hanya menunggu Tuhan mempertemukan kita kembali… jika memang kita masih ditakdirkan.”

Rafan menarik napas panjang.

Kemudian perlahan menggenggam tangan Kirana.

“Sekarang aku sudah di sini.”

Kirana menatapnya.

“Ya.”

“Dan aku tidak ingin pergi lagi.”

Air mata Kirana jatuh.

Namun kali ini bukan karena kesedihan.

Melainkan karena sebuah penantian akhirnya menemukan jawaban.

Di kejauhan, ayah Kirana berdiri diam.

Ia tersenyum kecil.

Kemudian berjalan meninggalkan keduanya.

Sebelum pergi, ia hanya berkata,

“Maafkan aku.”

Rafan menoleh.

Kirana mengangguk.

“Sudah.”

Malam semakin sunyi.

Rafan dan Kirana kembali berdiri di bawah pohon trembesi yang sama.

Tempat yang pernah menjadi saksi perpisahan mereka.

Kini menjadi saksi sebuah pertemuan kembali.

Rafan tersenyum.

“Lucu ya…”

“Apa?”

“Kita kehilangan dua puluh tahun hanya karena sebuah rahasia.”

Kirana menatap danau.

“Mungkin bukan kehilangan.”

Rafan menoleh.

“Lalu?”

Kirana tersenyum.

“Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki.”

Ia menyentuh cincin di jarinya.

“Tetapi tentang bertahan… bahkan ketika kita tidak tahu apakah penantian itu akan berakhir.”

Rafan mengangguk.

Kemudian berkata pelan,

“Kalau begitu, setelah dua puluh tahun…”

Kirana menatapnya.

“Sekarang?”

Rafan tersenyum.

“Sekarang giliran kita menulis cerita yang baru.”

Kirana tersenyum.

“Tanpa rahasia?”

“Tanpa rahasia.”

“Tanpa perpisahan?”

Rafan menggenggam tangannya.

“Semoga.”

Kirana tertawa kecil.

“Jangan bilang semoga.”

“Kenapa?”

“Bilang saja…”

Ia menatap mata Rafan.

“…kita akan berusaha.”

Rafan mengangguk.

“Kita akan berusaha.”

Angin malam berembus lembut.

Daun trembesi berguguran perlahan.

Satu daun jatuh tepat di antara mereka.

Rafan mengambilnya.

Kemudian tersenyum.

“Dulu tempat ini menjadi saksi kita berpisah.”

Ia memandang Kirana.

“Mulai malam ini…”

Rafan meletakkan daun itu di telapak tangan Kirana.

“…biarkan tempat ini menjadi saksi bahwa kita memilih untuk tidak menyerah lagi.”

Kirana memejamkan mata.

Senyumnya mengembang.

Dua puluh tahun telah berlalu.

Cinta mereka pernah hilang dalam jarak.

Terkubur dalam rahasia.

Tersesat dalam kesalahpahaman.

Namun ternyata…

cinta yang benar-benar ditanam dalam doa tidak selalu mati ketika dipisahkan waktu.

Kadang ia hanya menunggu.

Menunggu hati menjadi lebih dewasa.

Menunggu luka menjadi pelajaran.

Menunggu takdir menemukan jalannya.

Dan ketika akhirnya dua hati itu kembali dipertemukan…

mereka tidak lagi bertanya,

“Mengapa kita pernah berpisah?”

Melainkan…

“Mengapa kita masih saling menemukan setelah selama ini?”

Di bawah pohon trembesi itu…

Rafan dan Kirana berjalan berdampingan meninggalkan tepian danau.

Tidak lagi sebagai dua orang dari masa lalu.

Tetapi sebagai dua hati yang memilih memberikan kesempatan kedua kepada cinta.

Sementara cincin di jari Kirana tetap berkilau diterpa cahaya bulan.

Cincin yang selama dua puluh tahun menjadi simbol penantian.

Kini…

menjadi simbol sebuah cinta yang akhirnya pulang.

TAMAT.

“Ada cinta yang tidak kalah oleh waktu.

Ia hanya diam… menunggu Tuhan menyelesaikan kalimat terakhirnya.”