Duta Berita Nusantara | Jakarta
SETELAH KNALPOT
Oleh: Nurul Jannah
Bayangkan seorang anak berangkat sekolah di tengah kemacetan. Di sekelilingnya, ratusan kendaraan menyala, mengeluarkan asap yang tak selalu terlihat, tetapi ikut memenuhi udara yang dihirupnya. Anak itu tidak pernah memilih jenis kendaraan yang melintas. Namun, paru-parunya ikut menanggung akibat dari pilihan transportasi orang dewasa.
Benarkah mobil listrik lebih baik bagi lingkungan? Apakah lebih hemat bagi pemiliknya? Dan mengapa dunia, termasuk Indonesia, perlu beralih ke kendaraan listrik?
Jawabannya tidak sesederhana mengganti bensin dengan listrik.
Apa yang Sebenarnya Berubah?Mobil listrik menggunakan motor listrik dan baterai untuk bergerak, menggantikan mesin pembakaran yang menggunakan bensin atau solar. Karena tidak memiliki emisi gas buang dari knalpot, mobil listrik membantu mengurangi pencemaran udara langsung di jalan, terutama di kawasan padat kendaraan.
Namun, mobil listrik bukan kendaraan tanpa jejak lingkungan. Listrik untuk mengisi baterainya harus diproduksi, sementara pembuatan baterai membutuhkan mineral, energi, dan proses industri.
Jadi, mobil listrik bukan kendaraan yang sepenuhnya bersih. Ia adalah kesempatan untuk membuat sistem transportasi menjadi lebih bersih, asalkan seluruh rantai energinya ikut diperbaiki.
Mengapa Mobil Listrik Perlu Ada?
Karena ketergantungan pada bahan bakar fosil membawa persoalan yang semakin sulit diabaikan: emisi gas rumah kaca, polusi udara, kebutuhan impor energi, dan risiko perubahan harga minyak.
Mesin berbahan bakar fosil membuang sebagian besar energinya menjadi panas. Motor listrik jauh lebih efisien dalam mengubah energi menjadi gerakan. Dengan demikian, kebutuhan energi untuk menempuh jarak yang sama dapat berkurang secara signifikan.
Alasan utama menghadirkan mobil listrik bukan karena dunia membutuhkan mobil yang lebih canggih, melainkan karena dunia membutuhkan cara bergerak yang lebih hemat energi dan lebih rendah emisi.
Namun, mobil listrik saja tidak akan menyelesaikan kemacetan. Kota tetap membutuhkan transportasi umum yang baik, trotoar yang aman, dan tata ruang yang mengurangi kebutuhan perjalanan jauh.
Mengganti seluruh mobil bensin dengan mobil listrik, tetapi membiarkan jalanan tetap macet, berarti kita baru menyelesaikan sebagian persoalan.
Siapa yang Mendapatkan Manfaat?
Pengemudi dapat menikmati biaya energi per kilometer yang lebih rendah, terutama jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif listrik yang sesuai. Perawatan rutin juga berpotensi lebih sederhana karena motor listrik memiliki lebih sedikit komponen bergerak dibandingkan mesin pembakaran.
Masyarakat di sekitar jalan raya memperoleh manfaat dari berkurangnya emisi knalpot. Negara berpeluang mengurangi ketergantungan pada konsumsi BBM, sementara industri mendapatkan kesempatan mengembangkan teknologi, keterampilan, dan rantai pasok baru.
Tetapi manfaat tersebut harus dibagi secara adil. Pekerja industri otomotif konvensional memerlukan peningkatan keterampilan, dan masyarakat yang belum mampu membeli mobil listrik tidak boleh ditinggalkan.
Transisi energi yang baik bukan hanya mengganti teknologi, tetapi juga memastikan perubahan itu tidak menciptakan ketimpangan baru.
Di Mana dan Kapan Mobil Listrik Paling Masuk Akal?
Mobil listrik paling menarik secara ekonomi bagi pengguna yang menempuh perjalanan rutin, memiliki akses pengisian daya yang mudah, dan menggunakan kendaraan cukup lama. Untuk perjalanan perkotaan, pengisian di rumah sering lebih praktis daripada bergantung sepenuhnya pada pengisian cepat komersial.
Namun, bagi pengguna dengan jarak tempuh rendah, akses pengisian terbatas, atau kebutuhan perjalanan jauh ke daerah dengan infrastruktur belum memadai, keputusan membeli mobil listrik perlu dihitung lebih cermat.
Waktu terbaik beralih bukan ketika iklan mengatakan kita harus membeli, melainkan ketika kebutuhan, kemampuan keuangan, dan kesiapan infrastruktur benar-benar bertemu.
Bagaimana Menghitung Manfaat Ekonominya?
Jangan hanya membandingkan harga beli mobil listrik dan mobil bensin. Hitung biaya kepemilikan selama beberapa tahun, termasuk energi, perawatan, asuransi, pajak, penggantian komponen, penyusutan harga kendaraan, dan kondisi baterai.
Sebagai ilustrasi sederhana, mobil listrik yang mengonsumsi 15 kWh per 100 kilometer, dengan asumsi tarif listrik Rp1.700 per kWh, membutuhkan biaya energi sekitar Rp25.500 untuk perjalanan tersebut.
Sebaliknya, mobil bensin dengan konsumsi 7 liter per 100 kilometer dan harga BBM asumsi Rp12.500 per liter membutuhkan Rp87.500.
Artinya, dalam contoh ini terdapat selisih sekitar Rp62.000 setiap 100 kilometer. Namun, selisih tersebut belum memperhitungkan kerugian pengisian daya, biaya pemasangan pengisi daya, serta perbedaan harga beli dan nilai jual kembali.
Mobil listrik bisa lebih hemat saat digunakan, tetapi belum tentu lebih murah jika seluruh biaya kepemilikan diperhitungkan.
Dari Mana Listriknya Berasal?
Ada satu persoalan yang tidak boleh disembunyikan: dari mana listriknya berasal?
Di Indonesia, pembangkitan listrik masih banyak bergantung pada batu bara. Karena itu, manfaat iklim mobil listrik harus dinilai dari keseluruhan siklus hidupnya, bukan hanya dari ketiadaan asap knalpot.
Penambangan mineral baterai juga membawa risiko kerusakan lahan, pencemaran air, dan persoalan sosial jika tidak dikelola dengan baik. Pada akhir masa pakainya, baterai memerlukan sistem penggunaan kembali, pemanfaatan lanjutan yang aman, atau daur ulang yang bertanggung jawab.
Di sinilah Life Cycle Assessment (LCA) menjadi penting. Penilaian harus dimulai dari pengambilan bahan baku, produksi kendaraan dan baterai, penggunaan energi, hingga pengelolaan akhir masa pakai.
Jangan sampai kita merasa telah menyelamatkan udara perkotaan, tetapi menutup mata terhadap kerusakan lingkungan di wilayah pertambangan dan pembangkit listrik.
Mobil listrik perlu hadir. Namun, kehadirannya harus berjalan bersama listrik yang semakin bersih, industri baterai yang bertanggung jawab, pengawasan lingkungan yang kuat, serta transportasi publik yang semakin baik.
Pada akhirnya, pertanyaan kita bukan lagi, “Haruskah semua orang membeli mobil listrik?” Melainkan, “Bagaimana menyediakan mobilitas yang lebih bersih, terjangkau, dan adil bagi semua?”
Sebab, ukuran keberhasilan transisi transportasi bukan berapa banyak mobil listrik terjual, melainkan seberapa jauh emisi berkurang, udara membaik, energi dihemat, dan kehidupan terlindungi.
Kita tidak sedang berlomba mengganti kendaraan. Kita sedang menentukan udara seperti apa yang akan diwariskan kepada anak-anak yang hari ini masih berjalan di tepi jalan, menghirup akibat dari keputusan kita.
BIONARASI PENULIS
Nurul Jannah adalah dosen Sekolah Vokasi IPB University, pemerhati lingkungan, penulis, dan auditor lingkungan hidup. Menyelesaikan pendidikan doktoral di Hiroshima University, Jepang, ia memiliki keahlian dalam audit lingkungan, Life Cycle Assessment (LCA), Program Peringkat Kinerja Lingkungan (PROPER), Corporate Social Responsibility (CSR), dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Melalui karya ilmiah, buku, dan tulisan populer, ia berupaya menghadirkan isu lingkungan dengan bahasa yang ringan, menyentuh, dan mudah dipahami.
Baginya, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab profesi, melainkan wujud cinta dan kepedulian kepada kehidupan serta generasi mendatang.












