Scroll untuk baca artikel
Berita

Siswa SD Diduga Jadi Korban Perundungan, Tripanglipur Ingatkan Orang Tua Tak Abaikan Anak

4
×

Siswa SD Diduga Jadi Korban Perundungan, Tripanglipur Ingatkan Orang Tua Tak Abaikan Anak

Sebarkan artikel ini

BADUNG,Bali | Duta Berita Nusantara

Yayasan Tripanglipur Indonesia (YTII) menyoroti dugaan perundungan yang dialami seorang siswa kelas I sekolah dasar di Sading, Badung, Bali. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena korban masih berada pada usia dini dan membutuhkan perlindungan serta pendampingan dari keluarga maupun lingkungan sekolah.

Berdasarkan informasi yang diterima, siswa tersebut diduga mengalami kekerasan yang dilakukan sejumlah teman sebaya. Korban disebut mengalami tindakan kekerasan secara bersama-sama hingga diinjak pada bagian perut dan mengalami cedera pada bagian tubuh yang sensitif.

Dugaan kekerasan terhadap anak, menurut YTII, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Penanganannya perlu mengutamakan keselamatan dan kondisi korban serta dilakukan secara tepat oleh pihak yang berwenang.

“Sesibuk apa pun orang tua bekerja, perhatian terhadap anak tidak boleh ditinggalkan. Tugas mendidik dan membentuk karakter anak harus dimulai dari lingkungan keluarga,” ujar Tripanglipur.

Pihaknya juga mengajak orang tua menerapkan pengawasan melekat atau Waskat terhadap anak. Pengawasan tersebut bukan berarti membatasi anak secara berlebihan, melainkan memastikan orang tua mengetahui perkembangan, lingkungan pergaulan, dan kondisi anak dalam kesehariannya.

Komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah juga dinilai sangat penting. Orang tua diharapkan tidak hanya berkomunikasi dengan wali kelas ketika muncul persoalan, tetapi membangun komunikasi secara aktif untuk mengetahui perkembangan anak.

“Orang tua dan wali kelas perlu membangun komunikasi yang aktif. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan yang dialami anak diharapkan bisa diketahui dan ditangani lebih dini,” katanya.

Kesibukan orang tua dalam bekerja juga jangan sampai membuat perhatian terhadap anak terabaikan. Anak membutuhkan kehadiran, komunikasi, kasih sayang, serta lingkungan yang memberikan rasa aman.

“Jangan sampai kesibukan pekerjaan membuat kita terlena. Anak membutuhkan pendampingan agar tidak tumbuh dalam kondisi yang dapat menimbulkan trauma dan mengganggu perkembangan mental, fisik, maupun intelektualitasnya,” ujarnya.

Menurut YTII, upaya mencegah kekerasan terhadap anak membutuhkan keterlibatan bersama antara keluarga, sekolah, guru, dan lingkungan. Guru dan orang tua perlu saling bertukar informasi apabila terdapat perubahan perilaku maupun persoalan yang dialami anak.

“Menjaga anak bukan hanya tugas sekolah atau orang tua secara sendiri-sendiri. Ini tanggung jawab bersama. Kita ingin generasi penerus bangsa tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas,” katanya.

YTII juga berharap dugaan kasus yang terjadi dapat menjadi pembelajaran bersama agar pengawasan dan komunikasi terhadap anak semakin diperkuat.

Pada Jumat, 25 September 2026, sebagai bentuk penghargaan terhadap peran kepala sekolah dan para guru dalam mendidik generasi penerus bangsa, dilakukan penyematan PIN Bela Negara secara simbolis.

Penyematan PIN tersebut dilakukan oleh Guru Agung selaku Staf Ahli Hubungan Lintas Negara FBNRI.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap para pendidik yang memiliki peran penting dalam membimbing dan membentuk karakter generasi muda.

“Orang tua boleh bekerja keras untuk keluarga, bahkan kerja lembur bagai kuda. Tetapi jangan sampai karena pekerjaan kita justru lupa pada anak. Anak adalah tanggung jawab yang harus tetap kita jaga dan dampingi,” tutupnya.