BeritaCerita BersambungCERPENNasionalPalembang

“Takbir di Ujung Gang”

4
×

“Takbir di Ujung Gang”

Sebarkan artikel ini

“Takbir di Ujung Gang”

Oleh : Ki Bagus A.H

(Jurnalis/Pegiat Sosial Budaya)

Malam itu, langit di Kampung Minikow terasa berbeda.

Takbir menggema dari surau kecil di ujung gang. Lampu-lampu rumah menyala hangat, seolah ikut merayakan kemenangan yang datang setahun sekali.

Mang Abi duduk di kursi kayu tuanya. Secangkir kopi hitam di tangan, tapi tak lagi diminum. Pandangannya kosong… seperti sedang berbicara dengan masa lalu.

“Lem…” panggilnya pelan.

Mang Lem yang sejak tadi sibuk membetulkan pengeras suara masjid, menoleh.

“Apo lagi, Bi? Malam takbiran malah melamun Bae kau…”

Mang Abi tersenyum tipis.

“Idul Fitri ni bukan soal baju baru, Lem… tapi hati baru.”

Mang Lem terdiam. Kata-kata itu sederhana… tapi dalam.

“Kadang kito ni, Lem…” lanjut Mang Abi, “lebih sibuk minta maaf lewat kata… tapi lupa memperbaiki sikap.”

Angin malam berhembus pelan. Suara takbir semakin lantang.

Mang Lem duduk di sampingnya.

“Kau lagi ingat apo, Bi?”

Mang Abi menatap langit.

“Ingat salah-salah yang dulu… yang belum sempat kuperbaiki.”

Hening.

Tak ada suara selain gema Allahu Akbar yang terus bersahut-sahutan.

“Bi…” ujar Mang Lem akhirnya,

“kalau hati sudah niat memperbaiki, itu sudah langkah pertama. Tuhan itu lihat usaha, bukan cuma hasil.”

Mang Abi menoleh. Matanya sedikit berkaca.

Di kejauhan, anak-anak berlarian membawa obor dan bongkol. Tawa mereka pecah di tengah malam, seolah dunia ini masih baik-baik saja.

“Lem…”

“Apo lagi?”

“Kito ni cuma wong kecik Tapi jangan sampai hati kito jadi melok kecik.”

Mang Lem tersenyum.

“Itu baru Mang Abi yang aku kenal.”

Tak lama, pengeras suara kembali menyala.

Besok adalah hari kemenangan.

Bukan tentang siapa yang paling suci…

tapi siapa yang berani mengakui kesalahan,

dan tulus membuka pintu maaf.

Mang Abi berdiri pelan.

“Ayo ke masjid, Lem.”

Mang Lem ikut bangkit.

“Yo… kito sambut fitri, dengan hati yang benar-benar kembali.”

Mereka berjalan beriringan di bawah langit malam.

Tak ada yang tahu isi hati mereka.

Tapi satu yang pasti

Malam itu, bukan hanya suara takbir yang menggema…

melainkan juga harapan…

untuk menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Dari Keluarga Besar

Duta Berita Nusantara

PT Barokah Berita Nusantara