Palembang | Duta Berita Nusantara
Penulis: Ki Bagus Arfan Hasbullah
TIKUS TIDAK PERNAH MENCURI AYAM
” Ketika yang paling berisik menyalahkan orang lain, sering kali dialah yang sedang menyembunyikan kesalahannya.”
Di sebuah dapur mewah, hidup seekor kucing yang setiap hari dielu-elukan sebagai penjaga rumah. Bulunya bersih, tidurnya di sofa empuk, makannya disajikan di mangkuk porselen.
Namun, ada satu kebiasaan buruk yang tak pernah berubah.
Setiap malam, ikan di meja menghilang.
Ayam rebus yang baru matang berkurang.
Udang segar lenyap tanpa jejak.
Setiap kali pemilik rumah bertanya, sang kucing langsung mengeong lantang.
“Itu pasti ulah tikus!”
Semua orang mengangguk.
Karena sejak dulu, tikus memang selalu dicap pencuri.
Suatu malam, seekor tikus kecil yang tinggal di selokan mendengar tuduhan itu.
Ia keluar dari persembunyiannya.
Dengan tenang ia berkata,
“Aku memang tinggal di got.”
“Aku memang sering dianggap kotor.”
“Tapi aku tidak pernah membawa pulang ayam utuh, ikan segar, ataupun udang dari dapurmu.”
Kucing tersenyum sinis.
“Dasar tikus! Siapa lagi kalau bukan kamu?”
Tikus menggeleng pelan.
Lalu ia bertanya,
“Kalau benar aku pelakunya…”
“…mengapa setiap kali makanan hilang, bekas cakarnya justru milikmu?”
Dapur mendadak hening.
Tikus kembali berbicara.
“Kalian selalu berkata ada lem tikus.”
“Lalu kenapa tidak pernah ada lem kucing?”
Semua saling berpandangan.
Pertanyaan sederhana itu terasa lebih tajam daripada teriakan.
Karena memang benar…
Lem tikus dibuat untuk menangkap tikus.
Bukan berarti setiap kehilangan pasti ulah tikus.
Hari demi hari berlalu.
Pemilik rumah akhirnya memasang kamera kecil di dapur.
Malam itu…
Tak ada tikus yang datang.
Yang terlihat justru sang kucing melompat ke meja.
Menggigit ikan.
Menyeret ayam.
Mencuri udang.
Lalu sebelum pergi, ia masih sempat mengeong keras.
“Awas tikus… jangan mencuri lagi!”
Pagi harinya, rekaman itu diputar.
Tak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Topeng kejujuran runtuh.
Yang selama ini paling keras menuduh, ternyata dialah pelakunya.
Sejak hari itu, tikus tidak lagi menjadi kambing hitam.
Masyarakat akhirnya belajar bahwa penampilan yang rapi, jabatan yang tinggi, atau suara yang lantang bukanlah jaminan kejujuran.
Karena korupsi sering kali tidak bersembunyi di tempat yang kotor.
Ia justru nyaman tinggal di tempat yang paling mewah.
Pesan Integritas
Jangan percaya pada siapa yang paling keras menuduh. Percayalah pada bukti. Sebab korupsi sering memakai topeng kejujuran, sementara kejujuran tidak pernah membutuhkan topeng.
Tentang Penulis :
Ki Bagus Arfan Hasbullah merupakan Pimpinan Umum Media Pers Online Duta Berita Nusantara (DBN) yang aktif mengabdikan diri di bidang jurnalistik, kontrol sosial, serta edukasi publik melalui karya tulis.
Selain berkecimpung di dunia pers, Bee juga mengemban amanah sebagai Badan Pengawas Nusantara Hijau Bersatu Indonesia, serta dikenal sebagai Pegiat Kontrol Sosial yang konsisten mendorong transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang berintegritas.
Dalam bidang literasi, Ki Bagus merupakan Penulis Cerpen Antikorupsi Peraih Rekor MURI, yang menjadikan sastra sebagai media edukasi untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan keberanian melawan korupsi kepada masyarakat.
Kepeduliannya terhadap identitas bangsa juga diwujudkan melalui perannya sebagai Aktivis Peduli Cagar Budaya dan Pemajuan Kebudayaan, dengan keyakinan bahwa membangun Indonesia tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pelestarian nilai, sejarah, budaya, dan karakter bangsa.
Melalui setiap karya yang lahir, Kibagus berharap dapat menginspirasi lahirnya generasi yang berintegritas, kritis, peduli terhadap sesama, serta mencintai Indonesia dengan tindakan nyata.
Motto: “Menjaga Amanah, Menegakkan Integritas, Mengabdi untuk Indonesia.”













