Scroll untuk baca artikel
Berita

Titrasi Nurani di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

22
×

Titrasi Nurani di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Bantul

Titrasi Nurani di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

Oleh: Aethera Aditi

Memasuki usia 81 tahun Indonesia Merdeka, sebuah pertanyaan sederhana di ruang diskusi kembali mengusik nurani kita: mengapa, setelah delapan dekade merdeka, praktik korupsi dan ketidakjujuran masih terus berulang di negeri ini?

Apakah cukup bagi kita untuk sekadar mengelus dada dan berseru, “Ini salah!”? Ataukah kita hanya sibuk menunjuk siapa yang patut disalahkan, tanpa pernah berani turun tangan untuk membedah akar persoalannya?

Kemerdekaan sejati ternyata tidak hanya menuntut keberanian untuk melawan kejahatan di luar sana. Ia menuntut keberanian yang jauh lebih jernih: keberanian untuk memahami mengapa penyimpangan itu bisa terus terjadi, dimulai dari dalam diri kita sendiri.

Dalam dinamika kehidupan sehari-hari, refleks pertama ( react ) manusia ketika melakukan kesalahan adalah mencari aman. Saat kekeliruan terjadi, ada dorongan emosional yang kuat untuk mengelak, membela diri, atau mencari kambing hitam.

Namun, jika kita bersedia duduk tenang dan mengurai benang kusut itu lewat metode 5 Why, rantai alasannya akan merambat secara transparan. Kita bertanya mengapa cita-cita bangsa terhambat, dan jawabannya bermuara pada ketidakjujuran yang berulang. Saat ditanya mengapa terus berulang, kita mendapati pembenaran-pembenaran kecil yang dimaklumi.

Kita memaklumi karena takut disalahkan, dan kita takut disalahkan karena integritas kita kalah oleh refleks mencari aman. Hingga akhirnya kita tiba di titik pemahaman yang paling jujur: kita belum sepenuhnya merdeka karena kita lebih sering sibuk menunjuk siapa yang salah, ketimbang berani bertanya apa yang harus diubah dari dalam diri sendiri.

Dalam laboratorium Kimia Analisis Kuantitatif, seorang kimiawan sangat memahami satu prinsip dasar: ketika sebuah larutan mengalami kontaminasi, menyiramkan air di atas permukaannya tidak akan pernah mengubah sifat dasar kimia larutan tersebut.

Untuk mengetahui zat pengotor mana yang menjadi pemicu reaksi ( react ), kimiawan harus melakukan proses titrasi meneteskan indikator secara bertahap hingga mencapai titik ekuivalen yang murni.

Korupsi dan ketidakjujuran di sekitar kita pada dasarnya adalah hasil dari sebuah chemical react sosial yang dipicu oleh satu ‘zat pengotor’ utama, yaitu pembenaran diri (self-justification). Menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain ibarat hanya membuang busa di permukaan tabung reaksi; ia tidak pernah menetralkan racun yang ada di dasar larutannya.

Dari gabungan penalaran sains dan refleksi nurani ini, kita menyadari bahwa kejujuran memiliki kedalaman yang tidak sederhana. Ia bukan sekadar menahan tangan dari mengambil hak milik orang lain, melainkan keberanian melatih react positif: kejujuran untuk membedah akar kesalahan pribadi tanpa terburu-buru melempar tuduhan.

Korupsi tidak akan pernah selesai hanya dengan teriakan kemarahan ke luar. Korupsi baru akan mulai terkikis ketika masing-masing dari kita berani memurnikan indikator integritas dari dalam.

Pada akhirnya, jawaban atas kemerdekaan tidak ditemukan dalam riuh teriakan menunjuk orang lain, melainkan dalam kesenyapan diri yang berani jujur. Sebab Indonesia yang bersih tidak dirawat oleh mereka yang pandai menunjuk, melainkan oleh jiwa-jiwa yang berani mengakui dan memurnikan nuraninya sendiri.

IPAK Bertanya. Kita Menjawab dengan Aksi.

Aksi 3 dari 81: Berani menggunakan metode 5 Why untuk membedah akar kesalahan diri tanpa menyalahkan orang lain.