BeritaCerita BersambungCERPENNasionalSerba Serbi

Misteri Botol Teh Kosong (Tapi Bukan Kotak)

434
×

Misteri Botol Teh Kosong (Tapi Bukan Kotak)

Sebarkan artikel ini

Cerpen

Oleh: Ki Bagus A.H

Misteri Botol Teh Kosong (Tapi Bukan Kotak)

Siang hari udara terasa panas. Namun Ramadhan justru membawa kesejukan di hati Mang Abi dan Mang Lem.

Dua sahabat itu sedang menjalankan misi besar dalam hidupnya: menjalani puasa Ramadhan dengan penuh kesadaran, berharap menjadi insan kamil, manusia yang bermanfaat bagi keluarga, agama, dan bangsa.

Di bawah pohon rindang di pinggir Sungai Susu—sungai kecil yang mereka banggakan sebagai “karya tangan sendiri”—Mang Abi tampak melamun.

Angin timur dan barat seolah berhembus membawa kabar aneh ke telinganya.

“Mang Lem… sudah dengar kabar dari surga?” celetuk Mang Abi tiba-tiba sambil mengangkat sarungnya sampai selutut.

“Kabar apa lagi, Mang?” tanya Mang Lem heran.

“Kabar katanya… ada botol teh kosong… tapi bukan kotak.”

Mang Lem mengernyit.

“Belom tuh.”

Sementara itu, kabar lain juga beredar. Ketua negeri Minikow sedang berbaik hati. Ia mengumpulkan warga kampung untuk berbagi keberkahan Ramadhan.

“Wah… ada apa gerangan?” gumam Mang Lem.

“Sepertinya berbagi keberkahan Ramadhan,” jawab Mang Abi santai.

Mang Lem menghela napas panjang.

“Kok kita nggak pernah dapat keberkahan ya, Mang?” omelnya.

Mang Abi tertawa kecil.

“Sabar Mang Lem… kalau rezeki nggak akan ke mana. Lagipula… cuma botol kosong, bukan kotak kok.”

Percakapan dua sahabat itu terus bersahut-sahutan sampai senja mulai turun.

Suasana magrib membuka mata batin mereka. Saatnya berbuka dengan makanan sederhana: ubi rebus, kopi hangat, nasi, dan ikan asin pedow.

“Dah azan Maghrib, Mang,” kata Mang Abi.

“Berbuka dengan yang manis dulu, Mang Lem. Hidup kita harus manis… semanis Jembatan Madu yang dulu digagas para leluhur kita.”

“Hahaha!”

Gelak tawa keduanya pecah di tepi Sungai Susu yang mengalir tenang.

Selepas berbuka, seperti biasa, dialog dua sahabat itu kembali mengalir.

“Mang Lem… nanti kita tanya Mr. Retewe. Acara apa sebenarnya yang dibuat Ketua Kota Minikow?” kata Mang Abi.

“Sepertinya menghebohkan warga…”

Mang Abi mengangguk pelan.

“Jangan sampai niat baik Ketua Kota Minikow dinodai oleh keserakahan oknum durjana yang haus minum di telaga neraka.”

Mang Lem hanya tersenyum sambil memutar radio mungil peninggalan datuknya.

Tiba-tiba suara dangdut pecah dari radio.

“Dangdut nih, Biii…”

Namun di sela lagu itu, muncul siaran podcast dari Ketua Negeri Minikow sendiri.

Ia mengumumkan bahwa di bulan Ramadhan ini pemerintah negeri menyediakan hadiah keberkahan untuk warga.

“Bagi warga yang belum mendapatkan keberkahan, silakan menghubungi pamong derajat di wilayah masing-masing,” begitu isi pengumuman itu.

Tak ayal, Mang Abi dan Mang Lem langsung saling pandang.

“Mang Lem… kita gas ke rumah pamong derajat!” seru Mang Abi.

Mang Lem langsung menyelempangkan sarungnya ke leher.

“Kita gas, Mang! Kalau memang rezeki penganut faham lapar dan dahaga berpihak… maka botol teh kosong—yang bukan kotak itu—akan menjadi saksi keberkahan Ramadhan.”

Namun satu pertanyaan masih menggantung di kepala mereka:

Benarkah botol itu berisi keberkahan…

atau hanya benar-benar kosong seperti kabar yang beredar?

—————————————————————

Catatan Penutup

Cerita “Misteri Botol Teh Kosong (Tapi Bukan Kotak)” ini merupakan karya fiksi dan hanya ilustrasi semata. Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa yang terdapat di dalamnya lahir dari imajinasi penulis.

Apabila terdapat kemiripan nama, karakter, atau kejadian dengan tokoh maupun peristiwa nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada pihak mana pun.