LANGKAT| Duta Berita Nusantara
Citra militer di wilayah pedesaan kerap kali berkelindan dengan narasi instruksi tunggal dan barisan kaku. Namun, di sebuah sudut Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, narasi itu runtuh oleh kepulan asap rokok dan obrolan sore yang cair.
Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Lkt menyadari sepenuhnya jalan beton sepanjang 1.500 meter yang sedang mereka kebut tidak akan berdiri kokoh tanpa adanya fondasi kepercayaan dan dukungan penuh dari warga.
Sebuah foto dokumentasi lapangan yang dirilis oleh Satgas TMMD 128 merekam fragmen penting tersebut pada Minggu (17/5/2026).
Di bawah atap seng gelombang sebuah warung kelontong sederhana di Dusun I Desa Pasar Rawa, beberapa prajurit bintara dan tamtama tampak duduk berdampingan secara hangat dengan warga lokal.
Tidak ada laras panjang yang disandang, tidak ada pula tatapan menyelidik dari aparat.
Tiga prajurit berpakaian loreng hijau khas TNI itu memosisikan diri bukan sebagai “penguasa proyek”, melainkan sebagai rekan kerja yang setara bagi para petani dan buruh desa yang duduk melingkar di hadapan mereka.
Meredam Kendala di Meja Loak
Pilihan memindahkan ruang diskusi dari tenda taktis komando ke kedai pinggir jalan milik warga merupakan langkah strategis yang diambil Satgas TMMD untuk memastikan program berjalan tanpa hambatan.
Di atas meja kayu panjang yang permukaannya mulai legam oleh usia, luruh segala bentuk formalitas militer.
Di sinilah urusan jalur logistik material, pelibatan tenaga kerja lokal, hingga masukan warga soal batas tanah dikupas tuntas tanpa protokoler kaku.
Sejarah pembangunan di tingkat akar rumput mencatat, proyek yang turun secara instruktif dari atas (top-down) sering kali kurang berjalan optimal karena minimnya keterlibatan emosional masyarakat.
Kekhawatiran warga akan dampak alat berat terhadap lingkungan sekitar bisa saja menjadi kendala lapangan jika tidak dijembatani dengan baik.
Di meja warung inilah, potensi riak sengketa itu diredam sejak dini lewat penjelasan yang jujur, terbuka, dan solutif dari para prajurit muda.
“Tidak ada masalah di lapangan yang tidak bisa diselesaikan dengan komunikasi langsung. Pendekatan humanis melalui TMMD ini terbukti efektif membuat warga merasa memiliki proyek jalan ini, sehingga mereka tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut menjadi motor penggerak pembangunan,” ujar Pasiter Kodim 0203/Langkat, Kapten Inf Supriadi.
Raih Kepercayaan Lewat Secangkir Kopi
Bagi warga Kecamatan Gebang, kehadiran Satgas TMMD 128 dalam sebulan terakhir telah membawa perubahan signifikan, baik dari segi infrastruktur maupun dinamika sosial.
Selain proyek pengerasan jalan selebar 4 meter yang dikebut untuk mendongkrak urat nadi perekonomian, aksi komunikasi sosial berskala kecil ini sukses menyentuh aspek psikologis masyarakat bawah.
Pendekatan personal berbalut diskusi santai ini menjadi kunci sukses kemanunggalan TNI-Rakyat. Dampaknya instan dan positif: warga menjadi lebih terbuka, komunikatif, dan dengan sukarela ikut menyumbang tenaga dalam gotong royong harian untuk mempercepat penyelesaian target fisik.
Dansatgas TMMD 128, Letkol Inf Sangkakala, melihat fenomena interaksi di meja warung kopi ini sebagai bukti nyata keberhasilan metode pendekatan TMMD yang humanis.
Menurutnya, esensi dari “kemanunggalan” bukanlah slogan sakral yang jatuh begitu saja dari langit.
“Ia adalah hasil dari perdebatan yang sehat, kesepakatan kecil, dan saling percaya yang lahir dari meja-meja warung kopi seperti ini. TMMD hadir untuk membuktikan bahwa TNI dan rakyat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Letkol Inf Sangkakala.
Ketika debu jalanan beterbangan disapu angin siang di Gebang, diskusi di meja kayu itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bubar.
Di desa ini, kehadiran TMMD 128 tidak lagi dirasakan sebagai titah dari menara gading kekuasaan, melainkan sebuah kerja kolektif yang intim.
Lewat komitmen kuat ini, semen, pasir, dan batu jalanan Pasar Rawa akhirnya menemukan perekat terbaiknya: yaitu kepercayaan dan cinta dari masyarakat.(Red)













