Scroll untuk baca artikel
BeritaCerita BersambungCERPENSerial cerita viral DBN

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

24
×

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

Sebarkan artikel ini

BAYANGAN CINTA DI BAWAH POHON SENJA

Oleh : Kibagus A.H

Seri 1 : Janji yang Tak Pernah Pudar

“Tidak semua janji berakhir dengan pertemuan. Ada yang tetap hidup, meski hanya menjadi bayangan di dalam kenangan.”

Senja turun perlahan, menyelimuti langit dengan semburat jingga yang hangat. Cahaya matahari terakhir memantul di permukaan danau, menciptakan riak-riak kecil yang berkilau seperti serpihan emas. Angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan pohon trembesi tua yang berdiri kokoh di tepi danau.

Di bawah pohon itulah seorang pria berhenti melangkah.

Namanya Rafan.

Sudah dua belas tahun ia datang ke tempat itu pada tanggal dan waktu yang sama. Tak pernah sekalipun ia melewatkannya.

Perlahan tangannya menyentuh batang pohon yang mulai dipenuhi lumut.

Di sana masih terukir dua huruf yang sederhana.

R ♥ K

Rafan mengusap ukiran itu dengan ujung jarinya.

Senyum kecil terbit di bibirnya.

“Masih ada…” bisiknya lirih.

Bagi orang lain, ukiran itu mungkin hanyalah goresan kecil di batang pohon tua.

Namun bagi Rafan…

Di situlah seluruh hidupnya pernah dimulai.

Dua belas tahun yang lalu…

Langkah-langkah kecil terdengar berlari di jalan setapak.

“Rafaaann…!”

Rafan menoleh.

Seorang gadis berusia dua puluh tahun berlari kecil menuruni jalan setapak. Rambut panjangnya menari lembut diterpa angin senja, sementara senyum hangat dengan lesung pipi yang khas membuat wajahnya tampak begitu berseri. Dialah Kirana, gadis yang selalu mampu menghadirkan kebahagiaan hanya dengan sebuah senyuman.

“Kamu lama banget,” ucap Kirana sambil tersenyum.

“Bukannya aku terlambat. Kamu saja yang selalu datang lebih dulu.”

Kirana tertawa kecil.

“Kalau ketemu orang yang dirindukan, lima menit saja rasanya seperti satu jam.”

Rafan hanya menggeleng sambil tersenyum malu.

Mereka kemudian duduk berdampingan di bawah pohon trembesi. Di depan mereka, danau memantulkan cahaya senja yang perlahan berubah jingga kemerahan.

“Aku punya satu permintaan,” kata Kirana.

“Apa?”

“Kapan pun hidup membawa kita ke mana saja…”

Ia menatap pohon itu.

“…kita harus kembali ke sini.”

Rafan menatap wajah Kirana.

“Kenapa tempat ini?”

Kirana tersenyum.

“Karena di sinilah aku belajar kalau bahagia ternyata sesederhana duduk bersamamu.”

Kalimat itu membuat Rafan terdiam.

Ia tak mampu menjawab.

Yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan Kirana.

Pelan.

Hangat.

Seolah ingin menyimpan momen itu selama mungkin.

Tak ada janji yang berlebihan.

Tak ada sumpah.

Hanya satu kalimat yang mereka ucapkan bersamaan.

“Suatu hari nanti… kita kembali ke pohon ini.”

Mereka tersenyum.

Tak pernah membayangkan…

bahwa hidup akan menguji janji sederhana itu dengan cara yang tak pernah mereka duga.

Di masa kini…

Rafan masih berdiri memandang danau.

Angin kembali berembus.

Seekor burung terbang melintas di atas permukaan air.

Lalu…

sebuah suara lirih terdengar dari belakangnya.

“Rafan…”

Tubuh Rafan menegang.

Suara itu…

Masih sama.

Selembut senja dua belas tahun yang lalu.

Namun sebelum ia sempat menoleh…

langkah kaki itu perlahan menjauh.

Rafan membalikkan badan.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya selembar syal berwarna krem yang tertinggal di bawah pohon.

Ia memungutnya perlahan.

Di sudut syal itu terdapat sulaman kecil yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Huruf “K”.

Rafan memejamkan mata.

“Apakah… kamu benar-benar sudah kembali, Kirana?”

Bersambung…