Duta Berita Nusantara | Jakarta
MERAH PUTIH DI NEGERI SAKURA
Oleh: Nurul Jannah
Catatan Cinta untuk Tanah Air
Ada satu pemandangan yang hingga hari ini tak pernah mampu aku lupakan. Pemandangan yang setiap kali hadir dalam ingatan, selalu membuat dada berguncang hebat. Mata terasa panas. Tenggorokan tercekat. Dan tanpa diminta, air mata perlahan memenuhi pelupuk mata.
Bukan ketika bunga-bunga sakura bermekaran. Atau ketika salju pertama turun menutupi jalan-jalan di Hiroshima. Melainkan ketika Sang Saka Merah Putih perlahan berkibar di langit Negeri Sakura.
Saat itu aku sedang berada di Hiroshima, kota yang pernah menjadi rumah kedua selama menempuh pendidikan doktoral. Kota yang mengajarkan kepada dunia bahwa harapan mampu bangkit bahkan dari luka yang paling dalam.
Kota yang pernah luluh lantak oleh bom atom, tetapi kemudian berdiri kembali dengan martabat, ilmu pengetahuan, dan semangat yang tak pernah padam.
Di kota itulah aku memahami bahwa sebuah bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tak pernah jatuh, melainkan bangsa yang selalu mampu bangkit.
Ketika kain merah putih itu perlahan naik menyentuh langit. Waktu seolah berhenti. Ada rasa yang sulit dijelaskan. Seakan seluruh perjalanan hidupku pulang dalam satu detik.
Tiba-tiba tercium aroma tanah yang basah setelah hujan di kampung halaman. Terdengar kembali suara azan yang bersahutan mengisi langit setiap waktu salat. Terlihat deretan pohon kelapa yang menari diterpa angin. Hamparan sawah yang menghijau. Gunung-gunung yang berdiri anggun. Dan senyum ramah orang-orang yang menyapa, meski belum pernah saling mengenal.
Saat itulah aku sadar… kerinduan kepada tanah air ternyata memiliki bahasa yang tak pernah diajarkan di ruang kelas mana pun.
Lalu, entah dari mana datangnya. Di dalam hati, perlahan mengalun lagu yang sejak kecil begitu akrab di telinga. Lagu “Tanah Air” karya Ibu Sud.
” Walaupun banyak negeri kusinggahi,..”
” Yang masyhur permai dikata orang …”
” Tetapi kampung dan rumahku…”
” Di sanalah kurasa senang…”
Lagu itu, bukan lagi sekadar rangkaian nada. Ia adalah pelukan. Ia adalah kerinduan. Ia adalah doa. Ia adalah jalan pulang bagi hati yang sedang berada ribuan kilometer dari rumahnya.
Selama bertahun-tahun tinggal di negeri orang, aku belajar begitu banyak hal. Belajar tentang disiplin. Tentang ketepatan waktu. Tentang budaya kerja yang luar biasa.
Aku menikmati musim semi ketika bunga sakura bermekaran. Aku menyaksikan musim gugur yang melukis pepohonan dengan warna keemasan. Aku berjalan di antara salju yang turun perlahan, menghiasi jalan-jalan yang tenang.
Semuanya indah. Semuanya mengagumkan. Semuanya layak dipelajari.
Namun, tidak ada satu pun yang mampu menggantikan rasa ketika hati menyebut satu nama. Indonesia.
Negeri yang mungkin belum sempurna. Negeri yang masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Negeri yang kadang membuat kita mengeluh.
Namun justru ketika kita berada jauh darinya, kita menyadari betapa besar cinta yang selama ini diam-diam tumbuh di dalam dada.
Indonesia.
Adalah debur ombak di Pantai Kuta.
Adalah kabut pagi di Dieng.
Adalah embun di lereng Bromo.
Adalah hijaunya sawah di Bali.
Adalah harum kopi Gayo.
Adalah rempah-rempah Maluku yang dahulu membuat dunia berlayar ke Nusantara.
Adalah Raja Ampat yang membuat dunia terdiam oleh keindahannya.
Adalah senyum tulus anak-anak Papua.
Adalah lantunan suara azan yang menggema dari Sabang hingga Merauke.
Adalah tawa ibu-ibu di pasar tradisional.
Adalah gotong royong yang masih hidup di desa-desa.
Adalah jutaan doa yang dipanjatkan setiap hari untuk negeri yang sama-sama kita cintai.
Dan, adalah Merah Putih, yang setiap kali berkibar, selalu membuat dada ini bergetar.
Saat itulah aku mulai mengerti, mengapa para pejuang rela mempertaruhkan nyawa demi selembar kain merah putih. Karena sesungguhnya, yang mereka pertahankan bukan selembar kain.
Mereka mempertahankan martabat.
Harga diri.
Bahasa.
Budaya.
Rumah.
Dan masa depan anak cucu yang bahkan belum lahir ketika mereka berjuang.
Merah Putih, bukan hanya bendera.
Ia adalah saksi air mata. Saksi darah. Saksi pengorbanan. Saksi doa-doa yang dipanjatkan di tengah malam. Saksi cinta yang tak pernah meminta balasan.
Hari ini, mungkin kita tidak lagi diminta mengangkat bambu runcing. Namun kita tetap diminta berjuang. Berjuang menjaga persatuan. Menjaga kejujuran. Menjaga alam. Menjaga budaya. Menjaga nama baik bangsa. Menjaga harapan agar Indonesia selalu memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena mencintai Indonesia, tidak cukup hanya berdiri tegak ketika lagu kebangsaan dikumandangkan. Cinta kepada tanah air dibuktikan setiap hari.
Ketika kita bekerja dengan jujur. Ketika kita menanam pohon. Ketika kita menjaga sungai. Ketika kita menghormati perbedaan. Ketika kita saling menolong. Ketika kita memilih memberi manfaat bagi negeri, sekecil apa pun peran yang kita miliki.
Dan, ketika kita mengajarkan anak-anak berkata dengan bangga, “Aku orang Indonesia.”
Kini, setiap kali melihat Merah Putih berkibar, di mana pun itu, hati ini hanya mampu berbisik, “Terima kasih Allah, telah menakdirkanku lahir di negeri yang begitu indah ini.”
Karena setelah melangkahkan kaki ke berbagai penjuru dunia, setelah melihat negeri-negeri yang begitu maju, setelah belajar dari begitu banyak bangsa, semakin aku yakin:
Indonesia bukan hanya tempat aku dilahirkan. Ia adalah tempat hati ini selalu ingin pulang.
Dan selama Merah Putih masih berkibar di langit Nusantara, selama lagu “Tanah Air” masih dinyanyikan dengan mata yang berkaca-kaca, selama masih ada anak-anak yang mencium bendera dengan penuh hormat, selama masih ada orang-orang yang rela bekerja demi negeri tanpa berharap tepuk tangan, selama masih ada ibu yang mengajarkan anaknya mencintai Indonesia sejak dalam buaian, aku sepenuhnya yakin, Indonesia akan selalu memiliki harapan.
Walaupun banyak negeri telah aku singgahi, dengan segala kemajuan, kedisiplinan, dan keindahannya, Indonesia tetap yang terbaik, karena di tanah inilah doa pertama ibu dipanjatkan untukku.
Di tanah inilah langkah pertamaku dimulai. Di tanah inilah aku belajar menyebut nama Allah. Di tanah inilah aku mengenal arti keluarga, persaudaraan, dan cinta.
Dan di bawah langit Merah Putih inilah aku semakin memahami bahwa mencintai tanah air bukan sekadar rasa bangga, melainkan bentuk syukur kepada Allah atas negeri yang telah Dia titipkan kepada kita.
Sebab sejauh apa pun kaki melangkah, hati selalu tahu jalan pulang. Dan bagiku, jalan pulang itu selalu bernama, Indonesia.
Jakarta, 6 Agustus 2026













