Scroll untuk baca artikel
Serba SerbiSerial cerita viral DBN

KEMBALI PUKUL LIMA

3
×

KEMBALI PUKUL LIMA

Sebarkan artikel ini

KEMBALI PUKUL LIMA

Oleh: Nurul Jannah

Solo, 2003

“Kalau suatu hari aku pergi, tunggu aku di sini pukul lima.”

“Kenapa pukul lima?”

“Karena jam segitu Solo paling cantik.”

“Bohong.”

“Ya sudah. Karena jam segitu kamu biasanya pulang.”

Ningrum tertawa.

Arga ikut tertawa.

Mereka menganggapnya gurauan. Tidak ada yang menyangka kalimat itu akan menjadi janji dengan masa tunggu dua puluh tahun.

********

Dua Puluh Tahun Kemudian

Pukul 16.57.

Seorang perempuan berdiri di depan kios buku tua dekat Sriwedari.

Solo telah banyak berubah.

Bangunan bertambah. Kendaraan semakin padat. Orang-orang berjalan sambil menatap telepon pintar.

Tetapi kios kecil itu masih ada.

Ningrum menatap jam tangannya.

Tiga menit lagi.

Tangannya masuk ke dalam tas dan menyentuh sebuah amplop yang sudah berkali-kali dibacanya selama tujuh hari terakhir.

Amplop itu tiba seminggu lalu. Tanpa nomor telepon. Tanpa alamat pengirim. Hanya namanya, ditulis dengan tulisan tangan yang membuat Ningrum terpaku lama di teras rumah.

Di dalamnya hanya ada pesan pendek:

Ning, kalau kamu masih ingat janji kita, datanglah ke kios itu. Sabtu, pukul lima.

Arga

Dua puluh tahun tanpa kabar.

Lalu hanya satu pesan pendek.

Kurang ajar, pikir Ningrum.

Tetapi pukul 16.57 ia tetap datang.

Satu menit berlalu.

Pukul 16.58.

Tidak ada Arga.

16.59.

Ningrum menarik napas.

Ternyata menunggu satu menit bisa jauh lebih melelahkan daripada menunggu dua puluh tahun.

Ia hampir berbalik ketika sebuah suara terdengar dari belakang.

“Masih suka datang lebih awal, ya?”

Tubuh Ningrum kaku.

Ia tidak langsung menoleh.

Ada suara yang bisa dilupakan telinga, tetapi tidak oleh jantung.

“Arga?”

Laki-laki itu tersenyum.

Rambutnya mulai beruban di pelipis.

“Kamu telat dua puluh tahun,” kata Ningrum.

Arga tertawa kecil.

“Kamu masih galak.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Lalu keduanya diam.

Karena ada pertemuan yang begitu lama ditunggu hingga ketika benar-benar terjadi, kata-kata justru kehilangan keberanian.

*******

Solo, 2001

Mereka pertama kali bertemu gara-gara sebuah buku.

Ningrum sedang mencari buku bekas untuk kuliah ketika tangannya dan tangan seorang laki-laki meraih buku yang sama.

“Maaf, saya duluan.”

“Saya yang pegang duluan.”

“Jari saya sudah di sini.”

“Tapi mata saya lihat duluan.”

Ningrum mendelik.

“Kalau begitu beli pakai mata.”

Laki-laki itu tertawa.

Namanya Arga.

Hari itu Arga yang akhirnya membeli buku tersebut. Sebagai kompensasi, ia mentraktir Ningrum es teh. Menurut Ningrum, itu pertukaran yang sangat tidak seimbang.

Sejak hari itu, entah bagaimana, Arga selalu muncul.

Di halte.

Di warung soto.

Di depan kampus.

Di kios buku.

“Kamu ngikutin saya?”

“Ge-er.”

“Terus kenapa ketemu terus?”

“Solo sempit.”

“Solo luas.”

“Berarti takdirnya yang sempit.”

Ningrum ingin marah.

Sayangnya, senyumnya lebih cepat muncul.

*******

2003

Arga mendapat pekerjaan di Jakarta.

“Aku cuma pergi sebentar.”

“Semua orang yang pergi bilang begitu.”

“Aku akan kembali.”

“Kapan?”

Arga tidak menjawab.

Ia menyerahkan sebuah amplop.

“Buka kalau aku sudah berangkat.”

“Isinya?”

“Utang.”

“Berapa?”

“Seumur hidup.”

Ningrum tertawa sambil memukul lengannya.

Malam itu ia membuka amplop tersebut.

Hanya ada selembar kertas.

Ning, aku tidak berani memintamu menunggu. Tetapi kalau hidup baik kepadaku, aku ingin pulang dan menemukanmu masih mengenal namaku.

Arga.

Ningrum membacanya berkali-kali.

Lalu menyimpannya di dalam jurnal hariannya.

Bersama satu kalimat yang terus diingatnya:

Tunggu aku di sini pukul lima.

*******

Pukul 17.02. Dua Puluh Tahun Kemudian

“Kamu menikah?” tanya Arga.

Ningrum menggeleng.

Arga menunduk.

“Kamu?”

“Pernah hampir.”

“Hampir itu apa?”

“Tidak jadi.”

“Kenapa?”

Arga tersenyum tipis.

“Karena ternyata ada orang yang bisa pergi dari sebuah kota, tetapi gagal pergi dari satu nama.”

Ningrum menahan napas.

“Jangan romantis. Kita sudah tua.”

“Kamu yang tua.”

“Arga!”

Untuk pertama kalinya sore itu, mereka tertawa seperti dua mahasiswa dua puluh tahun lalu.

Lalu Ningrum bertanya pelan,

“Kenapa tidak pernah kembali?”

Tawa Arga hilang.

*******

2004

Sebenarnya Arga pernah kembali.

Ia berdiri di seberang jalan dan melihat Ningrum bersama seorang laki-laki.

Mereka tertawa.Laki-laki itu membawa tas Ningrum.

Arga tidak menyeberang.

Ia pulang malam itu.

Ia mengira dirinya terlambat.

Yang tidak pernah Arga ketahui, laki-laki itu adalah kakak Ningrum yang baru pulang dari Surabaya.

********

2007

Ningrum juga pernah mencari Arga.

Nomor teleponnya sudah tidak aktif.

Alamat kosnya berubah.

Email terakhir tidak pernah dibalas.

Yang tidak pernah Ningrum ketahui, pada tahun itu Arga mengalami kecelakaan.

Berbulan-bulan ia menjalani pemulihan.

Setelah sembuh, jarak sudah berubah menjadi tahun, dan tahun perlahan berubah menjadi ketakutan untuk kembali.

Kadang cinta tidak kalah oleh orang ketiga.

Ia kalah oleh prasangka yang tidak pernah ditanyakan, kabar yang tidak pernah sampai, dan dua manusia yang sama-sama menunggu pihak lain mengetuk pintu lebih dahulu.

********

Pukul 17.14

“Aku bodoh,” kata Arga.

“Banget.”

“Kamu juga.”

“Sedikit.”

“Banyak.”

Ningrum tertawa sambil mengusap sudut matanya.

Arga membuka tas.

Mengeluarkan sebuah buku tua.

Ningrum membeku.

Buku yang mereka perebutkan pada 2001.

“Masih kamu simpan?”

“Halaman tiga puluh tujuh.”

Ningrum membukanya.

Ada tulisan tangan yang sudah memudar: Kalau buku ini hilang, cari aku.

Ningrum tertawa sambil menangis.

“Kamu masih ingat?”

“Aku lupa banyak hal, Ning.Arga menatapnya.

“Tapi tidak pernah berhasil melupakanmu.”

Ningrum menutup buku itu perlahan.

“Kenapa baru sekarang mengirim surat?”

Arga terdiam.

“Karena aku baru mengerti satu hal.”

“Apa?”

“Kalau aku terus menunggu sampai tidak takut ditolak, mungkin aku akan mati sebagai laki-laki yang cuma pandai pulang dalam pikirannya.”

Ningrum menunduk.

“Dan kalau aku tidak datang?”

Arga tersenyum tipis.

“Aku tetap akan berdiri di sini sampai pukul lima lewat.”

“Lalu?”

“Pulang.”

“Begitu saja?”

Arga menggeleng.

“Besoknya datang lagi.”

Ningrum tertawa di antara air matanya.

“Bodoh.”

“Sudah kamu bilang tadi.”

*******

Azan Magrib mulai terdengar ketika mereka berjalan meninggalkan kios.

Tidak bergandengan tangan. Tidak pula membuat janji besar.

Hanya dua orang yang berjalan berdampingan setelah kehilangan dua puluh tahun karena terlalu banyak hal yang tidak pernah mereka tanyakan.

Di ujung jalan, Ningrum berhenti.

“Ga.”

“Hm?”

“Dulu kamu bilang punya utang seumur hidup.”

Arga tersenyum.

“Masih.”

“Bayarnya kapan?”

Arga menatap perempuan yang pernah ditinggalkannya ketika muda dan ditemukannya kembali saat uban mulai singgah di rambut mereka.

“Kalau kamu mengizinkan, mulai besok.”

“Kenapa besok?”

“Karena hari ini sudah pukul lima lewat.”

Ningrum tertawa.

“Dasar.”

Mereka kembali berjalan.

Beberapa langkah kemudian Arga bertanya,

“Besok pukul lima?”

Ningrum terus berjalan.

“Ning?”

Perempuan itu akhirnya menoleh.

Senyumnya masih sama seperti dua puluh tahun lalu.

“Datang saja.”

Arga menunggu.

Ningrum menambahkan,

“Tapi kali ini, jangan buat aku menunggu dua puluh tahun lagi.”

Arga tersenyum.

*******

Sore itu Solo tidak mengembalikan masa muda mereka.

Tidak pula mengganti dua puluh tahun yang hilang.

Beberapa kehilangan memang tidak dapat dikembalikan. Tetapi hidup, kadang-kadang, masih berbaik hati memberikan halaman berikutnya.

Solo memberi mereka kesempatan yang jauh lebih sederhana: tidak kehilangan hari esok hanya karena pernah kehilangan kemarin.

Sebab cinta tidak selalu tentang siapa yang datang paling cepat. Bukan pula tentang siapa yang tidak pernah pergi.

Ada memang cinta yang pernah salah membaca keadaan, terlambat bertanya, kehilangan alamat, bahkan tersesat selama dua puluh tahun; tetapi masih mengenali jalan pulang ketika akhirnya diberi kesempatan.

Dan barangkali itulah sebabnya Arga memilih pukul lima.

Bukan karena Solo paling cantik pada jam itu. Bukan pula karena Ningrum selalu pulang pada waktu yang sama.

Melainkan karena dua puluh tahun lalu, di tempat itu, ia pernah meninggalkan sebuah janji.

Dan tepat pukul lima sore itu, ia akhirnya datang untuk menjemputnya kembali.

Jakarta, 20 September 2026

Penulis: Nurul Jannah Editor: Redaksi Dbn