Scroll untuk baca artikel
Berita

Mencari Dewa Ruci di Luar Layar Gawai

3
×

Mencari Dewa Ruci di Luar Layar Gawai

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Bantul

Hari-hari ini, “guru” begitu gampang ditemukan sekaligus begitu mudah kehilangan makna. Cukup menyapu jempol di atas layar telepon pintar, ratusan petuah meluncur tajam, kutipan-kutipan moral dijajakan, dan kebenaran mengepul cepat seperti uap air panas. Namun, di tengah banjir keahlian instan yang kerap miskin keteladanan itu, manusia justru makin sering merasa tersesat.

Maka, ada alasan yang presisi mengapa orang-orang berkumpul di Gedung Kesenian Desa Sumberjo, Kecamatan Batu, pada Rabu malam, 12 Agustus 2026.

Di sana, orang-orang tidak sedang berpaling pada cahaya silau gawai. Mereka memilih duduk tenang menatap kelir selembar layar kain putih tempat bayang-bayang wayang dihidupkan. Malam itu, Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (PC Lesbumi) Kota Batu kembali menggelar majelis dwimingguan Ngaji dan Diskusi Budaya.

Masuk pada sesi kedua, fokus kajian ditujukan pada salah satu warisan sastra paling legendaris di tanah Jawa: Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta Hadiningrat.

Suasana tidak dibangun dengan ketergesaan. Selepas azan Isya luruh, Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Sumberjo memimpin pembacaan istighosah. Gema Syi’ir Tanpo Waton kemudian membubung dipandu Panca Rahmat Pamungkas. Shalawat dan kidung itu seolah menyucikan ruang batin, melapangkan dada sebelum majelis masuk ke kedalaman ajaran luhur.

Lalu, kelir dibeber. Ki Hafiz Arghani, seorang dalang cilik asal Kota Batu yang belakangan viral di media sosial, memegang cempala. Kendati jemarinya masih mungil, gerakannya lincah dan terampil menghidupkan lakon Dewa Ruci.

Di atas layar kain itu, kita menyaksikan Bima atau Sena menembus gemuruh samudera demi mencari Tirta Perwitasari. Sebuah perjalanan nekat atas perintah gurunya, Resi Drona. Namun Bima bukan sosok yang ragu; ia melambangkan ketulusan, kepasrahan, dan keberanian mutlak seorang murid. Hingga akhirnya di kedalaman samudra yang sunyi, ia tidak menemukan air ajaib, melainkan bertemu dengan Dewa Ruci sosok mungil yang menyadarkan bahwa pencerahan sejati sesungguhnya bersemayam di dalam kedalaman diri sendiri.

Pemilihan lakon Dewa Ruci malam itu bukanlah kebetulan visual semata. Pengurus Lesbumi sengaja menyelaraskan gerak bayangan wayang tersebut dengan bait-bait klasik Serat Wulangreh, khususnya pupuh Dhandhanggula pada (bait) 4, 5, dan 6. Usai wayang ditancapkan, Ki Sutopo melantunkan suluk serta tembang Dhandhanggula bait demi bait. Cengkok suara yang dibawakannya bergetar, seolah membawa pesan abad ke-18 melintasi ruang dan waktu.

Di bawah panduan moderator Alfi Saifullah, yang juga menjabat sebagai Sekretaris PC Lesbumi Kota Batu, alur diskusi mengalir hidup. Narasumber utama malam itu, M. Fathul H. Panotoprojo Ketua PC Lesbumi Kota Malang sekaligus Pengasuh Pesantren Budaya Karanggenting membuka tabir filosofis dari wejangan Pakubuwana IV.

“Pilihun ingkang amengku sastra, ngelmu lan laku nyata…” sitir Fathul di hadapan para jamaah.

Fathul menerangkan bahwa melalui pupuh Dhandhanggula bait 4, 5, dan 6, Pakubuwana IV telah memberi peringatan dini agar manusia tidak gampang terperdaya oleh bungkus luar atau retorika lahiriah seseorang. Sosok “Guru Sejati” harus memanggul empat pilar utama: pemahaman syariat (reke kang amengku sastra),penguasaan ilmu, martabat karakter (hakikat), serta rekam jejak amaliah (laku nyata) yang konsisten.

Pesan Wulangreh ini menemukan urgensinya saat ditarik ke era hari ini. Di jagat digital yang bising, tidak sedikit orang tergiur mencari guru secara instan. Mereka terpikat oleh figur-figur yang mahir memamerkan keahlian di layar kaca, namun fakir dalam kedalaman sanad dan keteladanan moral.

“Lakon Bima mencari Dewa Ruci dan petunjuk Pakubuwana IV mengajarkan kita bahwa ilmu sejati membutuhkan ketulusan hati, keteguhan (tirakat), dan kerendahan jiwa,” tegas Fathul.

Kedalaman materi tidak lantas membuat majelis di Desa Sumberjo menjadi kaku dan menengadah di menara gading. Ketika seluruh pemaparan selesai, Ki Suwandi memimpin doa penutup memanjatkan keselamatan bagi bangsa, keberlanjutan pelestarian budaya, serta keberkahan ilmu yang telah dianggit bersama.

Namun, bubarnya doa tidak serta-merta membubarkan ingatan. Acara berlanjut menjadi jagongan lesehan yang hangat. Ditemani cangkir-cangkir kopi hitam hangat dan camilan khas desa, para tokoh agama, budayawan muda, komunitas wayang, hingga warga sekitar terus melarutkan malam dalam diskusi interaktif.

Di atas tikar sederhana itu, di antara kepulan uap kopi yang perlahan menipis, mereka membuktikan bahwa pencarian akan Guru Sejati tidak pernah selesai di dalam gedung ia terus menjalar ke dalam hidup sehari-hari.

Penulis: Aethera AditiEditor: Redaksi Dbn