Scroll untuk baca artikel
BeritaKesehatan

Ke Mana Perginya Energi Kita?

14
×

Ke Mana Perginya Energi Kita?

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Jakarta

Ke Mana Perginya Energi Kita?

Oleh: Sandri Justiana

Ada satu kalimat yang sering kita ucapkan tanpa berpikir panjang.

“Saya tidak punya waktu.”

Tidak punya waktu untuk berolahraga.

Tidak punya waktu untuk memasak makanan yang lebih sehat.

Tidak punya waktu untuk beristirahat.

Namun, benarkah yang kita kekurangan adalah waktu?

Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama: dua puluh empat jam dalam sehari.

Yang membedakan sering kali bukan waktunya, melainkan energinya.

Tubuh Tidak Kehabisan Waktu

Tubuh tidak pernah berkata, “Hari ini waktuku habis.”

Yang terjadi adalah energi perlahan berkurang.

Bahkan ketika kita sedang duduk, tubuh tetap bekerja.

Jantung berdetak tanpa henti.

Paru-paru terus mengembang dan mengempis.

Otak memproses ribuan informasi.

Jutaan sel memperbaiki jaringan, mengatur hormon, dan menjaga keseimbangan tubuh.

Semua itu membutuhkan energi.

Tubuh tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Energi Habis Sedikit demi Sedikit

Kita sering mengira energi habis karena satu pekerjaan besar.

Padahal lebih sering ia terkuras oleh kebiasaan kecil yang terus berulang.

Tidur yang kurang satu jam setiap malam.

Duduk terlalu lama.

Kurang minum air putih.

Stres yang tidak pernah benar-benar selesai.

Terlalu banyak menatap layar.

Melewatkan sarapan.

Masing-masing tampak sepele.

Namun ketika dikumpulkan hari demi hari, tubuh mulai kehilangan cadangan energinya.

Lelah pun perlahan menjadi sesuatu yang dianggap normal.

Padahal, tubuh sedang berusaha menyampaikan pesan.

Kabar Baiknya

Energi juga dibangun dengan cara yang sama.

Sedikit demi sedikit.

Tidak perlu menunggu liburan panjang.

Tidak perlu langsung mengubah seluruh gaya hidup.

Cukup mulai dari pilihan-pilihan sederhana.

Tidur sedikit lebih awal.

Berjalan kaki beberapa menit.

Memenuhi kebutuhan cairan.

Mengelola stres.

Mengonsumsi makanan bergizi.

Dan bila diperlukan, melengkapi rutinitas dengan dukungan dari bahan-bahan alami.

Yang membuatnya berdampak bukan karena dilakukan sekali.

Melainkan karena dilakukan berulang.

Rutinitas Selalu Memiliki Teman Perjalanan

Setiap orang memiliki cara yang berbeda menjaga energinya.

Ada yang memulai pagi dengan segelas air putih.

Ada yang memilih berjalan kaki sebelum bekerja.

Ada yang menyediakan waktu beberapa menit untuk menenangkan pikiran.

Ada pula yang melengkapi rutinitas sehatnya dengan produk berbahan alami yang telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua orang.

Namun ada satu kesamaan.

Mereka tidak menunggu tubuh benar-benar kehabisan energi untuk mulai peduli.

Menghargai Energi, Menghargai Kehidupan

Energi bukan sekadar soal tidak mengantuk.

Energi adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan.

Memiliki tenaga untuk bekerja dengan baik.

Bercengkerama dengan keluarga tanpa merasa lelah.

Beribadah dengan khusyuk.

Bermain bersama anak.

Menolong orang lain.

Menikmati hari dengan lebih utuh.

Pada akhirnya, menjaga energi bukan tentang mengejar produktivitas tanpa batas.

Melainkan memberi tubuh kesempatan untuk terus melakukan yang terbaik, setiap hari.

Karena tubuh tidak meminta kita menjadi sempurna.

Ia hanya berharap kita sedikit lebih peduli daripada kemarin.

Dan seperti semua hal baik dalam hidup, energi yang kuat tidak dibangun dalam semalam.

Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang kita ulang dengan setia.

Belajar dari Alam. Menjaga Kehidupan.

Penulis: Sandri Justiana Editor: Redaksi Dbn