Scroll untuk baca artikel
BeritaCERPENSerial cerita viral DBN

MENUA SAMPAI SENJA, KARENA CINTA SUCI… BIDADARI CINTAKU

3
×

MENUA SAMPAI SENJA, KARENA CINTA SUCI… BIDADARI CINTAKU

Sebarkan artikel ini

MENUA SAMPAI SENJA, KARENA CINTA SUCI… BIDADARI CINTAKU

Sebuah Cerpen tentang Cinta yang Tidak Menyerah pada Usia

Karya: Kibagus AH(Pimpinan Umum Duta Berita Nusantara/Penulis)

Senja selalu punya cara sendiri untuk membuat manusia mengingat sesuatu.

Entah tentang seseorang.

Entah tentang sebuah janji.

Atau tentang cinta yang pernah kita kira sudah selesai, padahal diam-diam masih tinggal di sudut hati.

Di sebuah bangku kayu yang menghadap danau, seorang lelaki tua duduk dengan tenang.

Rambutnya telah memutih.

Wajahnya tidak lagi setegas ketika muda.

Namun matanya masih menyimpan cahaya yang sama.

Di sebelahnya duduk seorang perempuan yang rambutnya juga telah dipenuhi uban.

Tangannya menggenggam tangan lelaki itu.

Tidak erat.

Tidak juga longgar.

Cukup untuk mengatakan:

“Aku masih di sini.”

Lelaki itu tersenyum.

“Sudah sore.”

Perempuan itu menoleh.

“Memangnya kenapa?”

“Sebentar lagi senja.”

Perempuan itu ikut memandang matahari yang perlahan turun di balik cakrawala.

“Bukankah kita memang suka senja?”

Lelaki itu tertawa kecil.

“Dulu.”

“Sekarang juga.”

“Kenapa?”

Perempuan itu tersenyum.

“Karena senja mengajarkan kita sesuatu.”

“Apa?”

“Tidak semua yang berakhir itu benar-benar kehilangan.”

Lelaki itu terdiam.

Perempuan tersebut menyandarkan kepalanya di bahunya.

“Kadang sesuatu hanya berubah bentuk.”

“Seperti kita?”

“Ya.”

“Dulu kita berjalan berdampingan.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku harus berjalan sedikit lebih pelan supaya bisa mengikutimu.”

Perempuan itu tertawa.

“Padahal dulu kau yang selalu menyuruhku jangan terlalu cepat.”

Lelaki itu tersenyum.

“Karena dulu aku takut kehilanganmu.”

Perempuan itu terdiam.

Kemudian bertanya pelan,

“Sekarang?”

Lelaki itu menggenggam tangannya.

“Sekarang aku tahu…”

Ia berhenti sejenak.

“…kehilanganmu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah ingin aku pelajari.”

20 Tahun Sebelumnya

Mereka tidak selalu seperti ini.

Dulu mereka adalah dua manusia muda yang percaya bahwa cinta cukup untuk menghadapi dunia.

Namanya Rafan.

Dan perempuan itu bernama Kirana.

Mereka bertemu bukan di tempat yang istimewa.

Tidak ada hujan romantis.

Tidak ada musik.

Tidak ada adegan seperti dalam film.

Mereka hanya bertemu di sebuah perpustakaan kecil pada suatu sore.

Kirana menjatuhkan beberapa buku.

Rafan membantu memungutnya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Kirana mengambil bukunya.

Lalu berjalan pergi.

Hanya itu.

Pertemuan pertama mereka.

Namun Tuhan rupanya mempunyai rencana yang jauh lebih panjang.

Mereka bertemu lagi.

Kemudian lagi.

Dan lagi.

Sampai akhirnya, tanpa mereka sadari…

mereka mulai saling menunggu.

Menunggu pesan.

Menunggu pertemuan.

Menunggu suara.

Menunggu senyum.

Sampai suatu hari Rafan berkata,

“Kalau suatu saat nanti aku tua…”

Kirana tertawa.

“Jangan bicara soal tua.”

“Kenapa?”

“Aku ingin mengenalmu dalam semua usia.”

Rafan tersenyum.

“Semua usia?”

“Semua.”

“Termasuk ketika rambutku putih?”

“Termasuk.”

“Ketika jalanku sudah tidak tegap?”

“Masih.”

“Ketika wajahku penuh kerutan?”

Kirana memandangnya lama.

Kemudian berkata,

“Kalau nanti wajahmu penuh kerutan, aku akan tetap mencari wajahmu di antara semua manusia.”

Rafan terdiam.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mencintai wajahmu.”

Kirana tersenyum.

“Aku mencintai orang yang ada di balik wajah itu.”

Kalimat sederhana itu…

tidak pernah Rafan lupakan.

Lalu waktu menguji mereka.

Kehidupan tidak selalu seindah janji yang dibuat di masa muda.

Ada hari ketika mereka harus berjauhan.

Ada pekerjaan.

Ada keluarga.

Ada masalah.

Ada kesalahpahaman.

Ada malam-malam panjang ketika keduanya hanya bisa menatap layar telepon tanpa tahu harus berkata apa.

Pernah pula mereka bertengkar.

Pernah saling diam.

Pernah merasa bahwa cinta mereka terlalu berat untuk dipertahankan.

Namun setiap kali salah satu hendak pergi…

yang lain selalu menemukan alasan untuk kembali.

Bukan karena mereka tidak pernah terluka.

Justru karena mereka belajar bahwa cinta bukan tentang tidak pernah menyakiti.

Cinta adalah tentang tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk berhenti berusaha memperbaiki.

Sampai suatu malam…

Kirana jatuh sakit.

Rafan duduk di samping tempat tidurnya.

Untuk pertama kalinya, lelaki yang selama ini terlihat kuat itu menangis.

Kirana membuka mata.

“Kok menangis?”

Rafan segera menghapus air matanya.

“Tidak.”

“Kamu bohong.”

Rafan tersenyum.

“Aku cuma…”

Ia terdiam.

Kirana menggenggam tangannya.

“Takut?”

Rafan mengangguk.

“Takut kehilangan kamu.”

Kirana tersenyum lemah.

“Bukankah dulu aku sudah bilang?”

“Apa?”

“Aku akan mengenalmu di semua usia.”

Rafan menunduk.

“Kalau salah satu dari kita pergi dulu?”

Kirana diam.

Kemudian berkata,

“Jangan takut.”

“Bagaimana aku tidak takut?”

“Karena cinta yang benar tidak selesai ketika seseorang pergi.”

Rafan menatapnya.

“Lalu?”

“Cinta akan tinggal…”

Kirana menarik napas.

“…di dalam cara kita mengingat.”

Beberapa hari kemudian, Kirana membaik.

Dan mereka memutuskan melakukan sesuatu yang sederhana.

Pergi ke tempat yang sejak dulu mereka sukai.

Danau.

Tempat mereka pernah membuat banyak janji.

Mereka duduk di bangku kayu.

Matahari mulai tenggelam.

Kirana membuka tas kecilnya.

Mengeluarkan dua cangkir kopi.

Rafan tertawa.

“Masih ingat?”

“Selalu.”

“Dulu kamu selalu bilang kopi buatanku terlalu pahit.”

“Memang.”

“Terus kenapa masih diminum?”

Kirana menatapnya.

“Karena yang membuatnya kamu.”

Rafan tertawa.

“Jawabanmu dari dulu memang begitu.”

“Karena kamu dari dulu memang mudah dibohongi.”

Mereka tertawa bersama.

Tawa dua orang yang telah melewati begitu banyak badai.

Kemudian Kirana menyandarkan kepala di bahu Rafan.

“Rafan…”

“Hmm?”

“Kalau nanti kita sudah benar-benar tua…”

“Kita sudah tua sekarang.”

“Jangan potong.”

Rafan tersenyum.

“Baik.”

“Kalau nanti kita sudah sangat tua…”

“Ya?”

“Bawa aku ke sini lagi.”

Rafan menatapnya.

“Kenapa?”

“Aku ingin melihat senja bersamamu.”

Rafan menggenggam tangannya.

“Janji.”

Dan hari itu akhirnya tiba.

Puluhan tahun kemudian…

mereka kembali ke tempat yang sama.

Bangku kayu itu masih ada.

Danau itu masih memantulkan cahaya matahari.

Senja masih datang dengan warna keemasan.

Hanya mereka yang berubah.

Rafan kini berjalan dengan tongkat.

Kirana harus memegang lengannya agar tidak kehilangan keseimbangan.

Mereka duduk.

Diam.

Lama.

Kemudian Kirana tersenyum.

“Rafan…”

“Ya?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Sudah menemaniku sampai sejauh ini.”

Rafan menatapnya.

“Aku justru yang harus berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena kamu sudah menjadi rumah yang tidak pernah memintaku untuk pulang dengan sempurna.”

Kirana tersenyum.

Air mata menggenang di sudut matanya.

“Kalau nanti aku tidak bisa berjalan…”

“Aku akan berjalan lebih pelan.”

“Kalau nanti aku tidak bisa melihat?”

“Aku akan menjadi matamu.”

“Kalau nanti aku tidak bisa mendengar?”

“Aku akan tetap berbicara.”

“Kalau nanti aku tidak bisa mengingatmu?”

Rafan terdiam.

Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.

Kemudian ia menggenggam tangan Kirana.

“Kalau suatu hari nanti kamu lupa siapa aku…”

Ia tersenyum sambil menahan air mata.

“…aku akan memperkenalkan diriku kepadamu lagi.”

Kirana menangis.

“Setiap hari?”

“Setiap hari.”

“Tidak bosan?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Rafan menatapnya dalam-dalam.

“Karena jatuh cinta kepadamu adalah hal yang paling ingin kuulangi sepanjang hidupku.”

Kirana tersenyum di balik air matanya.

Kemudian perlahan menyandarkan kepala di bahu Rafan.

Matahari semakin rendah.

Langit berubah menjadi jingga.

Dan untuk beberapa saat…

mereka hanya diam.

Tidak perlu kata-kata.

Karena setelah puluhan tahun bersama…

mereka akhirnya memahami bahwa cinta sejati tidak selalu membutuhkan kalimat indah.

Kadang…

sebuah tangan yang tetap menggenggam tangan kita ketika tubuh sudah tidak sekuat dulu, jauh lebih romantis daripada seribu puisi.

Rafan memandang matahari.

“Senjanya indah.”

Kirana tersenyum.

“Bukan senjanya.”

“Lalu?”

“Kita.”

Rafan tertawa kecil.

“Kamu masih suka menggoda.”

“Karena kamu masih suamiku.”

Rafan menggenggam tangannya.

“Dan kamu…”

Ia menatap Kirana.

“…masih bidadari cintaku.”

Kirana tersenyum.

“Bidadari yang sudah tua?”

“Bidadari tetap bidadari.”

“Kalau begitu kamu apa?”

Rafan tersenyum.

“Orang yang paling beruntung.”

Mereka kembali menatap senja.

Cahaya terakhir matahari perlahan menghilang.

Namun tidak ada kesedihan.

Sebab mereka tahu…

senja bukan akhir dari sebuah hari.

Senja hanyalah pengingat bahwa sesuatu yang indah boleh berakhir…

agar kita belajar menghargai setiap detik ketika ia masih ada.

Dan cinta mereka pun demikian.

Tidak harus abadi dalam bentuk usia.

Cukup abadi dalam kenangan.

Dalam doa.

Dalam kesetiaan.

Dalam sebuah tangan yang tetap menggenggam meski rambut telah memutih.

Dalam sebuah hati yang masih berkata:

“Aku memilihmu.”

Hari ini.

Besok.

Dan…

sampai senja terakhir.

EPILOG

Ketika malam mulai turun, Rafan dan Kirana bangkit perlahan dari bangku itu.

Mereka berjalan pulang beriringan.

Tidak tergesa.

Tidak mengejar waktu.

Karena mereka akhirnya mengerti…

cinta bukan tentang seberapa cepat kita sampai pada akhir.

Cinta adalah tentang…

siapa yang tetap berjalan di samping kita ketika jalan itu semakin panjang dan langkah kita semakin lambat.

Dan jika kelak dunia bertanya kepada mereka,

“Apa arti cinta yang sebenarnya?”

Mungkin jawabannya sederhana:

“Menemukan seseorang yang ingin kita genggam tangannya bukan hanya ketika matahari terbit… tetapi juga ketika senja datang.”

TAMAT.

Tim Editor : Ki Bagus & Kirana Entertainment (Penulis/Pegiat Sosial,Budaya, Politik,Anti Korupsi/Management Kreator)

Penulis: BagusEditor: Redaksi Dbn