Scroll untuk baca artikel
Serba Serbi

SEBUTIR NASI

4
×

SEBUTIR NASI

Sebarkan artikel ini

SEBUTIR NASI

Oleh : Nurul Jannah

Yang Kita Sisakan, Pernah Diperjuangkan

Pagi ini, sebelum meninggalkan meja makan, coba pandang nasi yang masih tersisa di piring.

Mungkin hanya satu sendok.

Terlalu sedikit untuk dipikirkan.

Terlalu biasa untuk disesali.

Tangan kita mungkin dengan ringan akan menyapunya ke tempat sampah. Selesai.

Tetapi benarkah perjalanan nasi itu selesai begitu saja?

Bukankah sebelum menjadi nasi, ia pernah menjadi sebutir benih?

Ada tangan yang menanamnya ke tanah.

Ada petani yang bangun ketika sebagian dari kita masih terlelap.

Kakinya masuk ke lumpur, punggungnya membungkuk, wajahnya berkali-kali diterpa panas.

Ia menunggu hujan.

Mengalirkan air.

Menjaga tanaman dari hama.

Menatap langit dengan harapan yang mungkin sederhana: semoga panen kali ini berhasil

Berbulan-bulan ia menunggu.

Sementara kita hanya membutuhkan beberapa detik untuk membuangnya.

Betapa jauh perjalanan sebutir nasi sebelum sampai di piring.

Ada tanah yang memberinya tempat tumbuh.

Ada air yang menghidupkannya.

Ada matahari yang menguatkannya.

Ada petani yang menjaganya.

Ada kendaraan yang mengangkutnya.

Ada pedagang yang menjualnya.

Ada tangan yang mencuci dan memasaknya.

Ada energi yang digunakan.

Ada bumi yang bekerja begitu panjang, hanya agar satu hari ia sampai di meja makan kita.

Lalu kita mengambil terlalu banyak.

Makan beberapa suap. Lalu kenyang. Dan sisanya? Dibuang begitu saja.

Barangkali selama ini kita keliru melihat makanan.

Kita melihat nasi hanya sebagai nasi.

Padahal di dalamnya ada air, tanah, energi, waktu, keringat, dan kehidupan.

Ketika makanan dibuang, yang terbuang bukan hanya apa yang terlihat di piring.

Ada sumber daya yang ikut disia-siakan.

Dan tiba-tiba, dari satu sendok nasi yang tadi tampak tidak berarti memunculkan sebuah pertanyaan: Sudahkah kita menghargai apa yang begitu mudah kita nikmati?

Bisa jadi karena makanan tersedia begitu mudahnya setiap hari, menjadikan kita lupa bahwa di tempat lain ada meja makan yang tidak selalu mengepulkan nasi.

Sementara di meja lain, makanan dibuang hanya karena mata mengambil lebih banyak daripada yang mampu dihabiskan perut.

Di situlah rasa syukur menemukan bentuknya.

Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah sebelum dan sesudah makan.

Syukur juga berarti tidak menyia-nyiakan nikmat yang telah sampai ke tangan.

Kita sering membayangkan mencintai bumi harus dimulai dari perkara besar.

Menanam ribuan pohon.

Membersihkan puluhan sungai.

Menyelamatkan puluhan hutan.

Melakukan gerakan besar lainnya yang dilihat banyak orang.

Padahal pagi ini bumi mungkin hanya meminta hal yang sangat sederhana:

Habiskan makananmu.

Ambil secukupnya.

Kalau kurang, tambah.

Kalau berlebih, bagikan.

Ajarkan hal yang sama kepada anak-anak.

Bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan piring kita sendiri.

Sebab anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan.

Mereka belajar dari apa yang kita contohkan.

Bayangkan jika satu keluarga mulai berhenti membuang makanan.

Lalu satu RT.

Satu sekolah.

Satu kantor.

Satu restoran.

Satu kota.

Kebaikan besar sering kali tidak dimulai dari panggung besar.

Ia lahir dari keputusan kecil yang dilakukan terus-menerus sampai akhirnya menjadi budaya.

Dan, salah satu tempat terbaik untuk memulai mencintai bumi bukanlah hutan yang jauh.

Bukan pula laut yang luas.

Juga bukan gunung yang tinggi.

Tetapi meja makan kita sendiri.

Maka esok pagi, ketika ada sebutir nasi tertinggal di piring, jangan buru-buru melihatnya sebagai sisa.

Lihatlah sawah di dalamnya.

Lihatlah air.

Lihatlah matahari.

Lihatlah petani yang membungkuk di bawah terik.

Lihatlah begitu banyak tangan yang bekerja sebelum makanan itu sampai kepada kita.

Kemudian tanyakan perlahan kepada diri sendiri: Pantaskah perjalanan sepanjang itu berakhir di tempat sampah?

Ambillah makanan secukupnya.

Habiskan dengan rasa syukur

Sebab menghargai makanan bukan hanya perkara perut.

Ia adalah penghormatan kepada manusia yang menanamnya, kepada bumi yang menumbuhkannya, dan kepada Allah SWT yang menghadirkannya sebagai rezeki.

Jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Karena bagi kita, mungkin ia hanya sebutir nasi yang tersisa. Namun bagi orang lain, sebutir itu bisa jadi adalah yang sedang mereka doakan agar tersedia hari ini

Jakarta, 3 September 2026