Bogor | Duta Berita Nusantara
SEBELUM BANDUNG MELEPAS KAMI
Oleh: Nurul Jannah
Enam Srikandi, Sebuah Monumen, dan Kenangan yang Tak Ikut Pulang
Hari itu, 5 September 2026, enam Srikandi NJD baru saja melewati hari yang panjang di Savoy Homann, Bandung.
Milad ke-19 Indscript memenuhi hari kami sejak pagi dengan perjumpaan, cerita, tawa, foto, dan kegembiraan. Rasanya baru sebentar kami datang, tahu-tahu sore mulai mengambil alih langit Bandung.
Tubuh sudah memberi tanda ingin beristirahat. Tetapi rupanya hati belum rela mengakhiri Bandung.
“Ke Monumen Bandung Lautan Api dulu, yuk.”
Celetukan itu meluncur begitu saja dari *Bu Canting*. Sebagai tuan rumah, rupanya beliau belum rela melepas kami sebelum mengajak enam perempuan ini singgah di salah satu tempat yang menyimpan ingatan penting tentang keberanian Kota Bandung.
Ajaibnya, kalimat pendek itu sukses membuat rasa lelah kehilangan hak suaranya.
Kami pun langsung sepakat. Maka meluncurlah enam perempuan yang seharian penuh sudah berkegiatan, tetapi masih mempunyai tenaga cadangan untuk satu urusan penting: membuat kenangan.
Di Hadapan Sebuah Ingatan
Sesampainya di kawasan Tegallega, kami berdiri dengan Monumen Bandung Lautan Api menjulang di hadapan kami.
Kokoh.
Putih.
Menembus birunya langit Bandung.
Ada saat ketika kami menghadap kamera. Ada saat ketika kami membalikkan badan, mengangkat tangan, lalu menunjuk ke arah monumen.
Dan, Klik!
Enam perempuan. Sebuah monumen. Langit biru. Dan sejarah yang diam-diam berdiri di belakang kami.
Ketika melihat foto itu kembali, aku merasa kami bukan hanya sedang menunjuk sebuah bangunan.
Kami sedang menunjuk ingatan.
Monumen Bandung Lautan Api di kawasan Tegallega dibangun untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946. Ketika itu, sebagian Bandung dibumihanguskan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Warga meninggalkan rumah, sementara para pejuang memilih agar wilayah Bandung tidak begitu saja dapat dikuasai dan dimanfaatkan pihak lawan.
Cobalah membayangkannya.
Meninggalkan rumah yang dibangun bertahun-tahun. Kamar tempat anak-anak dibesarkan. Halaman tempat keluarga bercengkerama. Pintu yang setiap hari dibuka untuk pulang. Lalu berjalan pergi sambil mengetahui bahwa sebagian kota yang dicintai akan berubah menjadi lautan api.
Mendadak monumen di hadapan kami terasa berbeda.
Ia bukan lagi latar cantik untuk sebuah foto. Ia berbicara tentang keberanian. Tentang kehilangan. Tentang pengorbanan. Tentang cinta yang pada suatu masa harus dibuktikan dengan keberanian melepaskan apa yang paling dicintai.
Dan sore itu, enam perempuan menitipkan sebuah kenangan kecil di hadapan monumen yang menyimpan kenangan jauh lebih besar.
Mengapa Kami Singgah?
Jawabannya sebenarnya sederhana. Kami hanya ingin berhenti sebentar.
Berfoto.
Tertawa.
Dan menghadiahkan sedikit waktu kepada persahabatan. Kami enam perempuan dengan kesibukan berbeda.
Enam perjalanan hidup.
Enam cerita.
Dan hari itu, Alhamdulillah, agenda milad Indscript, berhasil mempertemukan kami di waktu dan kota yang sama.
Percayalah, pada usia dan kesibukan seperti sekarang, mengumpulkan enam perempuan dalam satu waktu terkadang lebih rumit daripada menyelenggarakan seminar nasional.
Ada pekerjaan.
Ada keluarga.
Ada tanggung jawab.
Ada jadwal yang nyaris tidak pernah benar-benar kosong.
Selalu ada alasan untuk berkata, “Lain kali saja.”
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak “lain kali” yang masih disediakan kehidupan.
Karena itulah berdiri berdampingan, tertawa, saling menggoda, dan berfoto bersama ternyata merupakan kemewahan.
Karena waktu adalah bagian dari hidup yang tidak pernah dapat kita beli kembali.
Lalu mengapa harus singgah di sana?
Barangkali karena perjalanan yang indah tidak selalu membutuhkan tujuan besar.
_Kadang kita hanya membutuhkan jeda._
Berhenti.
Menoleh.
Tertawa.
Lalu menyimpan hari itu baik-baik sebelum waktu membawanya pergi.
Yang Tidak Tertangkap Kamera
Aku kembali memandangi foto kami.
Ada yang berkacamata hitam. Ada yang membawa tas. Ada yang berdiri manis. Ada yang sibuk bergaya.
Ada pula yang sepertinya selalu siap begitu mendengar aba-aba, “Foto lagi, yuk!”
Enam perempuan.
Enam cerita.
Satu kebahagiaan yang sama.
Namun foto hanya mampu membekukan sepersekian detik. Kenangan menyimpan jauh lebih banyak daripada yang sanggup ditangkap kamera.
Kamera tidak merekam lelah kami setelah seharian berkegiatan. Tidak merekam obrolan sepanjang perjalanan. Tidak merekam candaan receh yang hanya kami sendiri tahu mengapa bisa begitu lucu. Dan tentu saja, kamera tidak mampu menangkap cerita yang diam-diam dibawa setiap perempuan di dalam hatinya.
Di balik enam senyum itu ada perjalanan panjang.
Ada keberhasilan yang pernah dirayakan.
Ada kegagalan yang mengajarkan ketegaran.
Ada kehilangan.
Ada harapan.
Ada luka yang mungkin sudah pulih.
Ada doa yang masih diperjuangkan.
Dan mungkin ada hari-hari ketika masing-masing dari kami pernah tersenyum, meskipun hidup sedang tidak baik-baik saja.
Barangkali itulah mengapa semakin bertambah usia, pertemuan sederhana terasa semakin mahal.
Kita mulai memahami bahwa kebersamaan tidak selalu dapat diulang.
Orang yang hari ini berdiri di sebelah kita, belum tentu tahun depan mempunyai kesempatan yang sama.
Jadwal berubah. Kesibukan bertambah. Kehidupan bergerak.
Dan waktu tidak pernah meminta izin sebelum mengubah banyak hal.
Monumen Kehilangan, Foto Kebahagiaan
Di hadapan Monumen Bandung Lautan Api, aku menemukan sebuah ironi yang indah.
Monumen itu dibangun untuk mengingat sebuah kehilanganSementara kami berdiri di depannya untuk menciptakan sebuah kenangan.
Dahulu, ada orang-orang yang meninggalkan Bandung dengan hati berat.
Sore itu, kami pun sebentar lagi akan meninggalkan Bandung; tentu dalam kisah yang sama sekali berbeda.
Namun keduanya seperti membisikkan pelajaran yang sama: sering kali kita baru memahami betapa berharganya sebuah tempat, sebuah waktu, bahkan sebuah kebersamaan, ketika tiba saatnya untuk meninggalkannya.
Bukankah persahabatan juga demikian?
Ia tidak cukup hanya disimpan di dalam hati.
Persahabatan perlu disapa.
Diluangkan waktu.
Dikunjungi.
Dipeluk.
Ditertawakan bersama.
Sebab waktu bersama orang-orang yang kita sayangi bukanlah waktu luang. Kitalah yang harus sengaja meluangkan waktu.
Hari itu kami tidak lama berada di sana. Tidak ada panggung seperti beberapa jam sebelumnya di Savoy Homann. Tidak ada moderator yang mengingatkan waktu.
Hanya enam perempuan di bawah langit Bandung. Namun justru di sanalah aku kembali memahami bahwa hidup tidak selalu dikenang karena peristiwa-peristiwa besar.
Kadang yang menetap justru persinggahan kecil. Tawa yang tidak direncanakan. Foto yang harus diulang karena belum semua siap. Candaan yang beberapa tahun lagi mungkin kami sendiri lupa apa lucunya.
Dan sebuah ajakan sederhana: “Ke Monumen Bandung Lautan Api dulu, yuk.”
Sebelum Bandung Melepas Kami
Waktu akhirnya kembali meminta kami berjalan.
Kami harus bergerak.
Monumen Bandung Lautan Api akan tetap berdiri di sana, menjaga ingatan tentang sebuah kota yang pernah terbakar tetapi tidak kehilangan keberaniannya.
Bandung akan terus melanjutkan ceritanya. Begitu pula kami. Kembali kepada pekerjaan. Keluarga. Tanggung jawab. Mimpi. Dan jalan hidup masing-masing.
Tetapi satu senja telah kami simpan.
Kelak kami barangkali lupa pukul berapa tiba di sana. Juga lupa berapa kali kamera berbunyi dan siapa yang pertama kali mengatur gaya.
Tetapi semoga kami tidak pernah lupa bagaimana rasanya menjadi begitu bahagia hanya karena bisa berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, bersama orang-orang yang sama-sama kita sayangi dan cintai.
Maka selagi masih bisa bertemu, singgahlah.
Selagi masih bisa bahagia, berbahagialah.
Selagi sahabat masih berjalan di samping kita, buatlah kenangan.
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari bahwa sebuah pertemuan ternyata sangat berharga.
Jangan menunggu seseorang tak lagi berada di dalam bingkai untuk menyesali mengapa dahulu kita terlalu sibuk hingga tidak sempat hadir.
Sebab pada akhirnya, yang kita bawa pulang dari sebuah perjalanan bukan hanya foto. Melainkan selaksa rasa bahagia. Karena merasa pernah diterima sebegitu indahnya.
Dan sebelum Bandung benar-benar melepas kami pulang, enam perempuan meninggalkan jejak kecil di sana, di dalam ingatan masing-masing.
Kelak, entah berapa tahun lagi, mungkin kami akan menemukan kembali foto itu.
Lalu akan menatap kembali foto itu sedikit lebih lama. Mungkin akan tertawa mengingat gaya masing-masing. Mungkin akan saling mengirimkannya kembali ke grup. Atau mungkin diam-diam mata kami mulai basah. Karena sadar pernah ada hari yang begitu berharga bagi kami, setelah ia berubah menjadi kenangan.
Hari ketika kami masih bisa berdiri berdekatan.
Menunjuk monumen.
Menghadap kamera.
Tertawa.
Dan merasa bahwa senja belum perlu berakhir dengan cepat.
Pada saat itulah kami memahami: foto memang mampu menghentikan satu detik, tetapi persahabatanlah yang membuat detik itu tetap hidup bertahun-tahun kemudian.
Dan dengan senyum yang mungkin tidak lagi sama seperti hari ini, kami akan kembali bersyukur: “Kita pernah sebahagia itu….”
Bogor, 10 September 2026













