Scroll untuk baca artikel
CERPENSerba SerbiSerial cerita viral DBN

RINDU SUDAH TIDAK MEMILIH ALAMAT

3
×

RINDU SUDAH TIDAK MEMILIH ALAMAT

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

RINDU SUDAH TIDAK MEMILIH ALAMAT

“Karena sandiwara cinta telah usai. Aku diam, pintu keluar sudah kusiapkan. Kututup mata dan hati, kupersilakan kau pergi.”

Karya: Kibagus Arfan Hasbullah

Jarak yang Perlahan Membisu

Dahulu, ada dua hati yang saling menemukan di antara begitu banyak manusia di dunia.

Mereka tidak memiliki janji yang muluk-muluk. Tidak pula menjanjikan rumah megah, kehidupan tanpa luka, atau kebahagiaan yang tak pernah berakhir.

Mereka hanya berjanji untuk saling menjaga.

Ada namanya yang selalu ditunggu di layar telepon. Ada suara yang menjadi penawar lelah setelah hari panjang. Ada pesan sederhana yang sanggup membuat malam terasa lebih hangat.

Sudah makan?

Jangan tidur terlalu malam.

Aku rindu.

Kalimat-kalimat sederhana itu pernah menjadi rumah bagi dua hati yang terpisah jarak.

Mereka percaya, sejauh apa pun kaki melangkah, cinta akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

Namun, waktu perlahan mengajarkan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.

Jarak bukan hanya tentang kilometer yang memisahkan dua kota. Jarak juga bisa tumbuh di antara dua hati yang dahulu begitu dekat, tetapi perlahan kehilangan keinginan untuk saling mendekat.

Awalnya, hanya pesan yang terlambat dibalas.

Kemudian, percakapan yang semakin singkat.

Lalu, panggilan yang tak lagi menjadi kebutuhan.

Hingga suatu hari, mereka mulai terbiasa melewati malam tanpa mendengar suara satu sama lain.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengkhianatan yang terbukti. Tidak ada perpisahan dramatis yang membuat dunia seolah berhenti berputar.

Hanya ada kesibukan, jarak, diam, dan dua manusia yang sama-sama menunggu sesuatu yang tidak lagi mereka usahakan.

Mereka masih menyimpan nomor telepon masing-masing.

Namun, tidak lagi tahu harus menulis apa.

Mereka masih mengingat nama satu sama lain.

Namun, tak lagi memiliki keberanian untuk bertanya bagaimana kabarnya.

Dan anehnya, mereka masih menyebut semuanya sebagai cinta.

—

Pesan yang Tidak Pernah Dikirim

Malam itu, perempuan itu duduk sendirian di dekat jendela.

Hujan turun perlahan. Lampu-lampu kota tampak buram di balik kaca yang dipenuhi titik air.

Ponselnya berada di atas meja.

Nama lelaki itu masih tersimpan di sana, tepat di tempat yang sama seperti berbulan-bulan lalu.

Ia membuka ruang percakapan mereka.

Pesan terakhir sudah begitu lama berlalu.

Tidak ada sapaan pagi. Tidak ada ucapan selamat tidur. Tidak ada pertanyaan sederhana tentang bagaimana hari mereka berjalan.

Ia menggulir layar ke atas, membaca percakapan lama yang pernah membuatnya tersenyum sendiri.

Ada pesan-pesan panjang tentang kerinduan.

Ada candaan kecil yang hanya mereka pahami.

Ada janji untuk bertemu ketika keadaan memungkinkan.

Ada kalimat lelaki itu yang dahulu begitu ia percaya.

“Sejauh apa pun jarak kita, jangan pernah merasa sendirian. Aku selalu ada untukmu.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena baru menyadari betapa jauh dirinya telah berjalan dari masa ketika kalimat itu masih terasa nyata.

Jarinya mulai mengetik.

Apa kabarmu?

Ia berhenti.

Lalu menghapusnya.

Ia mencoba lagi.

Aku merindukanmu.

Kalimat itu terdiam beberapa detik di layar sebelum akhirnya dihapus pula.

Bukan karena ia tidak rindu.

Justru karena ia tidak tahu apakah kerinduannya masih memiliki tempat untuk dituju.

Ia takut pesannya hanya akan menjadi gangguan di tengah kehidupan lelaki itu yang mungkin sudah berjalan baik-baik saja.

Ia takut mendapat jawaban singkat yang membuatnya sadar bahwa dirinya tidak lagi sepenting dahulu.

Dan yang paling ia takutkan adalah kemungkinan bahwa lelaki itu sebenarnya merasakan hal yang sama, tetapi memilih diam karena sudah tidak ingin kembali.

Akhirnya, ia mengunci layar ponselnya.

Malam terus berjalan.

Hujan terus turun.

Dan satu pesan yang tidak pernah dikirim kembali menjadi bagian dari rahasia hatinya sendiri.

—

Lelaki yang Juga Memilih Diam

Di kota yang berbeda, lelaki itu duduk di tepi tempat tidurnya.

Hari sudah larut. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya terbiasa pulang dalam keadaan lelah. Ia menjalani hari demi hari tanpa banyak memikirkan hal-hal yang dahulu begitu berarti.

Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.

Namun, malam itu, tanpa alasan yang jelas, ia membuka galeri foto di ponselnya.

Ada satu foto yang membuat jarinya berhenti bergerak.

Foto mereka.

Perempuan itu tersenyum di sampingnya. Sementara ia sendiri terlihat menatap kamera dengan wajah yang jauh lebih muda dan penuh keyakinan.

Saat itu, mereka pernah percaya bahwa cinta saja cukup untuk membuat dua orang bertahan.

Lelaki itu memperbesar foto tersebut.

Ia memperhatikan senyum perempuan yang dahulu menjadi alasan baginya untuk pulang lebih cepat, menyisihkan waktu, dan merencanakan pertemuan berikutnya.

Ia masih mengingat suara tawanya.

Masih mengingat cara perempuan itu memanggil namanya.

Masih mengingat betapa sederhana kebahagiaan mereka ketika bisa duduk berdua tanpa perlu membicarakan apa pun.

Lalu, ia membuka ruang percakapan mereka.

Tidak ada pesan baru.

Ia mengetik beberapa kata.

Apa kamu masih mengingatku?

Ia membaca kalimat itu berulang kali.

Kemudian menghapusnya.

Ia tidak tahu apakah perempuan itu masih menunggunya. Ia juga tidak tahu apakah dirinya masih memiliki hak untuk datang setelah sekian lama membiarkan jarak tumbuh di antara mereka.

Barangkali perempuan itu sudah bahagia.

Barangkali ia sudah melupakan semuanya.

Atau mungkin, sama seperti dirinya, perempuan itu masih sesekali membuka percakapan lama, membaca pesan-pesan yang tersisa, lalu menutupnya kembali tanpa mengatakan apa-apa.

Lelaki itu meletakkan ponselnya.

Ia ingin menghubungi perempuan itu.

Namun, keinginan tidak selalu cukup kuat untuk mengalahkan keraguan.

Ia menunggu waktu yang tepat.

Padahal, waktu tidak pernah menjanjikan bahwa kesempatan akan tetap tinggal.

Dan tanpa mereka sadari, hari-hari yang terus berlalu telah mengubah jarak menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi keheningan, dan keheningan menjadi sesuatu yang terasa semakin sulit ditembus.

—

Tidak Ada yang Benar-Benar Pergi

Yang menyedihkan dari hubungan yang berakhir dalam diam adalah tidak seorang pun benar-benar tahu kapan semuanya selesai.

Tidak ada tanggal yang bisa dikenang sebagai hari perpisahan.

Tidak ada kalimat terakhir yang dapat disimpan sebagai penutup cerita.

Tidak ada pelukan untuk melepaskan.

Tidak ada air mata yang disaksikan bersama.

Mereka hanya berhenti saling mencari.

Pada awalnya, perempuan itu masih menunggu.

Setiap kali ponselnya berbunyi, ia berharap nama lelaki itu muncul di layar.

Setiap malam, ia masih menyisakan sedikit ruang dalam pikirannya untuk kemungkinan bahwa lelaki itu akan menelepon.

Ia mencoba memahami kesibukannya.

Mencoba memaklumi jarak.

Mencoba meyakinkan dirinya bahwa cinta memang terkadang membutuhkan kesabaran.

Namun, kesabaran yang tidak pernah disertai kepastian perlahan berubah menjadi kelelahan.

Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

Sampai kapan ia harus menjadi orang yang menunggu?

Sampai kapan ia harus mencari alasan untuk membenarkan keheningan seseorang yang dahulu berjanji tidak akan membuatnya merasa sendirian?

Dan jika cinta masih ada, mengapa hanya dirinya yang terus berusaha memastikan bahwa hubungan itu belum berakhir?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah mendapatkan jawaban.

Lama-kelamaan, ia berhenti bertanya.

Bukan karena semuanya telah terjawab, melainkan karena ia mulai mengerti bahwa tidak semua pertanyaan akan memperoleh penjelasan dari orang yang menyebabkannya.

Sementara itu, lelaki itu juga memiliki pergulatannya sendiri.

Ia merindukan perempuan itu, tetapi tidak tahu bagaimana memulai kembali.

Ia ingin kembali mendengar suaranya, tetapi takut percakapan mereka hanya akan mengingatkan bahwa banyak hal telah berubah.

Ia ingin memperbaiki keadaan, tetapi tidak tahu apakah masih ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Akhirnya, ia memilih menunggu.

Dan perempuan itu juga memilih menunggu.

Dua hati yang sama-sama menanti, tetapi tidak seorang pun melangkah.

Mereka seperti dua orang yang berdiri di ujung jembatan berbeda, saling mengingat keberadaan satu sama lain, tetapi tidak lagi berusaha menyeberang.

Sampai suatu hari, keduanya mulai lelah memandangi jembatan yang sama.


Ketika Rindu Kehilangan Alamat

Ada masa ketika perempuan itu mengira bahwa merindukan seseorang berarti harus kembali kepadanya.

Ia mengira bahwa selama nama itu masih membuat dadanya terasa sesak, berarti cinta mereka belum benar-benar selesai.

Ia mengira bahwa kenangan adalah tanda bahwa hubungan tersebut masih memiliki kesempatan untuk diperjuangkan.

Namun, semakin lama ia hidup bersama kesunyian, semakin ia memahami perbedaan antara merindukan seseorang dan masih ingin memilikinya.

Ia merindukan masa ketika mereka saling menjaga.

Ia merindukan percakapan yang mengalir tanpa perlu dipaksakan.

Ia merindukan perhatian yang dahulu hadir tanpa harus diminta.

Ia merindukan dirinya sendiri, yang pernah merasa begitu aman ketika mencintai seseorang.

Tetapi apakah ia masih merindukan lelaki yang sekarang?

Lelaki yang namanya masih tersimpan di ponsel, tetapi suaranya semakin asing di telinga?

Lelaki yang pernah menjadi tempatnya bercerita, tetapi kini bahkan tidak mengetahui apa yang membuatnya menangis?

Lelaki yang dahulu selalu ingin tahu bagaimana harinya, tetapi sekarang tidak lagi bertanya apakah ia baik-baik saja?

Perempuan itu tidak memiliki jawaban yang pasti.

Ia hanya tahu bahwa sesuatu di dalam dirinya telah berubah.

Rindu itu masih ada, tetapi tidak lagi meminta untuk dipertemukan.

Kenangan itu masih tinggal, tetapi tidak lagi memaksanya untuk kembali.

Namanya masih bisa membuat perempuan itu terdiam sesaat, tetapi tidak lagi membuatnya ingin mengirim pesan.

Barangkali itulah akhir yang sebenarnya.

Bukan ketika seseorang berhenti mengingat.

Melainkan ketika ia masih mengingat, tetapi tidak lagi merasa perlu kembali.

Rindu yang dahulu memiliki alamat kini hanya menjadi perasaan yang sesekali datang tanpa tujuan.

Ia tidak tahu harus mengirimkannya kepada siapa.

Ia tidak tahu apakah lelaki itu masih menyimpannya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berusaha mencari tahu.

Sebab ada kerinduan yang tidak perlu disampaikan.

Ada cinta yang tidak harus dipertahankan sampai melukai diri sendiri.

Dan ada perpisahan yang terjadi tanpa suara, tetapi meninggalkan ruang kosong yang begitu lama terasa.

—

Kita Berakhir Tanpa Pernah Berpamitan

Waktu terus berjalan.

Perempuan itu mulai mengisi hari-harinya dengan pekerjaan, keluarga, dan hal-hal kecil yang dahulu sering ia abaikan karena terlalu sibuk menunggu seseorang.

Ia belajar menikmati pagi tanpa memeriksa ponsel berulang kali.

Ia belajar tidur tanpa berharap ada panggilan yang masuk.

Ia belajar tersenyum tanpa perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa dirinya baik-baik saja.

Tidak setiap hari terasa mudah.

Sesekali, kenangan datang tanpa permisi.

Sebuah lagu mengingatkannya pada perjalanan mereka.

Aroma hujan mengingatkannya pada malam ketika mereka berbicara begitu lama.

Sebuah tempat membuatnya teringat pada pertemuan yang pernah mereka rencanakan, tetapi tidak pernah terlaksana.

Pada saat-saat seperti itu, ia membiarkan dirinya mengingat.

Ia tidak lagi memaksa diri untuk membenci.

Sebab lelaki itu pernah menjadi bagian yang berarti dalam hidupnya.

Ia tidak ingin menghapus seluruh kenangan hanya karena hubungan mereka tidak berhasil mencapai akhir yang diharapkan.

Namun, ia juga tidak ingin menjadikan kenangan sebagai alasan untuk terus tinggal di tempat yang sama.

Sementara itu, lelaki tersebut mulai menyadari bahwa diamnya telah membawa mereka ke suatu tempat yang tidak pernah ia inginkan.

Ia kehilangan perempuan itu bukan karena sebuah pertengkaran besar, bukan pula karena satu keputusan yang diucapkan dengan tegas.

Ia kehilangan perempuan itu sedikit demi sedikit.

Ketika ia menunda membalas pesan.

Ketika ia membiarkan panggilan terlewat.

Ketika ia memilih menyimpan kerinduan daripada mengungkapkannya.

Ketika ia menganggap bahwa perempuan itu akan selalu ada, meskipun ia tidak lagi berusaha hadir.

Ia dahulu mengira bahwa hubungan mereka masih bisa dilanjutkan kapan saja.

Ia mengira bahwa jarak hanya masalah waktu.

Ia mengira bahwa cinta yang pernah begitu kuat akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Ternyata, cinta juga membutuhkan kehadiran.

Membutuhkan percakapan.

Membutuhkan keberanian untuk mengatakan, aku merindukanmu, sebelum kalimat itu kehilangan maknanya.

Dan sekarang, ketika ia ingin kembali, ia tidak tahu apakah masih ada seseorang yang menunggu di seberang sana.

Mereka tidak pernah benar-benar mengatakan selamat tinggal.

Namun, kehidupan telah membawa mereka menuju hari-hari yang berbeda.

Mungkin, tanpa mereka sadari, itulah cara mereka berpamitan.

—

Pintu yang Tidak Lagi Ditunggu

Pada suatu malam, perempuan itu kembali membuka ruang percakapan lama.

Kali ini, ia tidak berniat menulis pesan.

Ia hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum menghapus percakapan tersebut dari daftar yang selama ini sesekali ia kunjungi.

Ia membaca beberapa pesan lama.

Kemudian berhenti pada satu kalimat yang pernah dikirim lelaki itu.

“Jangan pernah pergi tanpa memberitahuku. Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Perempuan itu memejamkan mata.

Ada sesuatu yang terasa perih, tetapi tidak lagi setajam dahulu.

Ia menyadari bahwa mereka pernah saling takut kehilangan, tetapi akhirnya sama-sama membiarkan kehilangan itu terjadi.

Tidak ada yang benar-benar berniat meninggalkan.

Namun, tidak ada pula yang cukup berani untuk kembali.

Ia mengusap layar ponselnya, lalu menarik napas panjang.

“Maaf,” bisiknya pelan, meskipun tidak ada seorang pun yang mendengar.

Ia tidak tahu apakah permintaan maaf itu ditujukan kepada lelaki tersebut atau kepada dirinya sendiri.

Mungkin kepada keduanya.

Ia meminta maaf karena pernah terlalu lama menunggu.

Karena pernah mengabaikan lelahnya sendiri demi mempertahankan sesuatu yang hanya bisa hidup jika diperjuangkan oleh dua orang.

Karena pernah percaya bahwa diam akan membuat semuanya baik-baik saja.

Dan karena pada akhirnya, ia harus menerima bahwa tidak semua orang yang pernah berjanji tinggal akan benar-benar menetap.

Ia menutup ruang percakapan itu.

Tidak ada pesan terakhir.

Tidak ada kalimat perpisahan.

Hanya satu keputusan kecil yang terasa begitu besar: ia tidak akan lagi menunggu.

Bukan karena ia membenci lelaki itu.

Bukan karena semua kenangan telah hilang.

Melainkan karena ia ingin memberi kesempatan kepada hidupnya sendiri untuk kembali berjalan.

Malam itu, ia tidur tanpa memeriksa ponselnya sekali lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa perlu mengetahui apakah lelaki itu sedang merindukannya.

—

Rindu yang Tidak Lagi Pulang

Beberapa bulan kemudian, nama lelaki itu masih sesekali melintas di benaknya.

Namun, perempuan itu tidak lagi berhenti melakukan apa yang sedang dikerjakannya.

Ia bisa tersenyum ketika mengingat hal-hal lucu yang pernah mereka alami.

Ia bisa menerima bahwa ada masa ketika lelaki itu membuatnya bahagia.

Ia juga bisa mengakui bahwa ada masa ketika kehadirannya justru membuatnya merasa sendirian.

Dua hal itu dapat hidup berdampingan dalam satu kenangan.

Tidak semua yang pernah indah harus berakhir dengan kebencian.

Tidak semua yang berakhir harus dicari siapa yang paling bersalah.

Terkadang, dua orang hanya kehilangan kemampuan untuk saling menjangkau.

Mereka terlalu lama membiarkan jarak berbicara.

Terlalu sering membiarkan kesibukan menjadi alasan.

Terlalu terbiasa menunda percakapan sampai akhirnya tidak ada lagi yang tahu bagaimana memulainya.

Dan ketika mereka menyadari bahwa hubungan itu telah kehilangan kehangatannya, perasaan yang dahulu mereka jaga sudah berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.

Barangkali masih ada sisa sayang.

Barangkali masih ada rindu.

Namun, tidak setiap sisa perasaan harus menjadi alasan untuk kembali.

Perempuan itu akhirnya mengerti bahwa ia tidak perlu mengingkari masa lalu untuk menerima masa depan.

Ia hanya perlu berhenti memaksa sebuah pintu terbuka ketika tidak ada lagi yang berusaha menyambutnya dari seberang.

Sebab rindu tidak selalu berarti ingin pulang.

Kadang-kadang, rindu hanyalah cara hati mengingat bahwa pernah ada seseorang yang begitu berarti.

Seseorang yang pernah kita tunggu.

Seseorang yang pernah kita sebut rumah.

Seseorang yang kini hanya tinggal sebagai bagian dari perjalanan, bukan lagi tujuan.

Dan ketika malam kembali datang, perempuan itu tidak lagi bertanya ke mana perginya lelaki tersebut.

Ia hanya membiarkan kenangan singgah sebentar, kemudian berlalu.

Seperti hujan yang jatuh di atas jalanan.

Seperti angin yang menyentuh jendela.

Seperti sebuah nama yang pernah diucapkan dengan penuh cinta, lalu perlahan menjadi asing.

—

Tidak Ada Lagi Alamat untuk Rindu

Pada akhirnya, mereka tidak pernah bertemu untuk mengucapkan selamat tinggal.

Tidak ada pelukan terakhir.

Tidak ada kesempatan untuk saling bertanya mengapa semuanya berubah.

Tidak ada kalimat yang memastikan bahwa hubungan itu benar-benar telah selesai.

Mereka hanya menjalani hidup masing-masing, membawa kenangan yang suatu hari mungkin akan terasa ringan, meskipun pernah begitu berat.

Lelaki itu mungkin masih sesekali mengingat perempuan tersebut.

Perempuan itu mungkin masih sesekali mengingat lelaki yang pernah dicintainya.

Namun, mereka tidak lagi menjadikan kerinduan sebagai alasan untuk mencari satu sama lain.

Sebab ada cinta yang tidak berakhir dengan kebencian, tetapi juga tidak lagi memiliki kekuatan untuk dipertahankan.

Ada rindu yang tidak hilang sepenuhnya, tetapi kehilangan arah.

Ada dua hati yang pernah saling memilih, lalu perlahan berhenti saling mencari.

Dan ada hubungan yang berakhir bukan karena satu kata perpisahan, melainkan karena terlalu banyak kata yang tidak pernah diucapkan.

Mereka pernah memiliki alamat untuk pulang.

Pernah memiliki seseorang yang menunggu kabar.

Pernah memiliki percakapan yang membuat jarak terasa dekat.

Tetapi kini, semuanya hanya menjadi kenangan yang tersimpan di sudut hati.

Jika suatu hari mereka kembali mengingat satu sama lain, mungkin tidak akan ada lagi keinginan untuk mengulang cerita.

Hanya sejenak terdiam, tersenyum tipis, lalu melanjutkan kehidupan.

Sebab mereka akhirnya memahami bahwa tidak semua yang pernah saling mencintai ditakdirkan untuk tetap bersama.

Dan tidak semua rindu harus menemukan alamatnya.

Ada rindu yang cukup disimpan dalam diam.

Ada sayang yang perlahan hilang dalam gelap hati.

Ada perpisahan yang tidak pernah diucapkan, tetapi telah lama terjadi.

Karena pada akhirnya, rindu sudah tidak memilih alamat.

Ia tidak lagi mengetuk pintu yang sama.

Tidak lagi menunggu seseorang membukakannya.

Tidak lagi memaksa dirinya pulang ke tempat yang telah kehilangan kehangatan.

Ia hanya tinggal sebagai kenangan, di antara dua manusia yang pernah saling mencintai, tetapi akhirnya membiarkan satu sama lain pergi tanpa kata.

Dan mungkin, itulah perpisahan paling sunyi.

Bukan ketika dua orang mengucapkan selamat tinggal.

Melainkan ketika keduanya masih mengingat, tetapi tidak lagi mencari.

Dua orang itu adalah

“ BULAN DAN BINTANG “

Penulis: BagusEditor: Redaksi Dbn
CERPEN

Duta Berita Nusantara | Palembang MAK ANI Oleh…

Serba Serbi

Duta Berita Nusantara | Jakarta JODOH Oleh: Nurul…