Duta Berita Nusantara | Palembang
DI PINGGIR RAWA KITA BERJANJI
Ketika Mancing Bukan Sekadar Mencari Ikan, tetapi Merawat Persahabatan
Oleh: Dede Suwino, S.T.
Kalau ditanya apa enaknya memancing, terkadang aku bingung harus menjawab apa.
Kalau sekadar ingin mendapatkan ikan, di pasar banyak tersedia. Harganya lebih murah, tidak perlu kepanasan, tidak digigit nyamuk, apalagi harus berjibaku dengan lumpur dan rawa.
Namun, memancing bukan semata-mata soal ikan.
Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli di pasar. Ada tawa, cerita, kebersamaan, bahkan janji-janji yang hampir selalu diingkari.
Seperti janji berangkat pukul empat subuh yang entah mengapa lebih sering molor daripada tepat waktu.
Sejak malam, grup WhatsApp sudah ramai.
“Besok jam empat gas Rawa Pulo!”
“Siap!”
“Siap, komandan!”
Semua menyatakan kesanggupan. Namun, ketika pagi tiba, yang benar-benar datang hanya dua orang. Satu beralasan anaknya rewel, satu lagi mengaku motornya mogok.
Kita pun saling meledek di grup WhatsApp. Kadang sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diulang. Tetapi anehnya, besok atau minggu depan, janji mancing kembali dibuat.
Begitu terus. Dan justru hal-hal kecil seperti itulah yang membuat kita selalu rindu.
Ada si Ujang, misalnya. Jorannya paling mahal. Perlengkapannya lengkap, SHIKARI full set. Penampilannya sudah seperti pemancing profesional. Sayangnya, lemparannya paling sering berakhir di dahan pohon.
“Jangan ke situ, Jang!” teriak kami mengingatkan.
Namun, entah bagaimana, umpan itu tetap saja melayang ke arah yang sama. Akhirnya, setiap bulan kami seperti punya anggaran khusus untuk membelikan kail baru buat Ujang.
Lalu ada si Bedu, spesialis pembawa bekal. Nasi bungkusnya selalu berlimpah sambal. Katanya supaya mata tetap melek. Padahal, yang membuat kami benar-benar terjaga justru rasa pedasnya, bukan karena ikan menyambar umpan.
Ada lagi si Jali. Kalau berhasil mendapatkan ikan sebesar jempol, gayanya seolah baru saja menaklukkan giant trevally (GT) seberat 20 kilogram.
Foto diambil seratus kali. Sudut kiri, kanan, atas, bawah, semuanya dicoba. Setelah itu, fotonya diunggah ke media sosial dan dipajang di story selama tiga hari berturut-turut.
Kami meledeknya habis-habisan. Namun, Jali justru semakin bangga.
Begitulah persahabatan kami. Penuh kelucuan, kadang menyebalkan, tetapi selalu dirindukan.
Ada saat-saat paling seru ketika salah seorang dari kami mendapatkan sambaran ikan gabus berukuran besar.
Semua joran langsung ditinggalkan. Kami berlarian mendekat sambil berteriak.
“Tahan! Tahan! Jangan kasih kendor!”
Empat orang ikut membantu menarik satu ekor ikan. Rasanya seperti sedang mengikuti lomba tarik tambang.
Kalau ikannya lepas, semua mendadak terdiam. Namun, kalau berhasil dinaikkan ke daratan, suasananya berubah menjadi perayaan besar. Kami berpelukan, tertawa, dan bersorak seolah Indonesia baru saja menjuarai Piala Dunia.
Tak peduli badan penuh lumpur. Yang penting, ikan berhasil didaratkan.
Tetapi memancing juga punya cerita duka. Bukan duka karena kehilangan ikan, melainkan karena ada teman yang benar-benar tercebur ke rawa.
Seperti si Bedu minggu lalu.
Niatnya ingin bergaya melempar umpan sejauh mungkin. Namun, belum sempat menikmati hasil lemparannya, kakinya terpeleset.
Byur!
Tubuhnya masuk ke rawa sampai sebatas dada.
Kami tertawa sampai perut terasa sakit. Setelah puas tertawa, barulah kami bergegas menolongnya.
Sesampainya di rumah, Bedu mendapat omelan dari istrinya karena pakaian dan badannya penuh lumpur. Anehnya, kejadian itu tidak membuatnya kapok. Keesokan harinya, justru dia yang paling bersemangat mengajak kami memancing lagi.
Pernah juga suatu hari hujan turun begitu deras. Kami terpaksa berteduh di bawah terpal yang sudah robek di beberapa bagian.
Hari itu tidak seekor ikan pun berhasil kami dapatkan. Zonk total!
Namun, di bawah terpal sederhana itu, sambil menikmati kopi hitam yang sudah telanjur dingin, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hasil pancingan.
Ujang bercerita bahwa bapaknya sedang sakit.
Jali mengeluhkan warungnya yang semakin sepi.
Aku sendiri bercerita tentang anakku yang sampai saat itu belum juga mendapatkan pekerjaan.
Tidak ada yang memberikan solusi hebat. Tidak ada pula nasihat panjang lebar. Kami hanya saling mendengarkan.
Sesekali ada yang mengangguk. Sesekali terdengar komentar ringan untuk mencairkan suasana.
Di tempat sederhana itu, di pinggir rawa yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota, kami menemukan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Rawa menjadi saksi. Hujan menjadi teman. Dan secangkir kopi dingin menjadi penghangat percakapan.
Kini, setiap kali melihat joran yang masih berdiri tegak di sudut rumah, pikiranku selalu kembali ke tempat itu.
Bukan karena ingin memamerkan perlengkapan memancing. Bukan pula karena teringat ikan-ikan besar yang pernah didapatkan.
Aku justru teringat tawa Bedu ketika tercebur ke rawa. Terbayang gaya Jali yang berlebihan saat mendapatkan ikan kecil. Terkenang Ujang dengan joran mahalnya yang lebih sering menyangkut di pohon.
Dan tentu saja, janji pukul empat subuh yang hampir selalu molor.
Ternyata, memancing bersama kawan mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
Ada kalanya kita mendapatkan banyak hasil. Ada kalanya pulang dengan tangan kosong. Terkadang umpan tersangkut, ikan terlepas, bahkan kita sendiri terjatuh.
Namun, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita dapatkan.
Ada kebahagiaan dalam prosesnya. Ada pelajaran dalam kegagalannya. Dan ada kekuatan dalam kebersamaan yang membuat kita tetap bertahan.
Selama masih ada kawan yang bersedia menunggu di pinggir rawa yang sama, rasanya kita tidak pernah benar-benar pulang dengan tangan kosong.
Sebab, yang kita bawa pulang bukan hanya ikan.
Kita membawa tawa, kenangan, cerita, dan persahabatan yang mudah-mudahan tetap terjaga sampai usia senja.
Di pinggir rawa, kita pernah berjanji. Bukan sekadar untuk kembali memancing, tetapi untuk tetap menjadi kawan, sampai rambut memutih dan langkah semakin pelan.
Penulis: Dede Suwino, S.T.( Kang Ade Angler SEPUH )
MANCING BUKAN SEKADAR HOBI, TETAPI GAYA HIDUP.
Bersama Kawan Sampai Tua.












