Berita

JOKO PRANOTO, KAU MEMANG “GILA” !

8
×

JOKO PRANOTO, KAU MEMANG “GILA” !

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

Oleh Bambang Oeban

Dua bulan lalu …

Joko Pranoto, nekad terbang dari Palembang ke Jakarta, pulang pergi dalam sehari, bersilahturahmi ke gubugku di pelosok desa Singasari, Jonggol, Bogor. Pengusaha kelapa sawit, mau buang-buang waktu, tentu ada sesuatu yang hendak dituju, bukan mencari lagi mimpi tapi hendak menafasi dunia pentas yang sudah begitu lama ditinggalkan.

Aku menyebut Joko Pranoto sosok yang punya energi hidup sekeras baja, berkomitmen, bertanggung jawab, bukan saja cerdas, namun dibarengi kerja keras, pantang mundur menghadapi tantangan hidup.

Joko Pranoto meninggalkan dunia teater dan kepenyairan, bukan sebagai pembenci yang kecewa, karena dunia seni tak bisa diandalkan untuk bisa memperpanjang hidup, tapi semacam ada pemberontakan, mengajak para pelaku seni untuk melek batin bahwa hidup itu, realistis, antara imajinasi dan realisasi harus seimbang dan diujudkan.

Joko Pranoto di masa lalu, tak beda dengan seniman lain, menggauli panggung teater, bahkan bersensansi tinggi sebagai aktor yang berimajinasi liar, panggung ia kencingi, mengumbar kemaluan untuk dinikmati sebagai pertunjukan. Hanya saja bagi penonton berkonotasi pornoisme, maka dianggap Pelecehan Teater.

Namun bagi mereka yang memiliki jangkauan estetika mendalam, maka Joko Pranoto sedang mengekspresikan bagaimana dunia panggung tidak akan pernah hidup, apabila para pelaku teater tidak memiliki daya tempur untuk melakukan terobosan baru, maka dunia teater hanya berjoget di satu tempat, asik beronani sambil berkacamata kuda. sehingga itulah salah satu bentuk pemberontakan Joko Pranoto.

Joko Pranoto bersikap bahwa hidup perlu dihidupi, lalu ia pun malang melintang di dunia pekerjaan sampai puncak karirnya menjadi manager yang dipercaya oleh perusahaan ternama, dan sampai pensiun tidak berarti gagap, hidup kehilangan arah, justru sudah lama pula ia merintis usaha, memiliki lahan kelapa sawit cukup luas, juga memiliki usaha travel umroh dan haji ke tanah suci, serta toko perlengkapan kebutuhan berumroh dan berhaji.

Dan di saat nilai dolar terbang tinggi, justru Joko Pranoto tetap dengan kemauan kuatnya, mengeluarkan uang dari kocek sendiri, lewat dua buku kumpulan puisi karyanya: “Yang Kutitipkan Kepada Langit’ dan “Negeri Retak” melaksanakan gelar seni budaya Indonesia, di bawah bendera Pagar Betis Nusantara, terlahir nama MORSA EVENT 2026, di Purawisata Amphitheater Yogyakarta, Selasa, 23 Juni 2026, pukul 19.30 – selesai.

Dan, ada kegilaan, dan sekaligus menjadikan Tonggak Sejarah dalam penghormatan kepada pembaca puisi karyanya, Para pembaca puisi seperti: Sutardji Calzoum Bachri, Clara Sinta Rendra, Jose Rizal Manua, Alvin Bin Adam, Khalonk Rahmansyah, Anto Narasoma juga pemonolog Joind Bayuwinanda dan Eb Magor, mereka hanya tampil berapa menit saja, namun dalam jaminan Joko Pranoto, naik pesawat Jakarta – Yogya, menginap di hotel, makan minum, termasuk honor yang cukup lumayan nilainya.

Nah, di situlah aku bisa menyimpulkan bahwa Joko Pranoto, meninggalkan dunia teater dan puisi, untuk mencari rejeki lebih menjadi pengusaha, untuk kembali peduli dan tetap menghidupkan dunia seni di dalam jiwanya, sekaligus berbagi rasa kepada para pelaku seni, meski kondisi ekonomi di negeri ini, tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Gila!

Joko Pranoto,

Memang gila!

Benar

langkahmu,

Joko Pranoto:

—hidup harus

dihidupi

Di pagi yang sederhana,

ketika ayam kampung masih

berunding dengan matahari,

kala embun masih menggigil

di ujung daun singkong,

saat jalan tanah di Singasari, Jonggol, Bogor, masih lebih

akrab dengan sandal jepit daripada ban mobil mewah, datanglah seorang tamu.

Bukan pejabat negara.

Bukan calon kepala daerah.

Bukan komisaris BUMN.

Bukan pula sang dukun yang menawarkan cara kaya instan.

Ia hanya

seorang lelaki

yang pernah bertengkar

dengan panggung,

berdebat dengan puisi,

dan berdamai dengan

kehidupan.

Namanya, Joko Pranoto

Ia terbang

dari Palembang ke Jakarta. Pulang pergi dalam sehari.

Hanya untuk bersilaturahim

Hanya untuk mengetuk

pintu gubuk.

Hanya untuk

menghidupkan kembali

percakapan yang mungkin

sudah lama tertidur.

Orang waras

akan bertanya:

“Mengapa?”

Karena

zaman sekarang,

orang lebih rela terbang

ribuan kilometer demi rapat yang tak menghasilkan

keputusan, daripada

menempuh perjalanan jauh demi persahabatan.

Orang lebih mudah

mengirim emoji tangan berjabat

daripada benar-benar menjabat tangan.

Orang lebih rajin mengucapkan “saudara”

di atas panggung, daripada menjadi

saudara di kehidupan nyata.

Namun Joko datang.

Kadang-kadang,

kehadiran seseorang

lebih berharga daripada

seribu pidato basa basi.

Aku mengenal

banyak manusia.

Ada yang cerdas.

Ada yang kaya.

Ada yang terkenal.

Ada yang pandai berbicara.

Ada yang pandai berjanji.

Ada yang pandai hilang

setelah berjanji.

Tetapi tidak semua

memiliki energi hidup.

Energi hidup bukan soal otot.

Bukan soal usia.

Bukan soal gelar.

Energi hidup adalah

keberanian bangun kembali

setelah dihantam kenyataan.

Energi hidup adalah

kemampuan tersenyum

meski hidup tak selalu

murah hati.

Energi hidup adalah

kesanggupan berkata:

“Aku belum selesai.”

Dan, Joko Pranoto,

adalah seorang manusia yang memiliki energi itu.

Keras seperti baja.

Tetapi bukan baja yang dipakai untuk memukul.

Melainkan baja yang dipakai untuk menopang jembatan.

Jembatan antara mimpi

dan kenyataan.

Di masa muda,

ia menggauli dunia teater.

Menghirup bau cat panggung.

Menghafal dialog.

Mengolah emosi.

Menari bersama imajinasi.

Ia pernah menjadi aktor.

Pernah menjadi penyair.

Pernah menjadi

pemberontak.

Dan,

pemberontak sejati

bukan gemar merusak.

Pemberontak sejati

adalah mereka yang

menolak kebekuan.

Yang menolak kemapanan

yang malas berpikir.

Yang menolak kenyamanan

yang bikin manusia tertidur.

Kadang-kadang,

sejarah bergerak karena

ada orang-orang yang

dianggap gila.

Dunia seni memang unik.

Di dalamnya ada keindahan.

Ada kegelisahan.

Ada pencarian.

Ada pertanyaan.

Dan sering kali,

lebih banyak pertanyaan

daripada jawaban.

Seni bukan kantor pajak.

Seni tak selalu menyediakan

angka pasti.

Seni mengajak manusia

berpikir, merenung,

menggugat dirinya sendiri.

Tapi seni juga banyak menghadapi

tantangan.

Kadang

para pelakunya

terlalu lama bercermin.

Terlalu lama mengagumi

dirinya sendiri.

Terlalu lama memuja

lingkarannya sendiri, sehingga lupa

bahwa dunia terus bergerak.

Bahwa rakyat membutuhkan karya,

bukan sekadar diskusi tanpa akhir.

Bahwa kreativitas harus

melahirkan tindakan.

Bahwa imajinasi harus

menemukan rumahnya

di dalam realisasi.

Joko Pranoto

memilih jalan berbeda.

Ia meninggalkan panggung.

Tetapi tidak meninggalkan

jiwa seninya.

Ia menjauh dari teater.

Tetapi tidak menjauh

dari kreativitas.

Joko Pranoto

meninggalkan puisi.

Tetapi tidak meninggalkan

perenungan.

Karena sesungguhnya,

manusia boleh pindah profesi,

namun tidak harus

kehilangan ruh.

Ada yang menganggap

menjadi pengusaha adalah

pengkhianatan.

Lucu sekali !

Seolah-olah

kemiskinan adalah

sertifikat kesucian.

Seolah kerepotan ekonomi

adalah bukti kecintaan

terhadap seni.

Padahal tidak.

Perut tetap membutuhkan nasi.

Anak tetap membutuhkan

pendidikan.

Orang tua tetap

membutuhkan biaya berobat.

Rumah tetap membutuhkan atap.

Dan listrik tidak bisa dibayar

dengan tepuk tangan

penonton.

Di negeri ini,

kadang-kadang kita

terlalu romantis.

Kita memuja penderitaan.

Kita menganggap kesusahan

sebagai prestasi.

Kita lebih mudah memuji orang

yang sengsara daripada

menghargai orang

yang berhasil.

Padahal

keberhasilan yang jujur

juga merupakan karya.

Juga merupakan perjuangan.

Juga merupakan ibadah.

Agama

mengajarkan ikhtiar.

Negara membutuhkan

produktivitas.

Pendidikan

membutuhkan

keteladanan.

Filsafat

mengajarkan

keseimbangan.

Dan hidup mengajarkan:

angan-angan harus berjalan

bersama tindakan.

Doa harus berjalan

bersama usaha.

Harapan harus berjalan

bersama kerja keras.

Maka

Joko memasuki dunia kerja. Melewati banyak tantangan.

Menjadi profesional.

Menjadi manajer.

Dipercaya perusahaan.

Menyelesaikan tanggung jawab.

Dan ketika banyak orang pensiun

lalu kehilangan arah,

ia justru telah menyiapkan

pelayaran baru.

Lahan sawit.

Usaha perjalanan umrah dan haji.

Toko perlengkapan ibadah.

Berbagai usaha.

Berbagai ikhtiar.

Berbagai jalan halal.

Karena hidup pantang berhenti

hanya oleh usia bertambah.

Bukankah

agama mengajarkan

bahwa tangan di atas

lebih baik daripada

tangan di bawah?

Bukankah

bangsa membutuhkan

lebih banyak pencipta

lapangan kerja daripada

pencipta keluhan?

Bukankah

negeri ini memerlukan

manusia-manusia produktif

yang mampu memberi

manfaat?

Di saat banyak orang

sibuk mengutuk keadaan,

Joko Pranoto sibuk bekerja.

Di saat banyak orang sibuk

menyalahkan nasib,

Joko sibuk membangun

kemungkinan.

Di saat banyak orang

sibuk menghitung hambatan,

Joko Pranoto sibuk

mencari jalan.

Kemudian,

tiba tahun 2026.

Tahun yang tidak mudah.

Nilai dolar melonjak.

Harga kebutuhan naik.

Rakyat mengeluh.

Pedagang mengeluh.

Pegawai mengeluh.

Pengusaha mengeluh.

Mahasiswa mengeluh,

kucing kampung pun

ikut mengeluh karena

harga ikan asin naik.

Negeri ini

memang sedang

menghadapi tantangan.

Namun di tengah tantangan itu,

Joko Pranoto melakukan

sesuatu yang aneh.

Sesuatu yang tidak masuk akal.

Sesuatu yang membuat orang mengernyitkan dahi.

Ia menerbitkan buku puisi.

Ia mendukung pertunjukan budaya.

Ia membangun ruang pertemuan.

Ia menghidupkan kembali percakapan seni.

Bukan karena mencari keuntungan.

Bukan karena mengejar popularitas.

Melainkan karena cinta.

Sebab ada cinta

yang tidak bisa dihitung

dengan kalkulator.

Ada cinta

yang tidak bisa dimasukkan

ke laporan keuangan.

Ada cinta

yang hanya bisa dipahami

oleh mereka yang pernah

kehilangan.

Lahir dua buku:

“Yang Kutitipkan Kepada Langit”

dan

“Negeri Retak”.

Judul yang terdengar seperti doa.

Dan juga seperti peringatan.

Karena memang negeri ini

kadang sedang retak.

Retak oleh

ketimpangan,

kebencian,

keserakahan,

korupsi,

Retak oleh

lupa diri.

Namun

negeri yang retak

tidak harus hancur.

Selama masih ada orang-orang

yang mau merekatkannya.

Dengan karya,

pendidikan,

keteladanan,

kepedulian.

Di bawah bendera

Pagar Betis Nusantara,

lahirlah MORSA Event 2026.

Bukan sekadar acara.

Bukan sekadar panggung, melainkan pernyataan bahwa seni masih hidup.

Bahwa budaya masih bernapas. Bahwa puisi belum mati.

Bahwa manusia belum

sepenuhnya menjadi mesin.

Dan, di situlah

kegilaan itu mencapai puncaknya.

Para pembaca puisi.

Para pelaku seni.

Para pemonolog.

Diundang.

Dihargai.

Difasilitasi.

Diperlakukan dengan hormat.

Mungkin

ada yang bertanya:

“Mengapa harus begitu?”

Karena penghormatan

adalah pupuk bagi kebudayaan.

Karena apresiasi

adalah vitamin bagi kreativitas.

Karena bangsa yang besar

tidak hanya membangun jalan tol.

Tapi juga membangun

jalan jiwa

Kita bisa membangun

gedung setinggi langit.

Tetapi bila kehilangan budaya,

gedung itu hanya tumpukan beton.

Kita bisa memperbanyak teknologi.

Tetapi bila kehilangan nurani,

maka teknologi hanya

mempercepat kekeliruan.

Pendidikan

tidak hanya berada

di ruang kelas.

Pendidikan juga hidup

di panggung.

Di buku.

Di puisi.

Di teater.

Di percakapan.

Di keteladanan.

Dan Joko Pranoto

sedang memberi pelajaran:

bahwa sukses ekonomi

tidak harus membunuh

kepedulian budaya.

Inilah

yang sering dilupakan.

Orang mengira ada dua pilihan:

menjadi idealis atau realistis.

Padahal yang dibutuhkan

adalah keduanya.

Idealisme

tanpa tindakan

menjadi khayalan.

Realisme tanpa nilai

menjadi kekeringan.

Bangsa ini

membutuhkan manusia

yang mampu bermimpi

dan sekaligus bekerja.

Mampu berdoa

dan sekaligus berikhtiar.

Mampu mencintai seni

dan sekaligus

menghargai

ekonomi.

Karena

sesungguhnya,

uang bukan musuh

kebudayaan.

Keserakahanlah

musuh kebudayaan.

Jabatan bukan

musuh rakyat.

Penyalahgunaan jabatan

musuh rakyat.

Agama bukan

musuh kemajuan.

Fanatisme butalah

musuh kemajuan.

Maka ketika

aku melihat perjalanan

Joko Pranoto, aku tak sedang melihat seorang pengusaha.

Aku melihat sebuah pelajaran bahwa hidup harus bergerak.

Bahwa manusia harus

berkembang.

Bahwa keberhasilan

harus dibagikan !

Hari ini,

banyak orang

mengejar kekayaan.

Tidak salah.

Tetapi setelah kaya,

apa yang dilakukan?

Itulah pertanyaan

sebenarnya.

Sebab kuburan

tidak pernah bertanya

berapa saldo rekening.

Kuburan tidak pernah bertanya

berapa luas kebun sawit.

Kuburan tidak pernah bertanya

berapa banyak kendaraan.

Kuburan cuma jadi pengingat:

apa manfaat yang pernah

kita tinggalkan?

Dan, mungkin

itulah sebabnya Joko Pranoto

kembali menyapa dunia seni.

Bukan untuk bernostalgia.

Bukan untuk pamer.

Tetapi untuk memberi napas.

Memberi ruang.

Memberi kesempatan.

Memberi penghormatan.

Di negeri

yang kerap gaduh oleh politik,

ia memilih membangun budaya.

Di negeri yang sering ribut oleh

perbedaan, ia memilih untuk

mempertemukan manusia.

Di negeri yang sering

sibuk menyalahkan,

ia memilih bekerja.

Bukankah itu

bentuk patriotisme juga? Patriotisme tidak selalu mengangkat senjata.

Patriotisme bisa berupa

membayar pekerja

dengan layak.

Patriotisme

bisa berupa membantu

seniman berkarya.

Patriotisme bisa berupa

menciptakan harapan.

Dan, aku tersenyum.

Karena semakin kupikirkan,

semakin jelas kesimpulannya.

Ya, Joko Pranoto

engkau memang “gila”.

Tetapi bukan yang merusak.

Melainkan gila yang membangun.

Gila yang menyalakan lampu.

Gila yang menghidupkan harapan.

Gila yang mengingatkan, manusia

tidak boleh hanya hidup

untuk dirinya sendiri.

Kalau kegilaan

seperti ini menular, barangkali

negeri ini akan lebih baik.

Kalau kegilaan seperti ini menyebar,

barangkali budaya akan lebih hidup.

Kalau kegilaan seperti ini berkembang,

barangkali pendidikan akan

lebih bermakna.

Kalau kegilaan

seperti ini bertambah,

barangkali kemanusiaan

akan lebih hangat.

Maka wahai

sahabat-sahabat sebangsa,

jangan takut bermimpi.

Tetapi jangan berhenti pada mimpi.

Jangan takut bekerja.

Tetapi jangan lupa berbagi.

Jangan takut sukses.

Tetapi jangan kehilangan hati.

Jangan takut kaya.

Tetapi jangan

miskin nurani.

 

Karena pada akhirnya,

hidup bukan tentang apa

yang kita kumpulkan.

Melainkan apa yang kita hidupkan.

Bukan tentang apa yang kita miliki.

Melainkan apa yang kita berikan.

Bukan tentang berapa lama kita hidup.

Melainkan seberapa jauh

manfaat kita mengalir.

Dan, ketika

sejarah kecil bangsa ini ditulis,

mungkin akan ada satu catatan

sederhana: pernah ada lelaki

dari Palembang,

yang belajar dari panggung,

bertarung di dunia kerja,

menemukan keberhasilan dalam usaha,

lalu kembali mengetuk pintu kebudayaan,

membawa cinta,

membawa kepedulian,

membawa penghormatan.

Maka aku

mengangkat secangkir kopi desa.

Kepada

persahabatan,

kerja keras,

kebudayaan,

Kepada

Indonesia.

Dan, kepada

seorang manusia

yang memilih menjadikan

keberhasilannya sebagai

jembatan bagi orang lain.

Ah, gila? Ya gila betul. Sebab, dalam konteks kreativitas seni, Joko Pranoto memang gila !

Tetapi di tengah zaman

yang sering kehilangan arah,

justru kita membutuhkan

lebih banyak orang gila

seperti Joko Pranoto.

Bekasi Timur,

Sabtu, 13 Juni 2026