Duta Berita Nusantara | Buleleng
Jro Mangku I Nyoman Ayustana mengungkap keberadaan Lontar Watu Kemanikan, sebuah warisan spiritual kuno yang diyakini menyimpan kisah perjalanan Ida Dukuh Sakti dalam menjaga keseimbangan alam Bali pada abad ke-9, tepatnya tahun Saka 804 atau sekitar tahun 882 Masehi.
Berdasarkan penuturan yang terkandung dalam Lontar Watu Kemanikan, pada masa itu kawasan Danau Buyan dan Danau Tamblingan mengalami musim kemarau panjang. Air danau menyusut hingga mengalir ke laut, sementara jumlah penduduk masih sedikit dan wilayah tersebut dipenuhi hutan serta berbagai satwa liar, terutama kawanan kera.
Melihat kondisi tersebut, Ida Dukuh Sakti melakukan tapa brata di antara Danau Buyan dan Danau Tamblingan. Dalam pertapaannya, beliau memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar saluran-saluran yang menyebabkan air danau mengalir keluar dapat tertutup serta memohon turunnya hujan. Setelah pertapaan itu, kedua danau diyakini kembali terisi air dan keseimbangan alam pulih.
Usai menjalankan tapa brata, Ida Dukuh Sakti melanjutkan perjalanan ke arah barat. Dalam perjalanannya, beliau mendengar suara gemuruh dan merasakan getaran bumi yang sangat kuat. Saat tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, beliau melihat sebagian kawasan perbukitan bergerak dan seolah meluncur ke arah laut.
Dengan kekuatan spiritual yang dimilikinya, Ida Dukuh Sakti menancapkan salah satu kakinya ke dalam tanah untuk menahan pergerakan bumi agar tidak terjadi longsor yang lebih besar. Tindakan tersebut diyakini berhasil meredakan getaran dan menjaga kawasan tersebut tetap stabil.
Peristiwa itu dikisahkan hanya disaksikan seekor monyet yang berada di atas pohon. Melalui kesaktiannya, Ida Dukuh Sakti berkomunikasi dengan monyet tersebut dan memintanya mencari bantuan. Monyet itu kemudian mengumpulkan pasukan kera untuk mengambil sebuah balok batu dari kawasan yang dahulu dikenal sebagai Batu Siahan, yang kini disebut Batu Gangsian.
Sebanyak 225 ekor kera dikisahkan membawa balok batu tersebut menuju lokasi tempat Ida Dukuh Sakti menancapkan kakinya. Dengan kekuatan spiritualnya, batu itu kemudian ditanam sebagai pengganti kaki beliau agar keseimbangan bumi tetap terjaga. Setelah batu tertancap kokoh, Ida Dukuh Sakti mencabut kakinya dan melanjutkan perjalanan spiritualnya.
Batu tersebut kemudian dikenal sebagai Pancer Ing Jagat, yang dipercaya sebagai pusat keseimbangan alam. Sebelum melanjutkan perjalanan, Ida Dukuh Sakti memberikan sabda kepada pasukan kera agar wilayah tersebut menjadi daerah yang subur dan tidak pernah kekurangan pangan. Beliau juga berpesan bahwa siapa pun yang menjaga kekuatan batin dan kebajikan akan memperoleh anugerah kemakmuran.
Kisah dalam Lontar Watu Kemanikan juga menyebutkan bahwa batu Pancer Ing Jagat memancarkan cahaya dan energi yang menarik perhatian berbagai makhluk dari alam lain. Ida Dukuh Sakti kemudian kembali menanam batu tersebut lebih dalam agar tidak dapat dipindahkan dan keseimbangan bumi tetap terjaga.
Menurut penuturan Jro Mangku I Nyoman Ayustana, setelah batu tersebut ditanam, energi spiritualnya terus mempengaruhi wilayah sekitar. Banyak tempat dan batu di kawasan tersebut kemudian dianggap memiliki nilai kesakralan.
Pada saat menanam batu tersebut ke dasar bumi, Ida Dukuh Sakti juga diyakini memanggil kekuatan penjaga berupa macan gaib untuk menjaga kawasan suci itu. Hingga saat ini, lokasi tersebut telah diwujudkan dalam bentuk tempat suci yang dikenal sebagai Pura Ratu Gede Sakti Pengadangan, yang dipercaya sebagai penjaga Pancer Ing Jagat di Desa Kedis.
Jro Mangku I Nyoman Ayustana menjelaskan bahwa di lokasi tersebut masih terdapat energi spiritual yang sangat besar yang belum sepenuhnya diwujudkan. Energi tersebut diyakini telah memberikan pengaruh terhadap alam sekitar maupun kehidupan masyarakat setempat sejak tahun 1997.
Lontar Watu Kemanikan sendiri disebut sebagai lontar Tridatu karena memiliki keterkaitan dengan tiga unsur logam suci, yakni besi, kuningan, dan emas. Lontar ini berukuran sekitar 18 sentimeter dengan lebar 3 sentimeter serta terdiri dari enam lapisan. Keunikan lainnya, lontar tersebut tidak menampilkan tulisan secara kasat mata dan diyakini hanya dapat dipahami melalui pengetahuan spiritual tertentu.
Lontar yang sama juga pernah ditemukan di Belanda. Temuan tersebut kemudian mendorong Guru Maha Agung Siwa melakukan penelusuran ke Bali untuk mencari keberadaan Watu Kemanikan.
Penelusuran itu dilakukan oleh Guru Maha Agung Siwa yang datang dari Belanda pada 18 Januari 2026. Kedatangannya bertujuan menelusuri keberadaan Watu Kemanikan sekaligus membangkitkan kembali spirit dan nilai-nilai luhur Bali yang terkandung di dalamnya.
Penelusuran tersebut akhirnya mengarah ke sebuah lemari kuno milik Jro Mangku I Nyoman Ayustana di Banjar Kelod, Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Setelah mendapatkan penjelasan dari Guru Maha Agung Siwa, Jro Mangku I Nyoman Ayustana memahami bahwa Lontar Watu Kemanikan bukan sekadar peninggalan kuno, melainkan mengandung sastra agung, sejarah peradaban masa lampau, serta pesan spiritual tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan suci yang diwariskan para leluhur Bali.
Karena potensi spiritual tersebut belum diwujudkan secara penuh, direncanakan pada tahun 2027 akan dimulai pembangunan Pura Emas Pancer Ing Jagat sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan spiritual yang diyakini tersimpan di lokasi tersebut. Pembangunan pura tersebut diharapkan menjadi langkah untuk menjaga, melestarikan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam Watu Kemanikan bagi generasi mendatang.














