Duta Berita Nusantara | BADUNG
Perjalanan hidup penuh lika-liku membawa sosok Jro Melati memasuki jalan spiritual yang kini dijalankannya dengan tulus demi menjaga keharmonisan alam dan keseimbangan kehidupan. Perempuan asal Pupuan, Kabupaten Tabanan, yang kini berdomisili di Banjar Sogsogan, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung ini mengaku sejak muda telah melewati berbagai fase kehidupan keras sebelum akhirnya menemukan panggilan spiritual dari leluhur.
Jro Melati menuturkan, setelah menamatkan pendidikan SMA pada tahun 1989, dirinya sempat merantau ke Malang selama hampir satu tahun. Setelah itu, ia menikah pada tahun 1992 dan dikaruniai empat orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Kehidupan ekonomi keluarga membuat dirinya harus berpindah-pindah tempat mencari pekerjaan, mulai dari tinggal di kampung halaman, merantau ke Tabanan dan sempat bekerja di bengkel, hingga akhirnya menuju Jimbaran untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dulu hidup saya lebih banyak bekerja dan merantau. Sampai akhirnya sempat membeli rumah di Nusa Dua dan membuka usaha laundry,” ujar Jro Melati saat ditemui di Desa Cemagi.
Namun perjalanan usaha yang dibangun tidak berjalan mulus. Usaha laundry yang dirintis mengalami berbagai kendala hingga akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Setelah itu, Jro Melati memutuskan kembali ke kampung halaman di Desa Cemagi. Dari sanalah perjalanan spiritualnya mulai terbuka.
Ia mengaku mulai mendapatkan berbagai petunjuk untuk menghaturkan bakti ke pura-pura leluhur. Menurutnya, perjalanan tersebut seperti upaya untuk mengembalikan taksu spiritual yang sempat hilang dalam dirinya. Sebelum menjalani perjalanan spiritual, dirinya sering merasa kehilangan energi dan mengalami kondisi tubuh yang tidak nyaman. Namun setelah rutin sembahyang dan melakukan ritual di pura-pura leluhur, ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya.
“Sebelum ke pura saya merasa tidak ada energi. Setelah sembahyang dan menjalankan petunjuk leluhur, saya merasa lebih kuat dan sehat,” ungkapnya.
Jro Melati mengatakan dirinya dipercaya oleh leluhur untuk menjalankan tugas-tugas spiritual tertentu. Berbagai ritual tidak hanya dilaksanakan di Bali, tetapi juga hingga ke Pulau Jawa, salah satunya di kawasan Pantai Parangkusumo, Yogyakarta. Semua perjalanan ritual tersebut dijalankan dengan biaya pribadi dan berdasarkan petunjuk yang diyakininya datang secara spiritual.
Menurutnya, apabila petunjuk tersebut tidak dijalankan, dirinya sering merasakan sakit pada tubuh dan batin. Sebaliknya, ketika ritual dijalankan, ia merasakan ketenangan, kesehatan, dan energi positif yang terus mengalir dalam kehidupannya.
“Kalau tidak dijalankan rasanya sakit, tetapi kalau dijalankan hati jadi tenang dan badan terasa sehat. Ini seperti sudah menjadi jalan hidup yang tidak bisa dihentikan,” katanya.
Melalui perjalanan spiritual yang dijalaninya, Jro Melati juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan kehidupan. Ia berharap manusia lebih peduli terhadap alam, lingkungan, serta menjaga kedamaian agar tidak terjadi konflik maupun peperangan.
“Hidup ini sebenarnya membutuhkan ketenangan. Saya berharap semua bisa bersama-sama menjaga alam dan keseimbangan kehidupan. Dari rumah pun saya selalu mendoakan semua makhluk agar semua makhluk hidup berbahagia,” ucapnya.
Meski terkadang menghadapi berbagai pandangan maupun komentar dari orang lain, Jro Melati memilih tetap menjalankan apa yang diyakininya sebagai petunjuk leluhur. Baginya, ketulusan dalam menjalankan dharma dan menjaga keharmonisan alam menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual yang kini dijalaninya.













