Duta Berita Nusantara | Bandung
Ba’da salat Subuh, Minggu (19/07/2026) sekitar pukul 05.15 WIB, K.H. Erdi Hardiman, S.Pd. mengisi kajian rutin di Masjid Al-Ikhlash, Cluster Cemara Adipura, Kelurahan Rancabolang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung.
Dalam kajian tersebut, beliau mengupas hikmah yang terkandung dalam Kitab Al-Hikam. Sebelum memasuki materi utama, K.H. Erdi Hardiman menyampaikan biografi singkat pengarang kitab, yaitu Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atha’illah al-Sakandari, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Atha’illah (wafat 1309 M). Beliau merupakan ulama sufi besar bermazhab Maliki, mursyid ketiga dalam Tarekat Syadziliyah, lahir di Iskandariyah, Mesir, dan kemudian mengajar ilmu tasawuf di Kairo. Ibnu Atha’illah juga merupakan murid Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi, penerus langsung Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili.
Memasuki inti kajian, K.H. Erdi Hardiman mengangkat tema “Tanda-tanda Orang Sukses di Akhir adalah Orang yang Kembali di Awal.”
Beliau menjelaskan bahwa ukuran kesuksesan seorang muslim bukan hanya keberhasilan di dunia, melainkan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
“Siapakah orang yang sukses? Hasil akhir orang yang sukses adalah meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Lalu, bagaimana pintu menuju husnul khatimah? Apakah seseorang tiba-tiba meninggal lalu langsung husnul khatimah?” ungkap beliau di hadapan jamaah.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa keadaan seseorang saat meninggal sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang dijalani selama hidup. Salah satu pintu menuju husnul khatimah adalah istiqamah dalam menjalankan ibadah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Fussilat ayat 30.
Menurut beliau, kehadiran jamaah dalam majelis ilmu juga merupakan salah satu bentuk istiqamah dalam menuntut ilmu dan beribadah.
Beliau membacakan makna QS. Fussilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'”
K.H. Erdi Hardiman juga mengingatkan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, ia akan menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi akan dibuktikan oleh amal perbuatan selama hidup.
“Saat itu mulut akan dikunci, dan anggota tubuh kita yang akan menjadi saksi serta mempertanggungjawabkan seluruh amal yang telah kita lakukan,” jelasnya.
Kajian yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut diikuti jamaah dengan khusyuk, tertib, dan penuh perhatian hingga selesai.
Sebagai penutup, K.H. Erdi Hardiman menegaskan bahwa kunci meraih kesuksesan di akhirat adalah menjaga istiqamah dalam setiap amal kebaikan, sehingga Allah menganugerahkan husnul khatimah pada akhir kehidupan.













