Berita

Ketut Purniti: Tirthayatra ke Pura Agung Blambangan Perkuat Sradha, Kedamaian, dan Persaudaraan Umat

3
×

Ketut Purniti: Tirthayatra ke Pura Agung Blambangan Perkuat Sradha, Kedamaian, dan Persaudaraan Umat

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Banyuwangi

Tirthayatra ke Pura Agung Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, pada malam Hari Raya Kuningan, Sabtu Kliwon Wuku Kuningan, menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus memanjatkan doa demi kedamaian, kesejahteraan, dan keharmonisan seluruh makhluk hidup.

Ketut Purniti, S.Ag., M.Pd.H., mengatakan tirthayatra bukan sekadar perjalanan suci menuju tempat ibadah, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mensyukuri anugerah kesehatan, serta memperkokoh nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui tirthayatra, umat diajak untuk selalu bersyukur atas karunia kesehatan sehingga dapat menjalankan swadharma dan tetap memiliki kesempatan nangkil ke pura untuk bersembahyang memohon tuntunan serta anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.

Pada malam piodalan, ribuan umat Hindu memadati Pura Agung Blambangan. Suasana religius terasa khidmat dengan iringan tabuhan gamelan gong, lantunan kidung suci, serta persembahan tari-tarian sakral yang mengiringi jalannya upacara.

Prosesi persembahyangan dipimpin Pinandita melalui pembacaan mantra-mantra suci. Seluruh umat kemudian bersama-sama melantunkan Mantram Tri Sandya yang dilanjutkan dengan Panca Sembah. Setelah persembahyangan usai, umat menerima tirtha dan bija sebagai simbol penyucian diri dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Menurutnya, keberadaan Pura Agung Blambangan memiliki makna yang sangat mendalam sebagai tempat memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta berbagai manifestasi-Nya. Selain menjadi tempat berdoa, pura juga menjadi ruang spiritual yang menghadirkan ketenangan batin, memperkuat keyakinan, serta mempererat tali persaudaraan umat Hindu dari berbagai daerah.

Ia menjelaskan, tirthayatra memberikan kekuatan rohani agar umat lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Melalui persembahyangan, seseorang diajak membangun kedekatan dengan Sang Pencipta sehingga memperoleh ketenangan, kebijaksanaan, dan semangat dalam menjalankan kehidupan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ajaran Hindu Dharma mengedepankan nilai-nilai universal seperti Vasudhaiva Kutumbakam, Tat Twam Asi, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut mengajarkan bahwa seluruh umat manusia merupakan satu keluarga besar yang harus saling menghormati, saling mengasihi, dan hidup berdampingan secara harmonis.

Hal itu, lanjutnya, sejalan dengan ajaran Bhagavad Gita Bab V Sloka 18 yang mengajarkan bahwa orang bijaksana memandang seluruh makhluk hidup secara setara. Karena itu, setiap umat Hindu diharapkan menumbuhkan rasa kasih sayang, kepedulian, serta mengajak sesama untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Tujuan hidup menurut Hindu Dharma adalah Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, yakni mewujudkan kesejahteraan dunia sekaligus mencapai moksa. Karena itu, umat hendaknya senantiasa rajin bersembahyang, mengikuti ajaran para suci, serta mengamalkan nilai kasih sayang kepada seluruh makhluk hidup agar tercipta kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh berkah,” tutupnya.

Penulis: GedeEditor: Redaksi Dbn