BeritaCERPENNasional

NENG KIRANA, PENJAGA LENTERA KEBENARAN

3
×

NENG KIRANA, PENJAGA LENTERA KEBENARAN

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Palembang

HARI KE-9

NENG KIRANA, PENJAGA LENTERA KEBENARAN

Oleh : Ki Bagus Arfan H ( Pimpinan Umum Media Pers Online Duta Berita Nusantara)

Malam itu Warung Integritas lebih ramai dari biasanya.

Beberapa warga datang membawa keresahan.

Ada yang bingung karena informasi yang berbeda-beda.

Ada yang kecewa karena janji yang tidak ditepati.

Ada pula yang bertanya-tanya mengapa banyak keputusan penting dibuat tanpa diketahui rakyat.

Mang Ebin melihat keadaan itu lalu bertanya,

“Kenapa semakin banyak masalah muncul ketika orang mulai berhenti bertanya?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Suasana menjadi hening.

Saat itulah Neng Kirana datang.

Di tangannya terdapat lentera yang cahayanya terlihat lebih terang dari biasanya.

Ia meletakkan lentera itu tepat di depan Brankas Rakyat.

Mang Robin memperhatikan.

“Kirana, kenapa kau meletakkan lentera di sana?”

Kirana tersenyum.

Karena di situlah amanah rakyat disimpan.

Dan amanah hanya akan selamat jika selalu berada dalam cahaya.

Mang Ebin masih penasaran.

“Maksudmu?”

Kirana menatap Brankas Rakyat.

Lalu berkata perlahan.

“Korupsi tidak selalu datang membawa kantong uang.”

“Kadang ia datang dalam bentuk informasi yang disembunyikan.”

“Kadang hadir ketika laporan tidak dibuka kepada rakyat.”

“Kadang tumbuh saat orang memilih diam meski melihat penyimpangan.”

Semua terdiam.

Kak Ardi menghentikan catatannya sejenak.

Mang Robin mengangguk pelan.

Kirana melanjutkan.

“Korupsi menyukai tempat yang gelap.”

“Tempat di mana tidak ada yang bertanya.”

“Tempat di mana tidak ada yang mengawasi.”

“Tempat di mana rakyat tidak tahu apa yang sedang terjadi.”

Mang Ebin mulai memahami.

Jadi tugas Kirana bukan mencari kesalahan.

Bukan pula menuduh siapa pun.

Melainkan memastikan cahaya kebenaran tetap menyala agar tidak ada ruang bagi penyalahgunaan amanah.

Kirana mengangkat lenteranya.

Cahayanya menerangi wajah semua yang hadir.

“Lentera ini mengingatkan kita bahwa setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan.”

“Setiap amanah harus terbuka.”

“Dan setiap kekuasaan harus siap diawasi.”

Angin malam berembus pelan.

Namun nyala lentera itu tidak bergoyang.

Tetap tegak.

Tetap terang.

Tetap menyala.

Kini Mang Ebin benar-benar mengerti.

Mengapa Neng Kirana disebut Penjaga Lentera Kebenaran.

Karena selama masih ada yang berani mencari fakta…

Selama masih ada yang berani bertanya…

Selama masih ada yang berani membuka kebenaran…

Korupsi tidak akan pernah merasa nyaman bersembunyi.

QUOTE NENG KIRANA

šŸ® “Korupsi tumbuh dalam kegelapan. Integritas menyalakan cahaya.”

šŸ® “Transparansi bukan ancaman bagi orang jujur, tetapi ketakutan bagi penyalahguna amanah.”

šŸ® “Ketika rakyat mengetahui kebenaran, korupsi kehilangan tempat bersembunyi.”

šŸ® “Jangan takut pada pengawasan. Takutlah ketika tidak ada lagi yang peduli.”

šŸ® “Lentera kebenaran bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menerangi.”

Pesan Moral Hari Ke-9

Korupsi bukan hanya soal uang yang dicuri. Korupsi juga lahir ketika transparansi hilang, ketika pengawasan dilemahkan, dan ketika masyarakat tidak mendapatkan informasi yang seharusnya mereka ketahui.

Karena itu, menjaga keterbukaan informasi adalah bagian dari menjaga amanah rakyat.

#33DayIntegrityChallenge

#JurnalisHebatBerintegritas

#LawanKorupsi

#BiasakanYangBenar

#AksiKita

Penulis: Ki Bagus Editor: Redaksi Dbn