Duta Berita Nusantara | Bogor
SEBELUM MENJADI ABU
Oleh: Nurul Jannah
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Belajar Menjaga
Ada kebiasaan kita yang cukup menyedihkan: sering kali kita baru memahami betapa berharganya sebuah kehadiran setelah ia tidak lagi ada.
Ketika hutan masih hijau, kita merasa ia akan selalu ada
Ketika air masih jernih, kita menggunakannya tanpa banyak berpikir.
Ketika tubuh masih sehat, kita memaksanya bekerja seolah tidak pernah akan lelah.
Ketika orang tua masih bisa ditelepon, kita berkata, “Nanti saja.”
Ketika pasangan masih di samping, kita menganggap kebersamaan sebagai hal biasa.
Ketika anak-anak masih ingin bercerita, kita terlalu sibuk menatap layar.
Ketika sahabat masih setia menyapa, kita lupa bahwa tidak semua orang akan selamanya menunggu.
Lalu suatu hari, yang kita anggap biasa itu tidak lagi ada.
Barulah kita rindu. Barulah kita menyesal. Barulah kita ingin memutar waktu.
Barulah kita sadar: ternyata yang dulu terasa biasa adalah bagian berharga dari hidup yang lupa kita syukuri.
Padahal waktu tidak pernah berjalan mundur untuk mengembalikan apa yang terlambat kita jaga.
Hutan mengajarkan itu dengan cara yang menyakitkan. Pohon membutuhkan bertahun-tahun untuk tumbuh, tetapi api hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengubahnya menjadi abu.
Begitu pula banyak hal dalam kehidupan. Ada yang membutuhkan waktu begitu lama untuk dibangun, tetapi hanya perlu satu kelalaian untuk meruntuhkannya.
Kepercayaan dibangun bertahun-tahun, tetapi dapat runtuh karena satu pengkhianatan. Hubungan dirawat begitu lama, tetapi bisa retak oleh kata-kata yang terlanjur melukai.
Tubuh menemani kita puluhan tahun, tetapi kita sering baru mendengarkannya ketika ia mulai sakit.
Orang tua menunggu kabar kita berkali-kali, sementara kita terus merasa masih ada hari esok untuk menelepon.
Dan hati, ia bisa memaafkan berkali-kali, bertahan berkali-kali, memberi kesempatan berkali-kali, sampai suatu hari ia lelah dan memilih berhenti.
Kita tahu, tidak semua yang rusak dapat kembali seperti semula.
Ada luka yang bisa sembuh, tetapi meninggalkan bekas.
Ada kepercayaan yang bisa dibangun kembali, tetapi membutuhkan perjalanan panjang. Dan ada kehilangan yang tidak menyediakan kesempatan kedua.
Itulah mengapa merawat selalu lebih bijaksana daripada menyesali kehilangan.
Kita terlalu pandai memperbaiki setelah kerusakan terjadi.
Ketika hutan terbakar, kita menanam kembali.
Ketika sungai tercemar, kita mencari cara memulihkannya.
Ketika tubuh sakit, kita mencari dokter terbaik.
Ketika hubungan retak, kita sibuk mencari cara menyambungkannya.
Ketika orang yang kita cintai mulai menjauh, barulah kita mencari kata-kata yang dahulu terlalu gengsi untuk diucapkan.
*Tetapi mengapa harus menunggu dulu sampai rusak?*
Mengapa harus kehilangan dulu untuk belajar mencintai?
Mengapa harus sakit dulu untuk belajar menjaga?
Mengapa harus sepi dulu untuk merindukan kebersamaan?
Mengapa harus hampir pergi untuk akhirnya diminta tinggal?
Mengapa harus ada air mata untuk menyadari bahwa ego ternyata terlalu mahal?
Barangkali karena kehadiran yang setiap hari bersama kita perlahan terasa biasa.
Kita mengira masih ada besok. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Masih bisa nanti.
Padahal hidup tidak pernah menandatangani perjanjian bahwa semua yang ada hari ini masih akan berada di tempat yang sama esok pagi.
Maka pagi ini, jangan terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita punya.
Lihatlah apa yang masih ada.
Jika orang tua masih bisa ditelepon, teleponlah.
Jika ada hati yang perlu dipeluk, peluklah.
Jika ada salah yang perlu diakui, minta maaflah.
Jika anak masih ingin bercerita, letakkan gawai dan dengarkan matanya, bukan hanya kata-katanya.
Jika tubuh masih sehat, rawatlah.
Jika persahabatan masih bisa diperbaiki, turunkan ego.
Jika ada orang baik yang selama ini selalu hadir, jangan menunggu kepergiannya untuk mengucapkan terima kasih.
Jika masih ada pohon yang bisa dijaga, jangan tunggu ia ditebang.
Dan jika masih ada bumi yang bisa diwariskan, jangan terus melukainya.
Sebab cinta tidak diukur dari seberapa keras kita menangis setelah kehilangan.
Cinta terlihat dari seberapa sungguh kita merawat ketika yang kita cintai masih ada.
Barangkali pagi ini kita memang tidak membutuhkan nasihat yang panjang.
Kita hanya membutuhkan keberanian untuk menjawab satu pertanyaan dengan jujur:
“Apa yang masih ada dalam hidupku hari ini, tetapi selama ini lupa aku rawat?”
Mungkin jawabannya adalah ibu. Ayah. Pasangan. Anak. Sahabat. Saudara yang lama tidak kita sapa. Tubuh kita sendiri. Kepercayaan yang pernah diberikan kepada kita. Rumah yang selama ini menjadi tempat pulang. Atau bumi yang setiap hari kita pijak dan diam-diam terus menanggung jejak kehidupan kita.
Apa pun jawabannya, jangan tunggu kehilangan yang mengajari kita tentang nilai sebuah kehadiran.
Datangi selagi masih bisa ditemui. Peluk selagi masih bisa dirasakan. Katakan sayang selagi masih bisa didengar. Ucapkan terima kasih selagi masih ada mata yang bisa menatap kita.
Minta maaf selagi pintu masih terbuka. Pulanglah selagi masih ada yang menunggu. Rawat selagi masih utuh. Jaga selagi masih dipercayakan kepada kita.
Karena sebagian penyesalan terbesar dalam hidup tidak lahir dari apa yang tidak pernah kita miliki. Ia justru lahir dari apa yang pernah kita miliki, tetapi terlambat kita hargai.
Dan akhirnya hanya menyisakan satu kalimat: “Seandainya waktu itu aku menjaganya lebih baik.”
Jangan sampai itu menjadi kalimat kita. Jangan menunggu yang hijau mengering. Jangan menunggu yang sehat jatuh sakit. Jangan menunggu yang dekat menjauh. Jangan menunggu yang percaya menjadi kecewa.
Jangan menunggu yang utuh menjadi retak. Jangan menunggu rumah menjadi sunyi untuk merindukan suara-suara di dalamnya.
Dan jangan menunggu yang kita cintai berubah menjadi kenangan untuk akhirnya memahami betapa berharganya sebuah kehadiran.
Rawatlah selagi masih ada
Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menjaga.
Sebab tidak semua yang pergi bisa dipanggil pulang, tidak semua yang retak bisa kembali utuh, dan tidak semua kesempatan datang dua kali.
Jangan sampai yang hari ini masih bisa kita peluk, esok hanya bisa kita kenang.
Sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya menjadi abu.
Bogor, 4 September 2026













