Scroll untuk baca artikel
BeritaSerba Serbi

Termodinamika Kejujuran di Bawah 13 Derajat

5
×

Termodinamika Kejujuran di Bawah 13 Derajat

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Yogyakarta

Oleh: Aethera Aditi 

Minggu pagi ini, udara di desaku terasa begitu menusuk tulang. Layar ponselku menunjukkan angka 13 derajat Celsius sebuah suhu yang memaksa molekul-molekul air di udara mengalami kondensasi ekstrem, mengubah uap tidak terlihat menjadi butiran embun yang menggelayut berat di ujung rumput. Matahari baru bangun setengah, menyembul malu-malu di ufuk timur. Aku sempat terpaku sejenak menikmati gradasi warnanya yang eksotik; perpaduan antara biru dongker sisa malam, ungu pekat, yang perlahan meleleh menjadi semburat jingga keemasan. Aku melangkah santai di sekitar lapangan desa, berniat me-refresh tubuh dari kepenatan.

Namun, langkahku terhenti saat melewati Tempat Pembuangan Umum (TPU) di sebelah lapangan. Di sana, aku melihat sosok bapak tukang sampah desa kami. Beliau belum mulai membakar sampah. Pagi buta ini, beliau justru sedang melakukan hal yang paling penting: persiapan. Dengan telaten, beliau memilah entalpi tumpukan sampah di hadapannya. Sampah organik dan sisa makanan dimasukkan ke dalam tong khusus untuk dialokasikan menjadi pupuk kompos sebuah proses dekomposisi alami yang nantinya akan mengembalikan unsur hara ke tanah. Sementara di sisi lain, beliau mengumpulkan tumpukan biomassa kering; daun-daun dan ranting gugur yang siap dijadikan bahan bakar utama untuk memicu reaksi pembakaran.

Melihat beliau sudah berpeluh di tengah hawa dingin yang nyaris membekukan, hatiku tergerak untuk mendekat. Menembus kabut tipis, aku menyapa beliau menggunakan bahasa Jawa yang santun.

Pak, nopo mboten asrep to taksih enjing ngeten pun badhe bakar sampah?” (Pak, apa tidak dingin, masih sepagi ini sudah mau membakar sampah?)

Beliau menghentikan persiapannya sejenak, mengusap dahi dengan punggung tangan, lalu menoleh dengan senyum tulus yang tersungging di wajahnya yang mulai berkerut.

“Nggih lek pun adem nggih asrep, Mbak,” jawabnya sambil terkekeh pelan.

Tapi niki mpun tugase kulo, niki mpun tanggung jawabe kulo. Lek mboten disambi sakniki, nggih mangke malah numpuk mboten karuan wargane malah mboten nyaman.” (Ya kalau dibilang dingin ya dingin, Mbak. Tapi inilah pekerjaan saya, inilah tanggung jawab saya. Kalau tidak dicicil sekarang, ya nanti malah menumpuk tidak karuan, warganya malah tidak nyaman).

Beliau kemudian menata beberapa ranting kering dengan posisi melingkar, menciptakan ruang oksigen yang cukup agar reaksi oksidasi berjalan sempurna saat api dinyalakan nanti. Beliau melanjutkan kalimatnya yang seketika menjadi tamparan keras buat aku.

“Mengke sinten ngertos nggih mawi bakar sampah ngeten, nggenaki geni, malah awake dados anget. Dilampahi kanti ikhlas nggih mboten keroso abot, Mbak.” (Nanti siapa tahu dengan membakar sampah mendekati api, malah justru membuat tubuh ini menjadi hangat. Dijalani dengan ikhlas ya tidak terasa berat, Mbak).

Aku tersenyum kagum, menghirup udara pagi yang dingin lalu berpamitan lembut, “Nggih pun, Pak. Semangat nggih, dilajengaken pakaryanipun. Kulo tak melanjutkan lari-lari kecil riyin teng lapangan.” (Ya sudah, Pak. Semangat ya, dilanjutkan pekerjaannya. Saya mau melanjutkan lari-lari kecil dulu di lapangan).

Sembari melakukan lari-lari kecil di lintasan lapangan, pikiranku mengembara jauh. Otak sainsku mendadak menghubungkan kejadian tadi dengan hukum alam. Secara fisika, bapak tersebut sedang bersiap menciptakan reaksi eksotermik sebuah proses yang melepaskan kalori ke lingkungan sekitar. Rasa dingin (energi rendah) di tubuhnya akan diusir oleh energi panas dari api (energi tinggi).

Namun secara moral, beliau sedang mempraktikkan hukum termodinamika kejujuran yang luar biasa. Sering kali, profesi seperti beliau dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Namun pagi ini, dari sosok yang sering terlupakan itulah aku justru mendapatkan kuliah terbaik tentang arti integritas sejati.

Bagi beliau, integritas bukanlah slogan antikorupsi yang rumit. Integritas adalah menjaga sistem diri agar tidak mengalami ‘kebocoran energi’ akibat malas atau mengeluh. Di bawah suhu 13 derajat yang menggigil, saat tidak ada satu pun pasang mata warga desa yang mengawasinya bekerja, beliau tetap setia pada komitmennya. Beliau memilah sampah dengan jujur, bekerja di pagi buta tanpa memanipulasi waktu kerja.

Pagi ini aku belajar, korupsi dan runtuhnya integritas di tingkat atas terjadi karena manusia gagal mengelola “entropi” atau kecenderungan moral yang rusak di dalam dirinya. Sementara bapak tukang sampah ini, dengan keikhlasannya, berhasil menjaga keseimbangan ekosistem desa sekaligus ekosistem moralnya sendiri. Aku pulang dengan tubuh yang segar, dan sebuah perenungan mendalam: bahwa integritas tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan kita, melainkan dari seberapa murni tanggung jawab yang kita tuangkan dalam setiap tugas tersembunyi yang kita emban.