Scroll untuk baca artikel
Serba SerbiSerial cerita viral DBN

Yang Tak Jadi

4
×

Yang Tak Jadi

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Jakarta

Yang Tak Jadi

Oleh: Nurul Jannah

Pagi itu, Aceh terasa begitu jauh.

Padahal beberapa hari sebelumnya, ia terasa dekat sekali. Ada pekerjaan yang menunggu. Ada dua lokasi audit lingkungan yang akan aku datangi. Kontrak sudah ditandatangani. Jadwal mulai disusun. Pikiran bahkan seperti sudah lebih dahulu tiba di sana.

Aku membayangkan turun ke lapangan, berbicara dengan banyak orang, membaca jejak-jejak lingkungan, memeriksa bukti, berdiskusi dengan tim, lalu pulang membawa catatan panjang untuk disusun menjadi laporan.

Lalu semuanya berhenti pada satu kalimat:

Aku tidak jadi berangkat.

Bukan karena pekerjaannya dibatalkan. Bukan pula karena aku tidak siap. Ada pertimbangan keluarga yang akhirnya membuatku memilih untuk tidak pergi. Sebuah keputusan yang tidak mudah, sebab kadang hidup meminta kita menghormati keadaan, bahkan ketika hati masih ingin melangkah.

Pagi itu aku kecewa. Sangat kecewa. Karena aku sudah menaruh hati pada pekerjaan itu.

Ada amanah yang ingin aku tuntaskan. Ada pengalaman yang ingin aku jalani. Ada kepercayaan yang ingin aku jaga.

Sesaat aku merasa sangat kehilangan.

Lalu pikiran mulai memainkan permainan lamanya.

Seandainya aku tetap pergi…

Seandainya keadaan berbeda…

Seandainya aku memilih jalan lain…

Aku hampir saja tinggal lama di sana. Di dalam kata “seandainya.”

Padahal “seandainya” tidak pernah mengubah kemarin.

Ia hanya membuat hati berulang kali kembali ke tempat yang sudah tidak bisa diulang.

Malam sebelumnya, aku meminta satu ayat kepada Allah untuk aku tadabburi.

Aku mendapatkan QS Ṭāhā: 130.

“Maka bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, agar engkau merasa tenteram.”

Pagi itu, ayat tersebut seperti mengetuk bagian hati yang sedang gaduh.

Barangkali yang sedang Allah ajarkan kepadaku bukan tentang Aceh.

Bukan tentang pergi atau tidak pergi.

Tetapi tentang bagaimana menerima ketika jalan yang harus aku tempuh ternyata berbeda dari jalan yang telah aku rencanakan.

Aku masih kecewa.

Aku tidak ingin berpura-pura kuat lalu buru-buru berkata, “Aku sudah ikhlas.”

Sebab ternyata ikhlas bukan tombol yang bisa ditekan, lalu seluruh kecewa mendadak hilang.

Ikhlas kadang tumbuh perlahan.

Ia dimulai ketika kita berhenti bertengkar dengan kenyataan.

Ketika kita berhenti bertanya,

“Mengapa harus begini?” dan mulai bertanya,

“Dengan keadaan seperti ini, apa yang masih bisa aku lakukan?”

Dan ternyata, satu pertanyaan sederhana itu mengubah cara pandangku.

Aku memang tidak jadi berangkat ke Aceh.

Tetapi ternyata aku tidak harus kehilangan kesempatan itu. Aku hanya perlu mengalihkan cara menjalaninya.

Kakiku mungkin tidak sampai ke sana.

Tetapi pikiranku masih bisa bekerja.

Pengalamanku masih bisa digunakan.

Aku masih bisa membaca data. Menelaah bukti. Berdiskusi dengan tim. Membantu menganalisis temuan. Menghubungkan fakta-fakta lapangan. Memberikan pandangan ketika dibutuhkan.

Dan ketika tim membawa pulang catatan, foto, data, hasil wawancara, serta berbagai temuan dari lapangan, aku masih bisa mengambil bagian dalam menyusun laporannya.

Kemudian aku memahami bahwa tidak hadir secara fisik bukan berarti tidak hadir dalam karya.

Dalam sebuah pekerjaan, tidak semua kontribusi harus dilakukan dengan berdiri di tempat yang sama.

Ada yang berjalan di lapangan.

Ada yang mengamati.

Ada yang mewawancarai.

Ada yang mengumpulkan bukti.

Dan ada yang menyatukan semuanya menjadi analisis yang utuh dan tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bukankah semuanya sedang mengerjakan perjalanan yang sama?

Barangkali aku terlalu terpaku pada satu bentuk kesempatan, hingga hampir lupa bahwa kesempatan dapat berganti rupa tanpa kehilangan makna.

Kemarin aku membayangkan kontribusiku melalui perjalanan.

Hari ini, mungkin melalui pemikiran dan tulisan.

Besok?

Aku tidak tahu.

Dan rupanya, aku tidak harus selalu tahu.

Sebab hidup berkali-kali mengajarkan bahwa rencana manusia sering berbentuk garis lurus, sementara jalan Allah dapat berbelok, memutar, bahkan meminta kita berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Bukan berarti gagal. Mungkin hanya dialihkan.

Maka aku tidak ingin lagi menyebut hari ini sebagai kehilangan.

Aku memilih menyebutnya: perubahan jalan.

Aku tidak melepaskan kesempatan.

Aku hanya mengalihkan cara untuk tetap mengambil bagian dan memberi manfaat.

Dan pemahaman itu membuat dada terasa sedikit lebih lapang.

Aceh…

Kali ini memang kakiku tidak sampai kepadamu.

Aku tidak melihat langsung tempat-tempat yang sebelumnya ingin aku datangi.

Tetapi sebagian pikiranku tetap akan berada di sana; melalui data yang aku baca, temuan yang aku telaah, diskusi yang aku ikuti, dan kalimat-kalimat yang kelak ikut aku susun dalam laporan.

Memang aku tidak datang mengunjungimu. Tetapi bukan berarti aku sama sekali tidak hadir. Aku hadir dengan cara yang berbeda.

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua pintu yang tidak dapat kita masuki berarti pintu itu tertutup.

Kadang Allah hanya berkata: “Bukan lewat sini.”

Lalu menunjukkan jalan lain.

Aku masih boleh kecewa.

Aku masih boleh sedih.

Tetapi aku tidak ingin menjadikan kesedihan itu rumah.

Biarlah ia duduk sebentar di sampingku. Tidak perlu diusir, tetapi juga tidak perlu aku biarkan tinggal lama di sana.

Setelah itu, aku akan kembali bekerja.

Membaca.

Berpikir.

Menganalisis.

Menulis.

Dan tetap memberikan yang terbaik dari tempat aku berdiri.

Ketika sesal itu datang lagi, aku ingin mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua rencana yang berubah berarti kesempatan hilang.

Kadang Allah hanya memindahkan tempat kita berdiri, agar kita belajar bahwa manfaat tidak selalu lahir dari kehadiran, tetapi dari apa yang tetap akan kita berikan.

Maka pagi ini aku tidak lagi berkata,

“Aku kehilangan Aceh.”

Aku memilih berbisik kepada diri sendiri:

“Aku tetap bisa mengambil bagian, hanya dengan cara yang berbeda.”

Dan, inilah ikhlas yang sedang aku pelajari.

Bukan menyerah. Bukan melepaskan. Bukan pula berpura-pura tidak kecewa.

Tetapi menerima perubahan tanpa kehilangan semangat untuk tetap memberi manfaat.

Dan kepada Allah SWT, aku ingin menitipkan satu doa:

Ya Allah, ketika jalanku berubah, jangan biarkan hati ini kehilangan arah.

Ajari aku menerima tanpa menyerah, mengalah tanpa merasa kalah, dan tetap memberi manfaat dari tempat mana pun Engkau menempatkan aku.

Jika kaki ini tidak dapat sampai ke sana, izinkan ilmu, pikiran, dan tulisanku tetap menjadi bagian dari kebaikan yang akan aku tinggalkan.

Kini aku mengerti, ternyata aku tidak kehilangan kesempatan.

Aku hanya sedang belajar, bahwa kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan.

Allah tidak mengambil sebuah kesempatan dari tangan kita. Dia hanya mengubah cara kita menjalaninya.

Dan itulah pelajaran paling indah dari perjalanan yang tidak jadi ini.

Tidak semua perjalanan membutuhkan langkah kaki. Ada perjalanan yang tetap sampai melalui pikiran, ilmu, karya, dan manfaat yang kita tinggalkan.

Aceh memang tidak menerima jejak kakiku kali ini.

Tetapi insyaAllah, masih ada sedikit jejak pikiranku di sana.

Dan itu cukup untuk membuatku kembali tersenyum.