Duta Berita Nusantara | Surakarta
Gelombang semangat dan kebanggaan memenuhi Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam Wisuda Periode III Tahun 2026. Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menandai lahirnya energi baru dari generasi terdidik yang siap berkontribusi bagi bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, lulusan Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum UNS, dipercaya mewakili wisudawan untuk menyampaikan pidato di hadapan pimpinan universitas, senat akademik, dewan profesor, serta civitas akademika dan tamu undangan.
Dalam pidatonya, Mustain Nasoha menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal pengabdian. Ia mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu sebagai fondasi dalam berkarya dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Wisuda bukan sekadar perayaan kelulusan, tetapi momentum kebangkitan. Saatnya kita bergerak—mengubah ilmu menjadi karya, dan karya menjadi manfaat nyata bagi negeri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa gelar akademik bukan sekadar simbol prestise, melainkan tanggung jawab intelektual yang harus diwujudkan dalam tindakan konkret.
Menguatkan pesannya, Mustain Nasoha mengutip pemikiran Albert Einstein yang menyatakan, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.” Ia juga mengingatkan filosofi Aristoteles, “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet,” sebagai refleksi atas proses panjang yang telah dilalui para wisudawan.
Dalam perspektif kebangsaan, ia menilai Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengambil peran dan menghadirkan solusi.
“Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Ia membutuhkan keberanian untuk berbuat, ketulusan untuk mengabdi, dan konsistensi untuk menjaga nilai,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran alumni sebagai penggerak perubahan. Menurutnya, kontribusi dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan berdampak di berbagai bidang.
Dalam refleksinya, ia menyebut UNS bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan ruang pembentukan karakter dan integritas. Kampus ini, kata dia, telah melahirkan insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkomitmen terhadap nilai-nilai pengabdian.
Suasana pidato semakin haru saat ia menyampaikan apresiasi kepada orang tua, keluarga, dan seluruh civitas akademika atas dukungan dan doa yang mengiringi perjalanan para wisudawan.
Sebagai penutup, Mustain Nasoha mengajak seluruh lulusan untuk menjaga nama baik almamater serta terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Pidato tersebut menjadi lebih dari sekadar bagian seremoni wisuda. Ia menjelma menjadi seruan kebangkitan bagi generasi intelektual muda—untuk bergerak, berkarya, dan memberi makna bagi Indonesia.














