Scroll untuk baca artikel
CERPEN

Merawat Kewarasan di Zaman Kalatidha

5
×

Merawat Kewarasan di Zaman Kalatidha

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara| Kota Batu

Merawat Kewarasan di Zaman Kalatidha

Oleh: Aethera Aditi

Ada bau hangus yang tertinggal di udara setiap kali seseorang dengan ringan merampas milik orang lain lalu mengenakannya sebagai jubah kehormatan.

Ranggawarsita pernah mencemaskan suatu masa ketika orang-orang waras harus memilih antara ikut menipu atau kedodoran di tengah jalan—sebuah era yang ia sebut Kalatidha. Namun, pujangga besar itu barangkali tidak pernah membayangkan bahwa di abad digital ini, zaman edan tidak lagi membutuhkan sandiwara yang rumit.

Ia cukup dirayakan di balik layar kaca yang menyala terang, tempat di mana kejujuran intelektual dilipat rapi, dan tangan-tangan terampil dengan ringan memungut milik orang lain untuk diselipkan di saku dada mereka sendiri.

Kita hidup di masa ketika jarak antara pencurian dan pengakuan kian menipis, nyaris tak bersuara. Di ruang-ruang maya yang bising oleh riuh tepuk tangan palsu, karya tidak lagi dilihat sebagai buah dari pergulatan batin, melainkan sekadar komoditas temuan yang bebas dicaplok siapa saja yang haus akan panggung. Ada semacam kecanduan kolektif untuk merasa penting, meski harus menumpang pada napas dan paru-paru orang lain.

Padahal, kerja merumuskan kegelisahan menjadi kata-kata bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit atau merayap begitu saja dari mesin pencari. Ia adalah laku permenungan—proses ketika tubuh, ingatan, dan waktu dipertaruhkan di atas selembar kertas.

Ketika hal yang paling sakral dari kerja kreatif itu dirampas dan dipertontonkan sebagai kepunyaan sendiri, kita sedang menyaksikan kebangkrutan moral yang paling telanjang: sebuah era di mana kepasrahan berganti menjadi kelengahan yang merusak peradaban dari dalam.

Di dunia yang mendewakan kecepatan, karya sastra kerap diperlakukan seperti barang kelontong di pasar malam: dipajang kilat, dihitung jumlah kliknya, lalu dilupakan begitu saja. Padahal, sebuah teks yang lahir dari rahim kejujuran tidak pernah tunduk pada hukum efisiensi.

Ia menolak diperas menjadi sekadar konten sekali pakai. Suatu malam, ketika keheningan merayap di atas meja kerja, selembar manuskrip tua yang dipenuhi coretan tinta seolah berbisik getir pada layar gawai yang menyala di dekatnya, mempertanyakan harga sebuah nyawa yang disedot habis demi deretan angka tayangan yang dingin dan tanpa rasa bersalah.

Benturan bisu itu merangkum ironi terbesar hari ini. Ketika sebuah tetesan keringat batin dirampas dan diunggah ulang tanpa izin, pencatutnya tidak sedang merayakan karya; mereka sedang membangun panggung dari sisa-sisa lantai rumah orang lain, lalu berdiri di atasnya sambil berteriak mengaku sebagai arsiteknya.

Sebab kebohongan di dunia digital selalu berpacu dengan waktu, dan di sinilah ironi itu merapat. Mereka yang mencatut karya kerap lupa bahwa waktu memiliki memori yang jauh lebih panjang daripada ingatan para pencari sensasi instan. Ada tanggal yang tertulis di atas serat kertas, ada jejak lelah yang melekat pada setiap barisnya, dan ada rekam sejarah yang membentang jauh sebelum layar gawai para peniru itu sempat menyala.

Persoalan ini melampaui sekadar urusan hak cipta yang dilanggar atau kepemilikan naskah yang diserobot. Apa yang menimpa manuskrip bertanggal 28 Oktober 2026 milik Alfi Saifullah adalah cerminan dari penyakit yang lebih besar di ruang publik kita: sebuah sindrom masyarakat yang ingin menikmati kemuliaan kata-kata tanpa sudi menanggung luka dari proses penciptaannya. Mereka memuja hasil akhirnya, tetapi merampas jalannya; mereka menginginkan tepuk tangan, tetapi menolak berkeringat di ruang gelap permenungan.

Ada kepedihan yang getir bagi mereka yang hidup dari kepalsuan. Betapapun megah panggung yang mereka dirikan dari keringat orang lain, bangunan itu tetaplah berdiri di atas pasir. Mereka mungkin bisa memotret lembarannya dan mengeja huruf-hurufnya di hadapan publik maya, tetapi mereka tidak akan pernah bisa mencuri denyut nadi yang melahirkan karya itu dari kepala pengarang yang sah.

Sebuah naskah yang lahir dari tetesan keringat batin tidak pernah meminta untuk dibela oleh amarah. Ia tahu betul bagaimana cara merawat kewarasannya sendiri di atas kertas, jauh sebelum tangan-tangan yang lapar panggung sempat menyentuhnya.

Selalu ada batas tak terlihat yang memisahkan antara kerja kreatif yang jujur dan keputusasaan untuk sekadar diakui. Mereka yang memilih mencatut karya orang lain sering kali lupa bahwa ingatan kolektif sebuah zaman tidak dibangun di atas tepuk tangan yang riuh sesaat. Apa yang dirampas dan dipajang di etalase digital tidak akan pernah menjelma menjadi darah dan daging; ia selamanya hanya akan menjadi properti sewaan yang melekat pada raga yang salah.

Zaman boleh jadi terus berputar dalam bisingnya layar gawai yang memuja kecepatan dan angka-angka. Namun, sejarah tidak pernah bisa disuap oleh kepalsuan yang dikemas rapi. Ia selalu menyimpan cara yang tenang untuk memilah: mana denyut nadi yang hidup dari ketulusan berpikir, dan mana gema kosong yang tinggal menunggu waktu untuk larut bersama debu.

CERPEN

Duta Berita Nusantara | Palembang MAK ANI Oleh…