Duta Berita Nusantara | Palembang
KORUPSI DAN BUDAYA “BUKAN TUGAS GUE”
Oleh : Ki Bagus Arfan Hasbullah
Korupsi bukan hanya tentang uang yang dicuri dari Kas negara.
Korupsi adalah persoalan integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama. Ia menjadi semakin berbahaya ketika masyarakat mulai terbiasa melihat kesalahan sebagai sesuatu yang bukan urusannya.
Ada yang melihat kecurangan, lalu memilih diam.
Ada yang mengetahui penyalahgunaan wewenang, tetapi menghindar.
Ada yang melihat ketidakadilan, tetapi berkata:
“Bukan tugas gue.”
” Tugas Gue cari uang,biar dapur tetap ngebul,kebutuhan terpenuhi,hidup sejahtera dengan rejeki yang diterima, korupsi bukan tugas gue,”
Kalimat sederhana itu sebenarnya memiliki persoalan yang lebih dalam.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, tentu bukan berarti setiap orang harus ikut campur atau bertindak di luar kewenangannya. Namun, sikap tidak peduli terhadap lingkungan sosial dapat membuat perilaku yang salah semakin mudah dianggap biasa.
Hari ini mungkin hanya melihat.
Besok mulai membiarkan.
Lusa mulai menganggapnya wajar.
Dan suatu ketika, masyarakat tidak lagi merasa terganggu ketika sesuatu yang salah terjadi di depan mata.
Di sinilah empati sosial menjadi penting.
Empati sosial bukan berarti mencampuri semua persoalan orang lain. Empati berarti mampu menyadari bahwa kehidupan kita terhubung dengan kehidupan orang lain.
Ketika uang publik disalahgunakan, yang dirugikan bukan sekadar angka dalam laporan.
Ada masyarakat yang kehilangan pelayanan.
Ada anak yang kehilangan kesempatan meraih pendidikan
Ada fasilitas publik yang tidak terbangun dan sudah dibangun tidak dipelihara dengan rapi
Ada orang sakit yang mungkin tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya.
Ada kepercayaan masyarakat yang perlahan runtuh.
Karena itu, melawan korupsi membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk mengatakan “tidak” kepada diri sendiri.
Kita juga membutuhkan keberanian untuk peduli terhadap lingkungan kita.
Ketika melihat bullying, jangan menjadi bagian dari kerumunan yang menertawakan.
Ketika melihat kecurangan, jangan ikut menikmati keuntungan dari kecurangan itu.
Ketika melihat ketidakadilan, jangan langsung berpaling.
Ketika mengetahui dugaan pelanggaran, gunakan cara yang benar untuk menyampaikan atau melaporkannya.
Dan ketika kita belum memiliki kewenangan untuk bertindak, setidaknya jangan menjadi orang yang ikut membenarkan kesalahan.
Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang tidak korup.
Negeri ini membutuhkan masyarakat yang peduli ketika integritas sedang diuji.
Korupsi mungkin dilakukan oleh individu, tetapi dampaknya dapat dirasakan masyarakat luas.
Karena itu, membangun budaya antikorupsi juga berarti membangun budaya:
” peduli, berani, bertanggung jawab, dan tidak mudah menormalisasi kesalahan,”.
Jangan sampai suatu hari kita bertanya:
“Mengapa korupsi masih terjadi?”
Sementara ketika kesalahan kecil muncul di depan mata, kita memilih diam dan berkata:
“Bukan tugas gue.”
Mungkin memang bukan tugas kita untuk menjadi penegak hukum.
Tetapi menjaga integritas diri, tidak ikut membenarkan kesalahan, dan peduli terhadap negeri adalah tanggung jawab kita sebagai warga negara.
PASUKAN INTEGRITAS NUSANTARA
Integritas adalah Identitas.
Aksi Bersama Melawan Korupsi.
Penulis:
Pimpinan Umum Media Pers Online Duta Berita Nusantara/Pegiat Antikorupsi,Pegiat Kontrol Sosial dan Budaya, penulis cerpen,Badan Pengawas Nusantara Hijau Bersatu













