Palembang | Duta Berita Nusantara
(Kisah Kampung Minikow – Episode 2)
Oleh : Ki Bagus A.H (Jurnalis/Pegiat Sosial Budaya)
Malam di Kampung Minikow selalu datang pelan.
Tidak pernah tergesa-gesa.
Angin dari danau buatan bertiup lembut, membawa suara daun dan gemericik air yang memantul di jerambah kayu.
Namun malam itu…
ada sesuatu yang berbeda.
Mang Lem berjalan pelan menyusuri jalan kecil di tepi danau.
Sarungnya dilipat sampai lutut.
Tangannya memegang senter kecil yang kadang hidup kadang mati.
“Kenapa aku yang disuruh lihat…,” gumamnya.
Beberapa jam sebelumnya, Mang Abi mendatanginya dengan wajah serius.
“Lem… kau berani tidak?”
Mang Lem mengerutkan dahi.
“Berani apa?”
Mang Abi mendekat dan berbisik.
“Bangunan tua itu… lampunya menyala tengah malam.”
Mang Lem langsung tertawa.
“Bi… bangunan ada lampu itu biasa.”
Mang Abi menggeleng pelan.
“Masalahnya… rumah itu sudah lama tidak ada yang tinggal.”
Mang Lem berhenti tertawa.
Sekarang…
ia berdiri tepat di depan pagar besi bangunan tua itu.
Besinya tinggi.
Catnya sudah mulai mengelupas.
Rumput di halaman tumbuh liar seperti tidak pernah disentuh manusia.
Mang Lem menelan ludah.
“Ah… cuma cerita orang kampung,” katanya mencoba menenangkan diri.
Namun saat ia mengangkat senter…
ia melihat sesuatu.
Lampu di lantai dua bangunan itu menyala.
Kuning redup.
Seperti lampu rumah zaman dulu.
Mang Lem membeku.
“Bi… kau benar rupanya,” bisiknya pelan.
Ia melangkah lebih dekat ke pagar.
Dari balik kaca jendela yang besar…
sebuah bayangan bergerak.
Pelan.
Seperti seseorang berjalan.
Mang Lem langsung mundur dua langkah.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang melewati dedaunan.
Mang Lem menatap lagi.
Lampu itu tiba-tiba padam.
Gelap.
Sunyi.
Tiba-tiba…
suara sepatu terdengar dari dalam halaman.
Tok.
Tok.
Tok.
Mang Lem merinding.
“Tidak mungkin ada orang masuk… pagar ini terkunci.”
Ia hendak berlari.
Namun tiba-tiba suara seseorang terdengar dari belakangnya.
“Lem… kau lihat apa?”
Mang Lem hampir meloncat.
Ia menoleh.
Mang Abi berdiri santai sambil membawa termos kopi.
“Bi! Kau bikin jantungku copot!”
Mang Abi tersenyum kecil.
“Jadi benar lampunya menyala?”
Mang Lem menunjuk ke jendela.
“Tadi ada bayangan orang!”
Mang Abi menatap bangunan itu lama.
Lalu berkata pelan.
“Kalau begitu… berarti ceritanya benar.”
Mang Lem menelan ludah.
“Cerita apa lagi ini?”
Mang Abi menyeruput kopi dari tutup termos.
Lalu berkata dengan nada santai.
“Katanya… bangunan ini bukan kosong.”
Mang Lem langsung mendekat.
“Lalu siapa yang tinggal?”
Mang Abi tersenyum tipis.
“Orang-orang penting.”
Mang Lem mengerutkan dahi.
“Pejabat?”
Mang Abi menggeleng.
“Bukan.”
Mang Lem makin penasaran.
“Lalu siapa?”
Mang Abi menatap jendela bangunan yang gelap.
Kemudian berkata pelan.
“Orang yang kelihatannya sibuk…”
“…tapi sebenarnya tidak pernah bekerja.”
Mang Lem terdiam.
Beberapa detik kemudian ia tertawa keras.
“Hahahahaha!”
“Jadi itu hantu ya?”
Mang Abi ikut tertawa kecil.
“Tergantung sudut pandang.”
Namun tiba-tiba…
lampu di jendela itu menyala lagi.
Pelan.
Dan kali ini…
sebuah wajah terlihat di balik kaca.
Mang Lem berhenti tertawa.
Wajah itu hanya menatap.
Diam.
Tidak bergerak.
Mang Abi dan Mang Lem saling pandang.
Mang Abi berbisik pelan.
“Lem…”
“Iya?”
“Sepertinya…”
“…kita sedang diperhatikan.”
Angin malam tiba-tiba bertiup lebih dingin.
Dan dari balik jendela bangunan tua itu…
bayangan tadi perlahan mengangkat tangan.
Seolah memberi salam.
Atau…
peringatan.
Bersambung
Penasaran dengan kelanjutan misteri Kampung Minikow?
Ikuti kelanjutan kisah Mang Abi dan Mang Lem pada Episode berikutnya hanya di dutaberitanusantara.com.
Masih banyak rahasia yang belum terungkap dari bangunan tua itu…
Catatan Penulis
Cerita ini merupakan karya fiksi dan satire sosial. Apabila terdapat kemiripan nama, tempat, tokoh, maupun peristiwa, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk merujuk pada pihak mana pun.














