Scroll untuk baca artikel
Serba SerbiSerial cerita viral DBN

Cinta yang Tak Pernah Diminta

9
×

Cinta yang Tak Pernah Diminta

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara | Jakarta

Oleh: Nurul Jannah

Pernahkah engkau mendengar suara pohon yang ditebang?

Ia tidak berteriak.

Tidak memaki.

Tidak membalas.

Ia hanya tumbang…

lalu diam.

Namun, bersama rebahnya batang itu,

ada burung yang kehilangan rumah,

ada mata air yang kehilangan pelindung,

ada tanah yang perlahan kehilangan pelukannya.

Dan kita…

sering kali tidak merasa kehilangan apa-apa.

Pernahkah engkau melihat sungai menangis?

Airnya tidak pernah meminta dikasihani.

Ia tetap mengalir,

meski tubuhnya dipenuhi sampah,

meski napasnya sesak oleh limbah,

meski warnanya tak lagi sebening doa seorang ibu.

Sungai tetap setia.

Tetapi manusia

sering kali mengkhianati kesetiaannya.

Lalu langit mulai mengirimkan pesan.

Hujan turun lebih deras.

Angin bertiup lebih keras.

Bumi berguncang lebih lama.

Karena alam telah terlalu lama memikul luka yang kita tinggalkan.

Padahal…

Setiap pagi,

matahari tetap setia menghangatkan.

Pepohonan tetap menghadiahkan oksigen,

bahkan kepada tangan yang melukai batangnya.

Tanah tetap menumbuhkan padi,

meski berkali-kali diinjak tanpa rasa syukur.

Laut tetap menghamparkan ikan,

meski berkali-kali dipenuhi plastik.

Beginilah cinta alam.

Ia terus memberi,

bahkan ketika tidak lagi dicintai.

Barangkali,

yang sedang sakit bukanlah bumi.

Yang sedang sakit

adalah hati manusia.

Hati yang terlalu sibuk membangun gedung,

tetapi lupa memelihara hutan.

Terlalu pandai menghitung keuntungan,

tetapi lupa menghitung kerusakan.

Terlalu fasih berbicara tentang kemajuan,

tetapi gagap ketika harus menjaga kehidupan.

Padahal Allah telah menitipkan bumi ini

bukan untuk kita kuasai.

Melainkan untuk kita rawat.

Bukan untuk kita habiskan.

Melainkan untuk kita wariskan.

Setiap daun yang bergoyang

bertasbih kepada Allah.

Setiap ombak yang berkejaran

bertahmid kepada-Nya.

Setiap gunung yang menjulang

bertakbir mengagungkan-Nya.

Dan setiap makhluk di bumi

bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Lalu mengapa hanya manusia

yang sering lupa ikut bertasbih bersama alam?

Rasanya,

Mencintai lingkungan

tidak harus dimulai dengan menanam seribu pohon.

Melainkan dimulai

ketika hati kembali hidup.

Ketika mata memandang sehelai daun

lalu melihat ayat-ayat Allah.

Ketika telinga mendengar desir angin

lalu merasakan tasbih seluruh alam.

Ketika kaki menginjak tanah

lalu sadar bahwa suatu hari

di tanah yang sama

kita pun akan kembali.

Jika kelak Allah bertanya,

“Bumi yang Aku titipkan kepadamu, bagaimana engkau menjaganya?”

Apa yang akan kita jawab?

Akankah kita berkata

bahwa kita terlalu sibuk mengejar dunia?

Ataukah kita mampu berkata,

“Ya Allah…

aku telah berusaha mencintai bumi-Mu,

karena aku mencintai-Mu.”

Maka hari ini,

sebelum matahari tenggelam,

marilah kita memulai kembali.

Menanam satu pohon.

Mengurangi satu sampah.

Menghemat setetes air.

Menjaga sepetak tanah.

Mengajarkan satu anak

untuk mencintai alam.

Karena barangkali,

bukan pohon itu yang paling membutuhkan kita.

Kitalah yang sesungguhnya membutuhkan pohon itu

untuk menjadi saksi,

bahwa kita pernah mencintai bumi

sebagai amanah dari Allah.

Dan ketika kelak kita dipanggil pulang,

semoga bumi yang pernah kita pijak ini

tidak menjadi saksi atas kerakusan kita.

Melainkan menjadi saksi

bahwa pernah ada seorang hamba

yang berjalan dengan lembut di atasnya,

menjaganya dengan penuh cinta,

dan mengembalikannya kepada generasi berikutnya

dalam keadaan yang lebih baik.

Karena mencintai bumi,

pada hakikatnya,

adalah salah satu cara

mencintai Penciptanya.

Jakarta, 31 Juli 2026