Duta Berita Nusantara | Jakarta
DEMOKRASI : SISTEM YANG HANYA MENDENGAR TERIAKAN YANG KUAT
Oleh :Didi Prayudi
(Jurnalis/Pegiat Kontrol Sosial)
Di negeri yang mengaku demokratis, buruh turun ke jalan menuntut kenaikan upah. Negara mendengar. Media meliput. Elit bereaksi.
Namun di sudut-sudut kota, di gang sempit, di rumah reyot, hidup rakyat miskin tua renta yang jangankan berdemo, berdiri lama pun tak mampu.
Pertanyaannya sederhana tapi mematikan bagi demokrasi:
Kemana mereka harus berdemo?
Demokrasi Mengukur Keadilan dengan Kekuatan
Demokrasi bekerja dengan satu prinsip tersembunyi:
siapa yang punya tekanan, dia yang diperhatikan.
Buruh diperhitungkan karena bisa mogok.
Pengusaha didengar karena punya modal.
Oligarki dilayani karena membiayai kekuasaan.
Lalu siapa yang membela:
Janda tua tanpa keluarga?
Lansia miskin yang tak produktif?
Orang sakit menahun yang tak punya nilai pasar?
Demokrasi tak punya jawaban.
Karena dalam demokrasi:
Hak berubah menjadi tuntutan
Keadilan berubah menjadi negosiasi
Negara berubah menjadi wasit konflik kepentingan, bukan pengurus rakyat
Yang tak bisa menekan, disingkirkan secara sistemik.
Kebohongan Besar Bernama “Kedaulatan Rakyat”
Demokrasi mengklaim kedaulatan di tangan rakyat.
Faktanya: kedaulatan ada di tangan yang bisa menguasai opini, modal, dan massa.
Rakyat lemah tidak pernah benar-benar berdaulat:
Mereka hanya dipanggil saat pemilu
Dijadikan angka legitimasi
Lalu dilupakan sampai lima tahun berikutnya
Bansos bukan keadilan.
Subsidi sesaat bukan solusi.
Itu hanya sedekah politik agar sistem tetap aman, bukan untuk mengangkat martabat manusia.
Islam: Keadilan Tanpa Menunggu Demo
Islam tidak menunggu teriakan untuk menunaikan hak.
Islam tidak mensyaratkan aliansi untuk mendapatkan keadilan.
Dalam Islam:
Negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu
Yang lemah didahulukan, bukan diseleksi
Hak hidup layak bukan hasil perjuangan, tapi kewajiban penguasa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
Artinya: Negara bukan pelayan kepentingan, tapi penanggung jawab nasib manusia.Demokrasi Tak Ramah terhadap Orang Lemah
Jika keadilan hanya datang setelah:
Demo
Tekanan
Kerusuhan
Ancaman instabilitas
Maka sistem itu secara otomatis menzalimi:
Orang tua
Orang sakit
Orang miskin yang tak bersuara
Demokrasi mungkin cocok untuk pasar.Demokrasi mungkin cocok untuk kompetisi.Tapi demokrasi gagal total dalam mengurus manusia.
Kesimpulan Ideologis
Masalah rakyat miskin tua renta bukan karena mereka pasrah.
Masalahnya adalah sistem yang hanya peka pada kekuatan, bukan kebutuhan.
Selama keadilan:
Bergantung pada suara terbanyak
Bergantung pada tekanan massa
Bergantung pada modal dan aliansi
Maka yang paling lemah akan selalu kalah, dan itu bukan kebetulan
itu konsekuensi ideologis.
Sistem yang membuat keadilan harus diperjuangkan dengan teriakan adalah sistem yang sejak awal menolak orang-orang yang tak mampu berteriak.Dan sistem seperti ini,tidak layak dipertahankan, apalagi disucikan.
Jangan diam. Suaramu bisa jadi pembela bagi yang tak mampu bersuara. Sebarkan seluas-luasnya.













