Scroll untuk baca artikel
Serba SerbiSerial cerita viral DBN

Merdeka Setinggi Galah

3
×

Merdeka Setinggi Galah

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara |  Palembang

Merdeka Setinggi Galah

Oleh: Shintalya Azis

Ada saatnya dimana kita mendadak menjadi sangat nasionalis. Merah putih bermunculan di mana-mana. Tiang-tiang dipasangi bendera. Gang dihias sedemikian rupa. Lapangan disulap menjadi arena pertandingan. Anak-anak, ibu-ibu,bapak-bapak, tua muda semua larut dalam sukaria berbagai lomba.

Semuanya meriah. Semuanya terlihat bebas merdeka. Lepas dari beban, tertawa lepas, tiada susah. Namun ternyata kemerdekaan rupanya memiliki banyak versi. Ada versi rakyat, dan ada juga kemerdekaan versi mereka yang memiliki jabatan dan akses tertentu.

Rakyat merayakan kemerdekaan dengan lomba makan kerupuk. Sementara sebagian dari mereka ada yang merayakannya dengan lomba konsumsi anggaran.

Rakyat berlomba memasukkan paku ke dalam botol. Sementara yang lain ada yang berlomba memasukkan sesuatu ke dalam proposal.

Rakyat memanjat pinang untuk mendapatkan hadiah. Sedangkan sebagian lainnya meminang untuk menjabat. Cukup duduk, tanda tangan dan telepon. Maka hadiah bisa datang sendiri.

Begitulah negeri ini kadang memperlihatkan wajahnya yang paling lucu sekaligus paling menyedihkan. Di bawah bendera yang sama, kita ternyata bisa hidup dalam tingkat kemerdekaan yang berbeda.

Rakyat bebas memilih lomba. Tetapi belum tentu bebas memilih nasibnya.

Rakyat bebas bersorak. Tetapi belum tentu bebas bertanya ke mana uang mereka pergi.

Rakyat bebas memasang bendera. Tetapi ketika bertanya terlalu banyak, bisa dianggap tidak tahu diri.

Maka jangan heran jika pesta rakyat menjadi sangat penting. Pesta membuat semua orang sibuk, bisa sejenak melupakan kepenatan.

Pada layar panggung semua orang bertepuk tangan sehingga kamera pun bisa bekerja membuat media sosial penuh ucapan: “Dirgahayu Republik Indonesia.

Sementara di layar lain, ada permainan yang tidak membutuhkan panggung. Cuma ada meja, kursi, dokumen, tanda tangan, dan percakapan yang volumenya sengaja dikecilkan atau memakai isyarat. Di sana, kepentingan bisa bertemu. Jatah bisa dibicarakan. Komitmen bisa dinegosiasikan, dan angka-angka bisa berubah menjadi begitu lentur.

Angka seratus bisa menjadi seratus lima puluh. Angka seribu bisa menjadi seribu lima ratus. Bukan karena matematika berubah, tapi konon katanya demi rakyat.

Demi rakyat, untuk rakyat.

Kalimat itu memang sangat ampuh. Dengan membawa nama rakyat, apa pun bisa terdengar mulia. Proyek bisa dibenarkan, sistem pengadaan bisa disiasati, anggaran bisa diperlebar. Bila diperlukan, data perjalanan bisa dipoles agar pertemuan bisa diperbanyak.

Ketika ada yang mempertanyakan, jawabannya sederhana:

“Ini semua untuk kepentingan rakyat.”

Rakyat akhirnya mendapat tempat diperjuangkan kepentingannya. Entah memang untuk kepentingan rakyat atau demi kepentingan “politik”.

Lalu kemudian ada anggaran yang menguap dan masuk ke rekening tertentu. Atau mungkin ada juga yang berpindah tangan dengan begitu halus hingga tidak seorang pun merasa sedang mengambil sesuatu.

Begitulah cara korupsi bekerja. Tidak selalu berbentuk sekarung uang. Kadang cukup mengenakan batik, berbicara dengan sopan dan tersenyum di depan kamera.

Yang lebih berbahaya bukan hanya orang yang mengambil. Tetapi orang-orang yang tahu, lalu memilih diam. Orang yang melihat, tetapi pura-pura tidak melihat.

Orang yang mendengar, tetapi mendadak tuli. Orang yang awalnya jijik, kemudian ikut menikmati.

Bisikan iblis yang lebih berbahaya daripada korupsi adalah saat mereka berkata: “Sudahlah. Semua juga begitu.”

Bila korupsi dianggap biasa, maka hati nurani mulai kehilangan pekerjaannya.

Merdeka ternyata bukan hanya perkara terbebas dari penjajahan. Justru yang terpenting sekarang adalah lepas dari belenggu mentalitas yang menjadikan jabatan sebagai ladang keuntungan.

Sudahkah kita merdeka dari budaya titip-menitip? Dari kolusi? Dari nepotisme?

Dari amplop yang berpindah tangan sambil tersenyum? Dari proyek yang sudah “ada yang punya” sebelum proses dimulai?

Dari keputusan yang katanya objektif, tetapi anehnya selalu menguntungkan orang yang sama?

Tidak ada gunanya berteriak paling keras tentang kemerdekaan, jika kita masih membiarkan sebagian kecil orang memperlakukan uang rakyat seperti uang warisan keluarga.

Tidak ada gunanya memasang bendera setinggi-tingginya jika integritas kita justru diremehkan serendah-rendahnya.

Tidak ada gunanya menghias jalan dengan merah putih jika jalan menuju keadilan masih dipenuhi kompromi seperti pada masa penjajahan.

Maka, mungkin tahun ini kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya siapa yang memenangkan lomba panjat pinang. Karena ada pertanyaan yang jauh lebih penting, yaitu siapa sebenarnya yang sedang memanjat?

Rakyat yang memanjat untuk mendapatkan hadiah sebungkus sembako, atau kaum elite yang memanjat tangga kekuasaan untuk mendapatkan hadiah yang nilainya jauh lebih besar?

Bagaimanapun setinggi-tingginya pohon pinang yang dipanjat, tetap menuju puncak untuk meraih sang merah putih yang berkibar diujung galah.

Banuayu, 11 Agustus 2026

Penulis: Shintalya AzisEditor: Redaksi Dbn