Duta Berita Nusantara | Palembang
Oleh : Aethera Aditi
Lift itu berdenting, dan udara Madinah segera memelukku.
Di hadapan pintu 338, ubin-ubin menyimpan sejarah yang tak butuh saksi.
Aku tak punya sajak untuk Baginda Rasulullah, hanya bibir yang gemetar
mengeja sholawat, seolah napas adalah satu-satunya ibadah yang tersisa.
Burung-burung hinggap tanpa membawa cemas.
Kepada sayap mereka kutitipkan rindu yang sudah hapal arahnya,
bukan lewat puisi, tapi lewat degup yang kutinggalkan di pelataran ini.
Biarkan mereka menafsirkan sendiri apa yang tak sanggup kukatakan
pada kekasih yang diam di balik pintu itu.
Semoga waktu tak membiarkanku menjadi asing,
semoga Madinah tak benar-benar melepasku.
Biarkan detak ini tertinggal di sini,
biarkan harum kota ini melekat di saku baju,
sebagai janji bahwa waktu hanyalah jeda,
sebelum langkah ini dituntun kembali ke pelataran yang sama.













