Scroll untuk baca artikel
JakartaKontrol Sosial

DEMOKRASI : SISTEM YANG HANYA MENDENGAR TERIAKAN YANG KUAT

16
×

DEMOKRASI : SISTEM YANG HANYA MENDENGAR TERIAKAN YANG KUAT

Sebarkan artikel ini

Duta Berita Nusantara  | Jakarta

DEMOKRASI : SISTEM YANG HANYA MENDENGAR TERIAKAN YANG KUAT

Oleh :Didi Prayudi

(Jurnalis/Pegiat Kontrol Sosial)

Di negeri yang mengaku demokratis, buruh turun ke jalan menuntut kenaikan upah. Negara mendengar. Media meliput. Elit bereaksi.

Namun di sudut-sudut kota, di gang sempit, di rumah reyot, hidup rakyat miskin tua renta yang jangankan berdemo, berdiri lama pun tak mampu.

Pertanyaannya sederhana tapi mematikan bagi demokrasi:

Kemana mereka harus berdemo?

Demokrasi Mengukur Keadilan dengan Kekuatan

Demokrasi bekerja dengan satu prinsip tersembunyi:

siapa yang punya tekanan, dia yang diperhatikan.

Buruh diperhitungkan karena bisa mogok.

Pengusaha didengar karena punya modal.

Oligarki dilayani karena membiayai kekuasaan.

Lalu siapa yang membela:

Janda tua tanpa keluarga?

Lansia miskin yang tak produktif?

Orang sakit menahun yang tak punya nilai pasar?

Demokrasi tak punya jawaban.

Karena dalam demokrasi:

Hak berubah menjadi tuntutan

Keadilan berubah menjadi negosiasi

Negara berubah menjadi wasit konflik kepentingan, bukan pengurus rakyat

Yang tak bisa menekan, disingkirkan secara sistemik.

Kebohongan Besar Bernama “Kedaulatan Rakyat”

Demokrasi mengklaim kedaulatan di tangan rakyat.

Faktanya: kedaulatan ada di tangan yang bisa menguasai opini, modal, dan massa.

Rakyat lemah tidak pernah benar-benar berdaulat:

Mereka hanya dipanggil saat pemilu

Dijadikan angka legitimasi

Lalu dilupakan sampai lima tahun berikutnya

Bansos bukan keadilan.

Subsidi sesaat bukan solusi.

Itu hanya sedekah politik agar sistem tetap aman, bukan untuk mengangkat martabat manusia.

Islam: Keadilan Tanpa Menunggu Demo

Islam tidak menunggu teriakan untuk menunaikan hak.

Islam tidak mensyaratkan aliansi untuk mendapatkan keadilan.

Dalam Islam:

Negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu

Yang lemah didahulukan, bukan diseleksi

Hak hidup layak bukan hasil perjuangan, tapi kewajiban penguasa

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”

Artinya: Negara bukan pelayan kepentingan, tapi penanggung jawab nasib manusia.Demokrasi Tak Ramah terhadap Orang Lemah

Jika keadilan hanya datang setelah:

Demo

Tekanan

Kerusuhan

Ancaman instabilitas

Maka sistem itu secara otomatis menzalimi:

Orang tua

Orang sakit

Orang miskin yang tak bersuara

Demokrasi mungkin cocok untuk pasar.Demokrasi mungkin cocok untuk kompetisi.Tapi demokrasi gagal total dalam mengurus manusia.

Kesimpulan Ideologis

Masalah rakyat miskin tua renta bukan karena mereka pasrah.

Masalahnya adalah sistem yang hanya peka pada kekuatan, bukan kebutuhan.

Selama keadilan:

Bergantung pada suara terbanyak

Bergantung pada tekanan massa

Bergantung pada modal dan aliansi

Maka yang paling lemah akan selalu kalah, dan itu bukan kebetulan

itu konsekuensi ideologis.

Sistem yang membuat keadilan harus diperjuangkan dengan teriakan adalah sistem yang sejak awal menolak orang-orang yang tak mampu berteriak.Dan sistem seperti ini,tidak layak dipertahankan, apalagi disucikan.

Jangan diam. Suaramu bisa jadi pembela bagi yang tak mampu bersuara. Sebarkan seluas-luasnya.