Duta Berita Nusantara | Jakarta
DI DALAM KANDANG, DI LUAR NURANI
“Ketika jatah pakan dipangkas dan LPJ direkayasa, di manakah letak nurani manusia dihadapan makhluk yang tak punya majelis hakim?”
Oleh : Aethera Aditi
Dari sudut kandangnya yang sempit, sang Gajah menatap Harimau yang terbaring membisu di seberang. Tulang-tulang rusuk kucing besar itu menembus kulit yang kian kendor, seolah tiap tarikan napasnya adalah usaha berat mempertahankan hidup.
“Mengapa tempat pakannmu kosong lagi hari ini?” bisik sang Gajah dalam belalai dan desah napasnya yang berat.
Sang Harimau hanya mampu mengedipkan mata, lambat dan redup. “Manusia bilang kertas mereka sedang bermasalah,” sahutnya dalam rintihan pelan yang tak dipahami siapa pun di luar jeruji. “Tapi perutku tidak kenal kertas.”
Mereka tidak sedang sakit karena usia tua; mereka dan satwa-satwa di kebun binatang itu sedang sekarat karena lapar. Dan mereka tidak bisa memprotes. Mereka tak punya majelis hakim, tak punya penasihat hukum, tak punya bahasa untuk berteriak bahwa jatah daging dan pakan mereka telah dirampok.
Di luar kandang, di dalam ruangan berpendingin udara yang harum, seorang pejabat memegang pena.
Nama tersangka itu Choirul Anwar (CA), mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD TS KBS). Dalam kurun waktu 2016 hingga 2024, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menemukan dugaan penyalahgunaan anggaran sebesar Rp10,2 miliar, di mana Rp7,4 miliar di antaranya ditengarai mengalir murni untuk kepentingan pribadi.
Modusnya begitu dingin dan terstruktur: jatah pakan satwa dipangkas habis-habisan, sementara Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) disulap seolah-olah seluruh hewan kenyang dan terawat.
Kelicikan ini kian mulus karena sang pejabat merangkap tiga jabatan strategis sekaligus Direktur Utama, Direktur Operasional, sekaligus Direktur Keuangan. Sebuah karpet merah bagi conflict of interest di mana pengawas, pembuat kebijakan, dan pemegang dompet adalah orang yang sama.
Membaca berita ini melahirkan sebuah luapan amarah yang liar di kepala: Mengapa tidak sekalian saja para koruptor itu dilempar ke dalam kandang? Biarkan mereka merasakan menjadi pakan bagi satwa-satwa kurus yang jatah hidupnya telah mereka curi.
Tentu saja, itu adalah sebuah satire yang lahir dari kejengkelan moral.
Namun di situlah letak pertanyaan radikalnya: Siapa sebenarnya yang lebih buas dan pantas berada di balik jeruji besi? Mengapa hukum manusia kerap lebih ramah pada koruptor daripada pada makhluk tak berdosa yang mereka peras jatah hidupnya?
Di alam liar, rimba memang keras. Binatang berburu dan membunuh, tetapi mereka melakukannya semata-mata demi bertahan hidup secukupnya. Pemangsa di hutan tidak pernah membunuh melebihi apa yang sanggup dicerna oleh perutnya hari itu.
Namun manusia, di balik meja birokrasi dan seragam dinasnya, membunuh secara perlahan dan kolektif membuat puluhan satwa kelaparan, sakit, hingga padam dalam bisu demi menumpuk rupiah yang bahkan tak akan habis dimakan tujuh turunan.
Sejarah pernah mencatat standar nurani kepemimpinan yang amat tinggi. Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah berucap dengan gemetar:
“Seandainya seekor keledai terperosok di tepi Sungai Eufrat (Irak), aku takut Allah akan menuntutku di hari kiamat dan bertanya: ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'”
Sayyidina Umar mengajarkan bahwa akuntabilitas seorang pemimpin tidak hanya diuji dari bagaimana ia melayani manusia, melainkan dari bagaimana ia menjamin keselamatan makhluk yang paling lemah dan tak bersuara di tanah kekuasaannya.
Sangat kontras ketika kita menyandingkan kecemasan Umar dengan tindakan manipulasi LPJ pakan satwa di masa kini.
Korupsi pada akhirnya bukan sekadar angka-angka dingin di atas kertas laporan keuangan. Ia adalah proses pemutusan rasa empati. Ketika kekuasaan dimonopoli tanpa pengawas, nurani manusia ikut terkikis habis. Administrasi dijadikan perisai untuk melegalkan kebuasan.
Satwa-satwa itu mungkin terus bertahan dengan tubuh yang kian mengering. Namun sejatinya, kematian paling mengerikan telah terjadi lebih dulu di luar kandang: kematian rasa malu dan kelumpuhan nurani manusia yang merasa berhak memangsa apa saja, bahkan jatah makan makhluk yang tak mampu melawan.
Refrensi:
Kisah Umar bin Khattab ra.: Diriwayatkan oleh Ibn Sa’ad dalam kitab Thabaqat al-Kubra (Vol. 3, hlm. 305) dan Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’. Dikutip pula dalam biografi historis Umar bin Khattab: His Life and Times oleh Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi.













